KabarJakarta.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menata kawasan perbelanjaan Pasar Baru, Jakarta Pusat, menjadi destinasi kuliner yang beroperasi selama 24 jam dengan konsep menyerupai Myeongdong di Korea Selatan. Penataan ini ditargetkan mulai pada 2027, setelah pembenahan kawasan Blok M, Jakarta Selatan, berjalan sesuai rencana.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengungkapkan, Pasar Baru akan menjadi salah satu kawasan yang dikembangkan dengan identitas tematik untuk memperkuat daya tarik Jakarta sebagai tujuan wisata. Pemerintah daerah ingin menghadirkan suasana yang berbeda di setiap kawasan, dengan mengadaptasi karakter sejumlah destinasi di Asia dan Eropa.
"Kalau Blok M sudah selesai. Harapannya di tahun 2027 kita akan start dengan Pasar Baru. Di Pasar Baru, bayangan saya, menjadi tempat kuliner 24 jam kayak Myeongdong. Jadi Pasar Baru nanti tipikalnya Korea. Kalau Blok M udahlah, agak Jepang-jepangan dikit enggak apa-apa," terang Pramono usai menghadiri penandatanganan kerja sama badan usaha milik daerah (BUMD), badan usaha milik negara (BUMN), dan perangkat daerah di Balai Kota Jakarta, Senin (13/10).
Rencana itu akan menempatkan Pasar Baru sebagai bagian dari upaya membangun kawasan wisata perkotaan yang tidak hanya mengandalkan kegiatan belanja pada siang hari, tetapi juga aktivitas kuliner pada malam hari.
Pasar Baru diarahkan sebagai pusat kuliner malam
Myeongdong dikenal sebagai salah satu kawasan belanja dan wisata di Seoul, Korea Selatan, yang memiliki beragam gerai ritel, jajanan jalanan, dan tempat makan. Aktivitas pengunjung yang berlangsung hingga malam hari menjadi salah satu daya tarik kawasan tersebut.
Pramono ingin menghadirkan karakter serupa di Pasar Baru, terutama melalui pengembangan wisata kuliner yang dapat dinikmati sepanjang hari. Dengan konsep operasional 24 jam, kawasan ini diharapkan memiliki aktivitas yang lebih panjang dibandingkan pola perdagangan yang hanya ramai pada jam-jam tertentu.
Namun, rencana tersebut masih berupa gambaran awal pemerintah daerah. Belum ada perincian mengenai jenis usaha yang akan diprioritaskan, mekanisme operasional 24 jam, maupun bentuk penataan ruang yang akan diterapkan.
Keberhasilan konsep ini nantinya tidak hanya bergantung pada tampilan kawasan yang menyerupai destinasi di Korea Selatan. Ketersediaan transportasi, keamanan pada malam hari, kebersihan, pengelolaan sampah, serta kenyamanan pejalan kaki juga menjadi faktor penting agar aktivitas pengunjung dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Pasar Baru sendiri memiliki sejarah panjang sebagai kawasan perdagangan di Jakarta. Karena itu, penataan perlu memperhitungkan keberadaan pedagang dan karakter kawasan yang sudah terbentuk agar pengembangan wisata tidak menghilangkan fungsi ekonominya.
Glodok dan Kota Tua miliki identitas berbeda
Setelah Pasar Baru, Pemprov DKI Jakarta juga merencanakan penataan kawasan Glodok dan Kota Tua. Kedua kawasan tersebut akan dikembangkan dengan identitas yang berbeda, menyesuaikan karakter sejarah dan budaya yang telah melekat.
Glodok, yang dikenal sebagai kawasan Pecinan Jakarta, akan diarahkan dengan nuansa China. Identitas tersebut dapat diperkuat melalui aktivitas perdagangan, kuliner, dan kekhasan budaya Tionghoa yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan kawasan tersebut.
"Baru nanti, kita akan ke Glodok, Kota Tua. Glodok sebagai pecinan. Sudahlah kalau Glodok, pecinan enggak perlu dijelaskan, pasti pecinan makanannya disana," ujar Pramono.
Sementara itu, Kota Tua akan dikembangkan dengan suasana yang mendekati Eropa. Pramono menyebut kawasan tersebut akan diarahkan untuk menyasar segmen pengunjung menengah atas atau middle-up, termasuk wisatawan dari Eropa.
