Kabar JakartaNews With Data

Muazin Dicap Gila

Fenomena Supermoon

  • Rubrik : Citizen Report
  • Penulis : M. Dahlan Abubakar
  • Terbit : Terbit 31/1/18
Muazin Dicap Gila
[Foto: Imran Arief / Kabar Makasssar]

KabarMakassar.com --- Rabu (31/1) malam bertepatan dengan gerhana bulan Super Blue Blood Moon, saya mengikuti acara takziah atas meninggalnya istri anggota jamaah Masjid Amirul Mukminin Kompleks Unhas Bangkala, Kecamatan Manggala Makassar berlokasi di Jalan Komunikasi 1.

Saya baru tiba di lokasi takziah setelah penceramah sudah memulai berbicara.

Pasalnya, saya menyempatkan diri mengabadikan gerhana bulan langka itu di lantai II rumah mempergunakan kamera telelens 70-300 mm. 

Penceramah yang saya lupa tanyakan namanya (itulah risiko terlambat tiba di TKP) bercerita tentang proses kelahiran manusia.

Mulai dari setitik zat.. hingga segumpal darah bla…bla.. Sampailah kepada persoalan kelahiran manusia.

Dia mengatakan, setiap bayi yang baru lahir pasti dibarengi plasenta yang kemudian – menurut tradisi Bugis-Makassar – dimasukkan ke periuk tanah dan ditutup lalu dikuburkan di depan rumah.

‘’Penguburan’’ plasenta ini agar tidak digasak hewan pemakan daging jika dibuang di sembarang tempat.

Dia mengkritik perilaku mengarah ke syirik yang masih kerap terjadi di tengah masyarakat kita.

Katanya, kalau si anak selagi masih bayi sakit perut, selalu dikaitkan dengan ‘saudara’-nya yang dikuburkan di depan rumah itu.

Buntutnya, keluarga di suruh ke kedai untuk membeli lilin merah yang kemudian dinyalakan dan ditegakkan di atas ‘kuburan’ plasenta.

Tidak hanya itu, sang pemilik rumah kerap juga berdoa macam-macam di dekat lilin itu. Ini tidak dibenarkan.

Panjang kisah sang pembawa ceramah. Sebab dia menghabiskan waktu satu jam kehadiran saya. Jika dia mulai sebelum saya tiba di TKP, jelas lebih 10-15 menit dari satu jam itu.

Penceramah melompat ke cerita yang lain. Kata dia, di sebuah villa, pada hari Ahad bertamu sejumlah pengunjung.

Mereka berasal dari beragam profesi dan kualifikasi jabatan. Ada pejabat dan karyawan laki dan perempuan.

Tiba-tiba saja muazin (juru azan) menuju masjid di villa itu. Penceramah menyebut namanya, tetapi saya mengatakan saja Pak Budi. Lokasi villa itu juga tidak disebutkan keberadaannya.

Lonceng baru menunjukkan beberapa menit menjelang pukul 09.00, ketika Pak Budi tiba di depan dan membuka grendel pintu masjid.

Dia kemudian mengunci pintu pagar dari dalam. Kakinya pun melangkah ke pintu, membuku kuncinya. Dia mengunci pintu dari dalam. Tentu pembaca pasti merasa aneh dengan kelakuan Pak Budi ini. 

Langkah kakinya lurus menuju mimbar. ‘’Kreeek’’ terdengar tombol on-off pelantang masjid dia hidupkan. Mulailah dia melantunkan azan, bertepatan loncengnya menunjuk pukul 09.00.

Warga kompleks Villa yang mendengar azan masih pagi itu terhentak kaget plus heran. Sejumlah anak kecil dikirim ke masjid untuk mengecek. Mereka terhalang di pintu pagar masjid yang terkunci.

Melihat anak-anak tidak bisa tembus masuk ke halaman masjid, sejumlah orang dewasa pun segera merubung masjid bersamaan dengan usainya lantunan azan.

Takut ada apa-apa dan mengetahui mengapa ada ‘’orang gila’’ yang masjid masjid dan melantunkan azan. ‘’He…he… apakah kau sudah gila ya.

Masa pukul 09.00 sudah melantunkan azan, ‘’ teriak sejumlah orang dari luar pagar masjid bertepatan Pak Budi nongol setelah membuka pintu masjid.

‘’Apakah kau sudah gila…?,’’ mereka mengulang hujatannya. Pak Budi tenang saja membiarkan mereka yang di luar pagar bertindak ‘’anarkis’’ secara verbal terhadap dirinya.

Akhirnya, mereka terdiam. Pak Budi ambilalih ‘’berteriak’’. ‘’Kalian yang gila!!!!!

Waktu azan tadi subuh tadi tidak seorang pun dari kalian muncul di sini, justru ramai-ramai protes pada saat azan dilantunkan pukul 09.00,’’ kata Pak Budi -- yang menurut penceramah – merangkap sebagai muazin, tukang ikamat, plus imam dan juga makmum tersebut. (*)