KabarJakarta.com — Jakarta tidak lagi ingin dikenal sekadar sebagai kota transit sebelum wisatawan melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di Indonesia. Ibu kota yang tengah bertransformasi menjadi kota global itu berupaya menawarkan pengalaman wisata yang lebih beragam, mulai dari kekayaan sejarah dan budaya, kehidupan metropolitan, hingga wisata bahari dan industri pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions atau MICE).
Upaya tersebut dibawa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ke panggung internasional melalui partisipasi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta dalam pameran dagang pariwisata business-to-business (B2B), ITB Asia 2026. Kegiatan yang berlangsung di Marina Bay Sands Expo & Convention Centre, Singapura, pada 21–23 Oktober 2026 itu menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan potensi Jakarta sekaligus memperluas akses pelaku industri pariwisata lokal ke pasar internasional.
Bagi Jakarta, keikutsertaan dalam pameran ini bukan semata-mata soal memperkenalkan destinasi kepada dunia. Lebih dari itu, ajang tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan pelaku industri, membangun kemitraan bisnis, membuka peluang investasi, dan mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara.
Kepala Disparekraf Provinsi DKI Jakarta, Andhika Permata, menjelaskan penguatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi bagian penting dari transformasi Jakarta menuju kota global.
"Transformasi Jakarta sebagai kota global perlu didukung penguatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, selaku salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi kota,” ujarnya, Rabu (21/10).
Menurut Andhika, Jakarta mempunyai keunggulan sebagai kota metropolitan yang memadukan modernitas, kekayaan sejarah, keberagaman budaya, dan kreativitas masyarakat. Kombinasi tersebut menjadi modal untuk membangun ekosistem pariwisata yang kompetitif di tengah persaingan destinasi di kawasan Asia Tenggara.
Potensi itu dapat dikembangkan melalui beragam pengalaman wisata. Kawasan bersejarah, misalnya, menawarkan perjalanan untuk mengenal perkembangan Jakarta dari masa ke masa.
Sementara itu, pusat kuliner, pertunjukan seni, ruang kreatif, kawasan hiburan, dan destinasi pesisir memberikan pilihan aktivitas bagi wisatawan dengan minat berbeda.
Jakarta juga memiliki peluang melalui pengembangan wisata perkotaan dan industri MICE. Sebagai pusat kegiatan bisnis dan penyelenggaraan acara, kota ini berpotensi menarik wisatawan yang datang untuk kepentingan pekerjaan, konferensi, pameran, maupun perjalanan insentif.
Kunjungan tersebut dapat diperluas menjadi pengalaman wisata melalui paket perjalanan yang menghubungkan kegiatan bisnis dengan atraksi budaya, kuliner, dan rekreasi.
“Menyongsong 5 abad Jakarta, kami ingin menunjukkan perjalanan panjang kota ini merupakan fondasi untuk melangkah ke masa depan sebagai kota global yang kian kompetitif. Melalui pengembangan wisata perkotaan, wisata budaya, wisata bahari, termasuk penguatan industri MICE, Jakarta siap menyambut dunia,” terang Andhika.
Namun, potensi destinasi saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan pariwisata internasional. Diperlukan jaringan pemasaran yang kuat, produk wisata yang sesuai dengan kebutuhan pasar, serta kemitraan dengan agen perjalanan dan operator tur yang dapat memasukkan Jakarta ke dalam paket perjalanan mereka.
Di sinilah format B2B ITB Asia menjadi relevan. Pameran tersebut membuka ruang bagi pelaku industri untuk menjajaki kerja sama secara langsung dengan calon mitra, mendiskusikan produk wisata, serta mengembangkan peluang bisnis yang dapat ditindaklanjuti setelah acara berakhir.
Kepala Bidang Pemasaran dan Atraksi Disparekraf DKI Jakarta, Lucky Wulandari, menegaskan kehadiran Jakarta di Singapura diarahkan untuk membangun hubungan bisnis yang berkelanjutan, bukan sekadar meningkatkan eksposur promosi.
"Melalui kolaborasi bersamapara pelaku industri, kami berharap promosi ini bisa menghasilkan peluang bisnis yang konkret dan mendorong peningkatan kunjungan wisman ke Jakarta," katanya.
Untuk memperkuat upaya tersebut, Disparekraf DKI Jakarta hadir bersama 17 pelaku industri pariwisata yang mewakili beragam bidang usaha. Delegasi ini mencakup satu pelaku industri wellness, yakni Jakarta Wellness (Etnaprana); dua asosiasi, yaitu Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi DKI Jakarta serta Wellness & Healthcare Entrepreneur Association (WHEA); empat operator tur, yakni Universal Tour & Travel, Xpose Tour & Leisure Jakarta, Baltic Golf and Travel Specialist, dan Dwidaya Wisata Indonesia; serta dua Destination Management Company (DMC), yaitu Ina Leisure Indonesia Specialist DMC dan Marintur Indonesia.
Selain itu, tujuh hotel turut berpartisipasi, yakni Sari Pacific Jakarta, Autograph Collection; Pullman Jakarta Central Park; JS Luwansa Hotel & Convention Center Jakarta; ARTOTEL Group; DoubleTree by Hilton Jakarta Kemayoran; Fairmont Hotel Jakarta; dan Novotel Jakarta Pulomas. PT Taman Safari Indonesia dan PIK Tourism Board juga bergabung untuk memperkenalkan pilihan destinasi kepada calon mitra internasional.
Keterlibatan lintas sektor tersebut membuka peluang bagi penyusunan paket wisata terpadu. Operator tur dapat menjajaki kerja sama dengan hotel, pengelola destinasi, dan penyedia pengalaman wisata untuk menawarkan produk yang lebih lengkap kepada wisatawan.
Sementara itu, pelaku industri wellness dapat menjangkau pasar yang mencari pengalaman kebugaran dan kesehatan sebagai bagian dari perjalanan. Kolaborasi juga berpotensi memperluas manfaat ekonomi pariwisata kepada berbagai pelaku usaha, termasuk sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hiburan, dan ekonomi kreatif.
Meski demikian, keberhasilannya akan bergantung pada tindak lanjut setelah pameran, mulai dari realisasi kemitraan hingga pemasaran produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar sasaran.
Upaya memperluas akses pasar internasional tersebut turut didukung Direktorat Jenderal Imigrasi Republik Indonesia. Dukungan ini ditujukan untuk memberikan informasi keimigrasian yang jelas dan terkini sehingga calon wisatawan memperoleh pemahaman mengenai persyaratan perjalanan ke Indonesia, khususnya Jakarta.
Ketua Subkelompok Pemasaran Pariwisata Luar Negeri Disparekraf DKI Jakarta, Ervienia Oryza, menjelsakan partisipasi dalam ITB Asia 2026 merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat promosi internasional, memperluas kemitraan industri, serta meningkatkan posisi Jakarta sebagai destinasi wisata dan hub MICE di Asia Tenggara.
"Langkah ini jadi bagian dari perjalanan Jakarta menuju kota global, sekaligus menyongsong 5 abad Jakarta dengan semangat inovasi, kolaborasi, dan keterbukaan terhadap dunia,” ungkapnya.
Momentum menuju lima abad Jakarta menjadi kesempatan untuk mempertegas identitas kota di mata dunia. Tantangannya bukan hanya membuat Jakarta semakin dikenal, melainkan memastikan pengenalan tersebut berujung pada kerja sama bisnis, produk wisata yang semakin berkualitas, dan kunjungan wisatawan yang berkelanjutan.
Melalui ITB Asia 2026, Jakarta berupaya mempertemukan kekuatan sejarah, budaya, kreativitas, dan fasilitas metropolitan dengan kebutuhan pasar global. Jika promosi tersebut diikuti kemitraan yang nyata dan peningkatan kualitas layanan, Jakarta memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dari kota yang sekadar disinggahi menjadi destinasi yang sengaja dipilih wisatawan.