"Kota Tua akan kita desain untuk middle-up. Mudah-mudahan turis yang datang dari Eropa, sehingga suasananya pun akan suasana yang mendekati Eropa-eropaan," katanya.
Rencana itu menunjukkan pendekatan penataan berbasis karakter kawasan. Alih-alih membuat seluruh pusat keramaian memiliki konsep seragam, pemerintah ingin memberikan identitas berbeda kepada masing-masing lokasi.
Meski demikian, identitas tematik itu perlu tetap berpijak pada sejarah dan karakter asli kawasan. Daya tarik wisata tidak cukup dibangun melalui dekorasi atau penampilan fisik, tetapi juga melalui kualitas ruang publik, aktivitas ekonomi lokal, dan pengalaman pengunjung.
Blok M jadi tahap awal penataan
Sebelum mengembangkan Pasar Baru, Glodok, dan Kota Tua, Pemprov DKI Jakarta bersama PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah mendorong revitalisasi Blok M, Jakarta Selatan. Kawasan ini diarahkan menjadi pusat aktivitas perkotaan yang menggabungkan transportasi, perdagangan, kuliner, gaya hidup, dan ruang publik.
Pemprov DKI Jakarta dan MRT Jakarta menargetkan revitalisasi total Blok M rampung pada 2029. Sementara itu, pembangunan kawasan multifungsi atau mixed-use ditargetkan selesai pada 2030.
Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat menjelaskan, penataan Blok M mencakup lima transformasi utama. Pertama, pembaruan terminal menjadi fasilitas yang modern dan terintegrasi. Kedua, pengembangan kawasan Blok M–ASEAN sebagai area multifungsi yang mudah diakses, inklusif, dan dinamis.
Ketiga, peningkatan aksesibilitas dan integrasi antarmoda serta antaraktivitas di kawasan tersebut. Keempat, pengembangan destinasi komersial melalui pilihan ritel, makanan dan minuman, serta kegiatan gaya hidup. Kelima, penyediaan ruang terbuka publik yang lebih hijau dan nyaman.
Penataan juga mempertimbangkan kondisi bangunan Blok M yang telah berusia 34 tahun. Revitalisasi diharapkan tidak hanya memperbarui tampilan fisik, tetapi juga meningkatkan fungsi kawasan sebagai tempat beraktivitas dan berpindah moda transportasi.
Bagi Jakarta, pembenahan Blok M menjadi tahap penting sebelum rencana penataan kawasan lain dilanjutkan. Integrasi transportasi dan ruang publik akan menentukan apakah pusat keramaian baru dapat dijangkau dengan mudah tanpa menambah ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Integrasi transportasi jadi tantangan
Pramono meyakini pengembangan sejumlah kawasan dengan identitas berbeda akan membuat Jakarta memiliki daya tarik tersendiri. Ia juga mengaitkan rencana tersebut dengan pengembangan MRT yang diharapkan menghubungkan kawasan-kawasan tematik itu.
"Saya yakin, pasti akan membuat Jakarta menjadi berbeda," ujar Pramono.
Jika terwujud, rangkaian kawasan tersebut akan menawarkan pengalaman wisata yang beragam, mulai dari kuliner malam ala Korea di Pasar Baru, suasana Pecinan di Glodok, hingga nuansa Eropa di Kota Tua. Blok M akan menjadi salah satu pusat aktivitas yang menggabungkan perdagangan dan transportasi.
Namun, rencana pengembangan itu masih membutuhkan tahapan perencanaan dan pelaksanaan yang jelas. Jadwal pembangunan, skema pembiayaan, keterlibatan pedagang, serta konektivitas antarkawasan akan menentukan seberapa jauh konsep tersebut dapat diwujudkan.
Tantangan lainnya, memastikan pengembangan kawasan tidak sekadar menciptakan destinasi baru, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan pelaku usaha yang telah lebih dahulu beraktivitas di sana.
Dengan target penataan Pasar Baru mulai 2027 dan revitalisasi total Blok M rampung pada 2029, Pemprov DKI Jakarta menghadapi pekerjaan besar untuk menyelaraskan pengembangan wisata, kegiatan ekonomi, pelestarian karakter kawasan, dan sistem transportasi. Keberhasilan program ini pada akhirnya akan ditentukan oleh kualitas pelaksanaan di lapangan, bukan semata-mata oleh kemiripan Jakarta dengan destinasi di negara lain.