KabarJakarta.com — Koperasi memiliki peluang untuk tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang lebih besar jika mampu membangun jejaring, memperluas pasar, dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak. Tantangannya bukan sekadar mendirikan organisasi, melainkan memastikan usaha berjalan profesional, produk diminati konsumen, dan manfaat ekonominya dirasakan anggota.
Semangat itulah yang diangkat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Cooperative Open Innovation Network (COIN) 2026. Mengusung tema Connect. Collaborate. Grow, kegiatan yang berlangsung pada 27–29 Oktober 2026 di Blok M Hub, Melawai, Jakarta Selatan, itu mendorong koperasi untuk memperkuat koneksi, membuka peluang kolaborasi, dan mengembangkan usaha agar lebih kompetitif.
Melalui pameran produk dan business matching, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta berupaya mempertemukan koperasi dengan calon mitra usaha dan kebutuhan pasar. Pertemuan itu diharapkan tidak berhenti pada pertukaran kontak, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang menghasilkan transaksi, memperluas distribusi, dan membuka peluang usaha baru.
Langkah tersebut penting karena produk yang berkualitas belum tentu mudah menembus pasar. Koperasi juga membutuhkan akses terhadap jaringan pemasaran, pembiayaan, teknologi, serta mitra yang dapat membantu meningkatkan kapasitas produksi. Dengan mempertemukan pelaku koperasi dan dunia usaha, COIN 2026 berupaya menjembatani kebutuhan tersebut.
Upaya tersebut sekaligus mendukung implementasi Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2022 dan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI). Penguatan koperasi perlu berjalan seiring dengan peningkatan penggunaan produk dalam negeri.
Semakin luas pasar bagi produk koperasi, semakin besar pula peluang usaha lokal untuk berkembang, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.
Koperasi dan masa depan Jakarta
Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo menjelaskan, semangat Sumpah Pemuda mengajarkan pentingnya persatuan dan kerja bersama untuk mencapai kemajuan. Nilai tersebut, menurut dia, relevan bagi pengembangan koperasi yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
"Semangat ini sangat relevan dalam menyongsong 500 tahun Kota Jakarta. Koperasi harus jadi bagian dari perjalanan Jakarta menuju kota global yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing," ujar Ratu, Selasa (27/10).
Jakarta yang berkembang sebagai kota global tidak cukup hanya mengandalkan investasi besar dan sektor usaha modern. Pertumbuhan ekonomi juga perlu membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat, memperoleh penghasilan, dan mengembangkan usaha.
Dalam konteks ini, koperasi dapat menjadi penghubung antara pelaku usaha kecil, produsen lokal, pekerja, dan konsumen. Melalui usaha bersama, anggota memiliki kesempatan untuk memperkuat posisi tawar, berbagi sumber daya, serta menjangkau pasar yang sebelumnya sulit diakses secara individual.
Ratu menjelaskan, koperasi dapat berkontribusi melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan ekonomi masyarakat, pengembangan produk lokal, dan keterlibatan dalam rantai pasok kota. Dengan demikian, keberadaan koperasi perlu dilihat sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi Jakarta, bukan sekadar organisasi yang memenuhi persyaratan administratif.
Namun, kontribusi tersebut tidak muncul dengan sendirinya. Koperasi harus memiliki kegiatan usaha yang jelas, tata kelola yang baik, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan konsumen.
Menurut Ratu, penandatanganan akta pendirian merupakan langkah awal yang penting dalam membangun kelembagaan koperasi. Akan tetapi, legalitas saja tidak menjamin usaha dapat bertahan.
Setelah berdiri, koperasi perlu menjalankan kegiatan ekonomi secara nyata, mengelola keuangan secara bertanggung jawab, dan memastikan anggotanya memperoleh manfaat.
Karena itu, ia berharap Jakarta memiliki Peraturan Gubernur tentang Perkoperasian yang dapat menjadi landasan lebih komprehensif bagi pembinaan, pemberdayaan, dan pengembangan sumber daya koperasi.
Regulasi tersebut diharapkan turut memperjelas arah pembinaan sekaligus memperkuat dukungan bagi koperasi dalam menghadapi tantangan usaha. Dengan kebijakan yang terarah, program pemerintah dapat disusun lebih berkelanjutan dan disesuaikan dengan kebutuhan koperasi yang beragam.
Mendekatkan koperasi dengan generasi muda
Pengembangan koperasi juga membutuhkan keterlibatan generasi muda, termasuk Gen Z. Kelompok ini memiliki peluang untuk membawa gagasan baru dalam pengembangan produk, pemasaran digital, dan pemanfaatan teknologi.
Koperasi harus hadir sebagai pilihan yang relevan bagi anak muda untuk berwirausaha dan mengembangkan kreativitas. Melalui usaha bersama, mereka dapat menggabungkan keterampilan, memperluas jaringan, serta membagi sumber daya dan risiko usaha secara lebih terorganisasi.
Ratu juga mendorong pengembangan koperasi multipihak yang memungkinkan produsen, pekerja, konsumen, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lain terlibat sesuai kebutuhan. Model ini membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dibandingkan pendekatan yang hanya berfokus pada satu kelompok.
Untuk mewujudkannya, penguatan koperasi tidak bisa dibebankan hanya kepada Dinas PPKUKM. Dukungan perangkat daerah, BUMN dan BUMD, pusat-pusat koperasi, Dekopinwil, Kadin, lembaga pendidikan, lembaga pembiayaan, dunia usaha, serta masyarakat diperlukan agar koperasi memperoleh akses terhadap pendampingan, permodalan, dan pasar.
Peran tersebut juga perlu tercermin dalam agenda pembangunan dan evaluasi daerah. Indikator koperasi tercantum dalam sejumlah penilaian, seperti Kota/Kabupaten Sehat, Lomba Lurah Berprestasi, Lomba Gerakan PKK, dan Indeks Keuangan Evaluasi Daerah (IKAD).
Meski demikian, pencantuman indikator tidak boleh menjadi tujuan akhir. Keberadaan koperasi perlu dibuktikan melalui kegiatan usaha yang berjalan, partisipasi anggota, manfaat ekonomi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Di sinilah COIN 2026 memiliki arti penting. Pameran dan business matching seharusnya menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang berlanjut setelah acara selesai. Koperasi perlu memperoleh mitra, meningkatkan kualitas produk, memperbaiki tata kelola, dan memenuhi standar pasar.
"Keberhasilan COIN diukur bukan hanya dari terselenggaranya acara, namun dari kerja sama dan manfaat yang berlanjut pascakegiatan ini,” ungkap Ratu.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan koperasi tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau kemeriahan acara. Ukuran yang lebih penting di antaranya lahirnya kemitraan, terbukanya pasar, meningkatnya kapasitas usaha, dan bertambahnya manfaat bagi anggota.
Jika kolaborasi itu bisa dipertahankan, COIN 2026 berpeluang menjadi langkah awal bagi koperasi Jakarta untuk tumbuh lebih profesional dan berdaya saing. Koperasi yang kuat bukan hanya menguntungkan anggotanya, tetapi juga membantu membangun Jakarta yang lebih inklusif dan memberikan ruang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.