Langsung ke konten
Ekonomi Bisnis

Dari Pelatihan Gratis hingga Peluang Usaha, PPKD Jakarta Bekali Warga dengan Keterampilan Kerja

Redaksi Diperbarui
Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Utara meluncurkan program pelatihan kolaboratif bertajuk Creative Financing di Gedung MCC–Depo LRT Jakarta, Jalan Raya Kelapa Nias, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading. Foto: PPKD Jakut.
Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Utara meluncurkan program pelatihan kolaboratif bertajuk Creative Financing di Gedung MCC–Depo LRT Jakarta, Jalan Raya Kelapa Nias, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading. Foto: PPKD Jakut.

KabarJakarta.com —  Di tengah persaingan mencari pekerjaan, keterampilan menjadi salah satu modal penting agar masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh penghasilan. Namun, akses terhadap pelatihan berkualitas tidak selalu mudah, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan biaya atau belum mempunyai pengalaman kerja.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya menjawab tantangan tersebut melalui program pelatihan kerja yang tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membuka jalan menuju pekerjaan dan usaha mandiri. Upaya itu dilakukan melalui pendekatan berbeda di Jakarta Utara dan Jakarta Timur.

Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Utara menghadirkan program Creative Financing dengan melibatkan badan usaha milik daerah (BUMD) dan lembaga nirlaba. Sementara itu, PPKD Jakarta Timur membekali warga dengan keterampilan perawatan kecantikan yang dapat digunakan untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri.

Kedua program tersebut memperlihatkan bagaimana pelatihan kerja dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan sekaligus memperluas pilihan penghidupan.

Kolaborasi untuk memperluas akses pelatihan

PPKD Jakarta Utara meluncurkan program Creative Financing di Gedung MCC–Depo LRT Jakarta, Jalan Raya Kelapa Nias, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Kamis (22/10).

Program ini menargetkan pembukaan 16 kelas dengan kapasitas total 320 peserta sepanjang 2026. Sebanyak 140 peserta mengikuti pelatihan pada tahap peluncuran, dengan materi yang terbagi dalam empat kejuruan, yakni Teknik Listrik Industri, Bahasa Inggris, perhotelan (hospitality), dan Data Management Staff.

Berbeda dari skema pelatihan yang sepenuhnya mengandalkan anggaran pemerintah daerah, Creative Financing melibatkan mitra untuk mendukung penyelenggaraan program. Skema tersebut diharapkan memperluas kesempatan masyarakat mengikuti pelatihan tanpa dipungut biaya.

Kepala PPKD Jakarta Utara Rusli Abidin menjelaskan, kolaborasi itu merupakan inovasi pembiayaan yang memungkinkan pelaksanaan pelatihan tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

"Melalui skema tersebut, pelaksanaan pelatihan tidak bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)," kata Rusli.

Dalam pelaksanaannya, PT LRT Jakarta mendukung pelatihan Teknik Listrik Industri, PT PAL Jaya mendukung kejuruan Bahasa Inggris, PT Pembangunan Jaya Ancol terlibat dalam pelatihan perhotelan, sedangkan Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) mendukung pelatihan Data Management Staff.

Keterlibatan mitra tersebut menjadi bagian penting dari upaya mendekatkan materi pelatihan dengan kebutuhan dunia kerja. Peserta tidak hanya diarahkan untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kompetensi yang dapat digunakan ketika melamar pekerjaan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi DKI Jakarta Syaripudin menjelaskan, program ini dirancang untuk menghubungkan pelatihan dengan peluang penempatan kerja.

"Kami berharap seluruh peserta bisa lulus uji kompetensi, dan memiliki keterampilan yang sesuai kebutuhan industri, sehingga peluang untuk bekerja semakin terbuka," ujarnya.

Pelatihan berlangsung selama 360 jam pelajaran atau sekitar 40 hari pelatihan intensif. Setelah itu, peserta menjalani uji kompetensi selama 2 (dua) hari untuk memperoleh sertifikasi sesuai standar yang berlaku.

Lulusan berpeluang bekerja di unit usaha BUMD DKI Jakarta maupun melalui jejaring industri mitra Yayasan GNI. Meski demikian, peluang tersebut tetap bergantung pada kompetensi peserta dan kebutuhan tenaga kerja yang tersedia.

Bagi Thoriq, 25 tahun, pelatihan Teknik Listrik Industri menjadi kesempatan untuk memperkuat kemampuan yang dibutuhkan di dunia kerja.

"Saya ingin menambah ilmu dan keterampilan di bidang listrik, karena peluangnya masih cukup terbuka. Harapannya setelah pelatihan ini, saya bisa lebih mudah mendapat pekerjaan," kata Thoriq.

Kepala Badan Pembinaan BUMD DKI Jakarta Syaefuloh Hidayat mengapresiasi kolaborasi tersebut dan meminta peserta memanfaatkan kesempatan yang tersedia.

"Pelatihan ini gratis dan memberi kesempatan bagi warga untuk meningkatkan keterampilan. Manfaatkan peluang ini sungguh-sungguh, untuk bekal meningkatkan taraf hidup dan daya saing," ujarnya.

Program Creative Financing juga direncanakan berlanjut hingga 2027. Keberlanjutan tersebut diharapkan dapat memperluas akses pelatihan bagi masyarakat yang membutuhkan bekal keterampilan untuk memasuki pasar kerja.

Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Timur terus mendorong peningkatan keterampilan masyarakat melalui pelatihan perawatan kecantikan. Foto: PPKD Jaktim

Dari keterampilan kecantikan menuju usaha mandiri

Jalan menuju penghidupan yang lebih baik tidak selalu harus dimulai dengan melamar pekerjaan. Bagi sebagian orang, menguasai keterampilan tertentu justru menjadi langkah awal untuk membangun usaha sendiri.

Pilihan itu terlihat dalam pelatihan perawatan kecantikan yang diselenggarakan PPKD Jakarta Timur. Sebanyak 20 peserta, yang mayoritas masih pemula, mengikuti pelatihan angkatan kedua selama 45 hari kerja.

Pelatihan tersebut mencakup berbagai keterampilan, mulai dari perawatan wajah atau facial, pelurusan dan pewarnaan rambut, smoothing, penataan rambut, potong rambut, hingga tata rias atau makeup dasar.

Kasatlak Pengendalian dan Pemasaran PPKD Jakarta Timur Linda Apriantini menjelaskan, materi pelatihan dirancang untuk memberikan pengetahuan yang luas mengenai perawatan kecantikan.

"Materi yang diberikan terkait perawatan kecantikan itu cukup banyak. Lebih kepada perawatan kecantikan dengan materi yang cukup global. Dari ujung rambut hingga ujung kaki," tutur Linda, Kamis (22/10).

Pelatihan angkatan kedua dimulai pada pertengahan September dan ditargetkan selesai pada awal November 2026. Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta berkesempatan memperoleh sertifikat dari PPKD Jakarta Timur.

Mereka juga dapat memperoleh sertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) setelah mengikuti dan lulus uji kompetensi yang direncanakan berlangsung pada November.

Bagi Shafa Aulia Rahma, 21 tahun, pelatihan tersebut merupakan kesempatan untuk mengembangkan minat sekaligus mempersiapkan langkah menuju usaha mandiri.

"Saya rasa bidang ini punya peluang yang menjanjikan, karena keterampilannya banyak dibutuhkan masyarakat. Saya juga merasa, di sini passion saya," ujar Shafa.

Ia mengaku mendapatkan materi yang sesuai dengan minatnya. Selain keterampilan teknis, peserta juga belajar kewirausahaan dan manajemen keuangan, bekal yang diperlukan untuk mengelola usaha secara lebih terencana.

Shafa berencana membuka salon kecantikan di rumahnya di kawasan Pekayon setelah menyelesaikan pelatihan. Rencana tersebut menunjukkan bahwa keterampilan yang diperoleh tidak semata-mata ditujukan untuk mencari pekerjaan di salon atau industri kecantikan, tetapi juga dapat menjadi modal membangun sumber penghasilan sendiri.

Mengukur keberhasilan dari peluang setelah pelatihan

Program di Jakarta Utara dan Jakarta Timur memiliki pendekatan berbeda, tetapi mengarah pada tujuan yang sama: membantu masyarakat memperoleh keterampilan yang dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup.

Di Jakarta Utara, kolaborasi dengan BUMD dan lembaga nirlaba menjadi cara memperluas pembiayaan sekaligus membuka kemungkinan hubungan antara pelatihan dan kebutuhan industri. Di Jakarta Timur, pelatihan kecantikan memberi peserta keterampilan praktis yang dapat diterapkan untuk bekerja maupun merintis usaha.

Namun, keberhasilan pelatihan tidak cukup diukur dari jumlah kelas, peserta, atau sertifikat yang diterbitkan. Dampak yang lebih penting adalah sejauh mana lulusan memperoleh pekerjaan, mampu mempertahankan penghasilan, atau benar-benar menjalankan usaha setelah pelatihan berakhir.

Karena itu, tindak lanjut berupa pendampingan, informasi lowongan, akses ke jejaring industri, dan dukungan bagi peserta yang ingin berwirausaha akan menentukan manfaat jangka panjang program tersebut.

Bagi peserta seperti Thoriq dan Shafa, pelatihan menjadi titik awal untuk mengejar tujuan masing-masing. Thoriq berharap keterampilan kelistrikan membantunya memperoleh pekerjaan, sedangkan Shafa menyiapkan diri untuk membuka salon kecantikan.

Keduanya menghadapi tantangan yang berbeda, tetapi memiliki kebutuhan serupa: keterampilan yang relevan dan kesempatan untuk menggunakannya. Pelatihan kerja akan benar-benar berarti, ketika pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas berubah menjadi pekerjaan, usaha, dan penghasilan yang lebih berkelanjutan.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua