KabarJakarta.com — Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif semakin menunjukkan peran penting dalam menggerakkan perekonomian DKI Jakarta. Berbagai kegiatan berskala nasional dan internasional tidak hanya memperkuat daya tarik ibu kota sebagai destinasi wisata dan pusat hiburan, tetapi juga menciptakan perputaran uang, membuka peluang usaha, serta mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai dampak tersebut tidak terjadi begitu saja. Pengelolaan agenda kegiatan, keterbukaan tata kelola, serta kemampuan memanfaatkan momentum menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan, pemerintah daerah berupaya menciptakan iklim penyelenggaraan kegiatan yang lebih terbuka dan transparan. Dengan demikian, Jakarta memiliki ruang lebih besar untuk menarik berbagai acara yang mampu mendatangkan pengunjung sekaligus menggerakkan perekonomian.
"Jakarta sekarang ini, kunjungan wisata dan ekonomi kreatifnya memberi dampak bagi Jakarta luar biasa. Karena memang kita buat lebih terbuka, transparan, dan momentumnya itu dimanajemen secara baik," ujar Pramono saat menghadiri kegiatan NHI Family Fun Walk dan Charity di Kementerian Pariwisata, Minggu (8/11).
Salah satu gambaran nyata kontribusi tersebut terlihat dari penyelenggaraan Jakarta Running Festival (JRF). Ajang olahraga ini diikuti sekitar 37.000 peserta. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 peserta berasal dari 58 negara.
Pramono menyebut, penyelenggaraan JRF tahun ini menghasilkan perputaran ekonomi hingga Rp175 miliar. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan olahraga dapat memberikan manfaat ekonomi yang melampaui aktivitas perlombaan itu sendiri.
Kehadiran ribuan peserta dan pengunjung berpotensi menggerakkan berbagai sektor pendukung, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dampak serupa juga diharapkan muncul dari berbagai acara berskala nasional dan internasional lainnya, termasuk konser musisi papan atas. Kehadiran penonton dari luar Jakarta maupun mancanegara menciptakan aktivitas ekonomi di berbagai titik kota.
Pola itu sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat penyelenggaraan kegiatan atau epicentrum of event. Pemerintah daerah berupaya menjaga momentum tersebut agar kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif tidak hanya menjadi agenda sesaat, tetapi berkembang menjadi penggerak ekonomi yang berkelanjutan.
"Jakarta telah menjadi hub baru, menjadi apa yang disebut sebagai episentrum of event," kata Pramono.
Transportasi menjadi Penopang
Namun, keberhasilan penyelenggaraan acara berskala besar tidak cukup hanya mengandalkan promosi dan ketersediaan lokasi. Kemudahan akses menuju tempat kegiatan juga menjadi faktor penting untuk menarik pengunjung.
Dalam konteks ini, integrasi transportasi menjadi salah satu penopang pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif Jakarta.
Pemprov DKI memperluas layanan Transjabodetabek untuk menghubungkan Jakarta dengan sejumlah wilayah penyangga. Rute yang dikembangkan antara lain menghubungkan Bogor, Karawang, Bekasi, Tangerang, dan Tangerang Selatan dengan Blok M. Layanan juga menjangkau sejumlah kawasan lain, seperti Cawang dan Dukuh Atas.
Menurut Pramono, perluasan layanan tersebut memberikan kemudahan mobilitas masyarakat dari wilayah penyangga menuju Jakarta. Integrasi transportasi juga dinilai berkontribusi terhadap penurunan kemacetan.
Konektivitas itu penting karena kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif melibatkan pengunjung dengan latar belakang dan lokasi asal yang beragam. Akses transportasi yang semakin mudah dapat memperluas jangkauan pasar, baik bagi penyelenggara acara maupun pelaku usaha di sekitar lokasi kegiatan.
Selain itu, Pemprov DKI menyediakan fasilitas transportasi gratis bagi 21 golongan masyarakat yang memenuhi kriteria. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan transportasi publik.
Dengan demikian, pengembangan ekonomi berbasis acara tidak hanya berkaitan dengan banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak orang.
Pertumbuhan ekonomi melampaui nasional
Dampak aktivitas ekonomi tersebut berlangsung bersamaan dengan membaiknya sejumlah indikator perekonomian Jakarta.
Berdasarkan data yang disampaikan Pramono pada Jumat (6/11), ekonomi Jakarta pada kuartal III 2026 tumbuh sebesar 5,87 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,47 persen.
Pramono menilai capaian tersebut turut mencerminkan kontribusi kebijakan pengembangan Jakarta sebagai pusat penyelenggaraan berbagai kegiatan.
"Ini mencerminkan apa yang kami lakukan, dengan apa yang saya sebut epicenter of event itu. Dampaknya terlihat, terpotret dari apa yang dirilis oleh BPS," ujarnya.
Selain pertumbuhan ekonomi, Jakarta juga mencatatkan inflasi sebesar 2,52 persen. Angka tersebut menjadi yang terendah di wilayah Jawa-Bali.
Pemprov DKI mengaitkan terkendalinya inflasi dengan pemantauan dan pengawasan harga kebutuhan pokok, seperti beras, daging, cabai, dan sejumlah komoditas lainnya.
Pengendalian inflasi menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi perlu diimbangi dengan stabilitas harga. Tanpa pengendalian tersebut, peningkatan aktivitas ekonomi berisiko tidak sepenuhnya dirasakan masyarakat apabila harga kebutuhan sehari-hari terus meningkat.
Kesejahteraan masyarakat ikut membaik
Perbaikan ekonomi Jakarta juga tercermin dari indikator kesejahteraan masyarakat. Pemprov DKI mencatat jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 6.500 orang.
Pramono menilai penurunan tersebut merupakan perkembangan penting, terutama karena pengurangan jumlah penduduk miskin ekstrem membutuhkan upaya yang tidak sederhana.
Di sisi lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jakarta meningkat menjadi 85,88 dari sebelumnya 85,05. Kenaikan itu menunjukkan adanya perbaikan pada indikator pembangunan manusia yang mencakup dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan penurunan kemiskinan merupakan indikator yang berbeda. Ketiganya perlu dibaca secara bersamaan untuk melihat sejauh mana aktivitas ekonomi berdampak terhadap kehidupan masyarakat.
Tantangan berikutnya adalah memastikan geliat pariwisata dan ekonomi kreatif tidak hanya menghasilkan angka perputaran uang yang besar, tetapi juga memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan pelaku UMKM, serta mendorong pemerataan manfaat ekonomi.
Dengan dukungan transportasi terintegrasi, tata kelola yang transparan, dan agenda kegiatan yang dikelola secara konsisten, Jakarta memiliki peluang memperkuat posisinya sebagai pusat pariwisata dan ekonomi kreatif. Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata banyaknya acara yang digelar, melainkan seberapa jauh kegiatan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.