Langsung ke konten
Ekonomi Bisnis

Ekspor Jakarta Turun 3,95 Persen, Industri Pengolahan jadi Penekan Utama

Redaksi
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/1/2021). Foto: ANTARA
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/1/2021). Foto: ANTARA

KabarJakarta.com — Kinerja ekspor DKI Jakarta sepanjang Januari-September 2026 mengalami tekanan. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat nilai ekspor kumulatif selama 9 (sembilan) bulan pertama tahun ini mencapai 12,29 miliar dolar AS, turun 3,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi melemahnya ekspor nonmigas dari sektor industri pengolahan. Sektor yang menjadi penyumbang terbesar ekspor Jakarta itu mengalami penurunan nilai ekspor, sehingga memberikan kontribusi dominan terhadap kontraksi ekspor secara keseluruhan.

Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menjelaskan nilai ekspor nonmigas pada Januari-September 2026 mencapai 12,25 miliar dolar AS atau turun 4,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor migas tercatat sebesar 51,32 juta dolar AS, meningkat 93,15 persen.

"Nilai ekspor migas kita senilai 51,32 juta dolar AS, naik 93,15 persen. Kemudian nilai ekspor non-migas tercatat senilai 12,25 miliar dolar AS atau turun sebesar 4,15 persen," kata Kadarmanto di Jakarta, Senin (02/11).

Industri pengolahan tertekan

Berdasarkan subsektor, industri pengolahan menjadi faktor utama yang mendorong penurunan ekspor Jakarta. Nilai ekspor nonmigas dari sektor ini berkurang 412,83 juta dolar AS atau 3,35 persen dibandingkan Januari-September 2025.

Menurut Kadarmanto, industri pengolahan memiliki andil sebesar 96,77 persen terhadap penurunan nilai ekspor kumulatif Jakarta pada periode tersebut. Sejumlah komoditas dari sektor ini mengalami pelemahan. Ekspor logam mulia dan perhiasan permata turun 16,78 persen, sedangkan ekspor alas kaki terkoreksi 8,76 persen.

Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan ekspor Jakarta tidak hanya terjadi pada satu kelompok komoditas. Namun, data yang disampaikan BPS belum merinci faktor penyebab penurunan masing-masing komoditas, sehingga belum dapat dipastikan apakah pelemahan tersebut berkaitan dengan permintaan pasar, harga, atau faktor lainnya.

Ekspor pertanian turun, pertambangan meningkat

Tekanan ekspor juga terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. BPS mencatat nilai ekspor dari kelompok sektor tersebut turun 147,60 juta dolar AS atau 40,64 persen selama Januari-September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan itu memperlihatkan bahwa pelemahan ekspor Jakarta tidak hanya berasal dari industri pengolahan. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mengalami kontraksi cukup besar secara persentase.

Di tengah penurunan tersebut, ekspor hasil pertambangan dan lainnya justru mencatatkan pertumbuhan. Nilainya meningkat 30,49 juta dolar AS atau 30,53 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Meski tumbuh, kenaikan ekspor sektor pertambangan dan lainnya belum cukup untuk mengimbangi penurunan dari industri pengolahan serta pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Ekspor September merosot 20 persen

Tekanan ekspor Jakarta semakin terlihat pada September 2026. BPS mencatat nilai ekspor pada bulan tersebut mencapai 1,24 miliar dolar AS, turun 19,76 persen dibandingkan September 2025.

Penurunan tahunan ini terutama berasal dari ekspor nonmigas yang berkurang 305,69 juta dolar AS atau 19,73 persen. Sementara itu, ekspor migas turun 1,03 juta dolar AS atau 39,92 persen.

Salah satu komoditas yang mengalami penurunan tajam adalah logam mulia dan perhiasan permata. Nilai ekspor komoditas tersebut pada September 2026 turun 86,98 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.

Pelemahan pada komoditas tersebut sejalan dengan penurunan ekspor industri pengolahan yang tercatat sepanjang Januari-September 2026.

Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan ekspor Jakarta menghadapi tekanan, baik dalam perhitungan kumulatif maupun pada September 2026. Industri pengolahan menjadi penyumbang utama penurunan, sementara sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turut mengalami kontraksi.

Adapun peningkatan ekspor migas secara kumulatif serta pertumbuhan ekspor hasil pertambangan dan lainnya belum mampu menahan penurunan total ekspor Jakarta.

Data tersebut menjadi indikator penting untuk memantau perkembangan perdagangan luar negeri Jakarta pada sisa tahun 2026. Namun, penilaian lebih jauh mengenai penyebab pelemahan dan prospek pemulihan ekspor masih memerlukan informasi tambahan mengenai pasar tujuan, permintaan global, serta perkembangan harga komoditas.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua