Langsung ke konten
Ekonomi Bisnis

Kadin DKI Bidik Pasar Lebih Luas dari Platform Digital hingga Kemitraan Global bagi UMKM

Redaksi Diperbarui
Forum bertema "Pengusaha Kuat, Jakarta Pusat Hebat" dalam Musyawarah Kota (MUKOTA) VII KADIN Jakarta Pusat, Jakarta, Jumat (9/10/2026). Foto: Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta.
Forum bertema "Pengusaha Kuat, Jakarta Pusat Hebat" dalam Musyawarah Kota (MUKOTA) VII KADIN Jakarta Pusat, Jakarta, Jumat (9/10/2026). Foto: Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta.

KabarJakarta.com — Memperluas pasar masih menjadi tantangan bagi banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Keterbatasan jaringan pemasaran, modal, dan akses ke perusahaan besar membuat produk usaha kecil tidak selalu mampu menjangkau konsumen yang lebih luas. 

Padahal, kemitraan dengan perusahaan besar dan pemanfaatan teknologi digital dapat membuka jalan bagi UMKM untuk berkembang.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta mendorong kolaborasi antarpelaku usaha agar peluang pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati perusahaan berskala besar. 

Organisasi ini juga ingin memperkuat hubungan bisnis yang memungkinkan UMKM memperoleh akses pasar, masuk ke rantai pasok, dan membangun usaha secara berkelanjutan.

Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Diana Dewi menjelaskan, kolaborasi perlu menjadi bagian penting dalam pengembangan dunia usaha di Ibu Kota.

"Kolaborasi itu diharapkan bisa memperluas pasar, memperkuat rantai pasok, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang manfaatnya akan dirasakan lebih banyak pelaku usaha," kata Diana saat membuka Musyawarah Kota (MUKOTA) VII Kadin Jakarta Pusat di Jakarta, Jumat (9/10).

Menurut Diana, perusahaan besar perlu membuka lebih banyak ruang kemitraan bagi UMKM. Dengan begitu, usaha kecil tidak hanya mengandalkan penjualan langsung kepada konsumen, tetapi juga berpeluang menjadi pemasok barang dan jasa bagi perusahaan yang memiliki jaringan bisnis lebih luas.

Kemitraan UMKM bernilai ratusan miliar rupiah

Peluang tersebut memiliki landasan ekonomi yang nyata. Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah mencatat sebanyak 1.219 UMKM menjalin kemitraan dengan perusahaan besar sepanjang 2025, dengan nilai transaksi mencapai Rp177,1 miliar. Sementara itu, komitmen kemitraan dengan perusahaan yang berasal dari penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing mencapai Rp8,77 triliun.

Angka tersebut merupakan capaian nasional, bukan data khusus Kadin DKI Jakarta. Namun, data itu menunjukkan bahwa kemitraan antara usaha kecil dan perusahaan yang lebih besar dapat menghasilkan transaksi ekonomi dalam skala signifikan.

Bagi UMKM, kemitraan dapat membuka akses terhadap pembeli yang lebih stabil. Bagi perusahaan besar, kerja sama dengan pemasok lokal dapat memperluas pilihan mitra sekaligus memperkuat rantai pasok.

Meski demikian, jumlah kemitraan dan nilai transaksi belum sepenuhnya menggambarkan kualitas hubungan bisnis. Kemitraan yang berkelanjutan membutuhkan kepastian pesanan, standar kualitas, ketepatan pengiriman, serta kesepakatan pembayaran yang adil bagi kedua belah pihak.

Karena itu, tantangan Kadin bukan sekadar mempertemukan pengusaha, melainkan memastikan pertemuan tersebut menghasilkan kerja sama yang benar-benar berjalan.

Platform digital pertemukan UMKM dengan pasar

Selain membangun hubungan bisnis secara langsung, teknologi digital dapat membantu UMKM memperluas jangkauan pemasaran. Melalui platform digital, pelaku usaha dapat memperkenalkan produk, menjangkau calon pelanggan di luar wilayahnya, dan membangun hubungan dengan perusahaan yang membutuhkan barang atau jasa.

Potensi tersebut terlihat dari perkembangan PaDi UMKM, platform digital yang digunakan untuk mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli, termasuk perusahaan BUMN. Hingga kuartal III 2025, platform tersebut mencatat 143.136 penjual terdaftar dengan nilai transaksi mencapai Rp1,8 triliun.

Data itu memperlihatkan bahwa platform digital dapat berfungsi lebih dari sekadar tempat memajang produk. Jika terhubung dengan kebutuhan pengadaan perusahaan, platform tersebut berpotensi menjadi jalur bagi UMKM untuk memperoleh pesanan dan masuk ke ekosistem bisnis yang lebih besar.

Kementerian UMKM juga mencatat, kegiatan Inabuyer B2B2G Expo 2025 mempertemukan 832 UMKM dengan calon mitra melalui penjajakan bisnis atau business matching. Kegiatan tersebut menghasilkan transaksi senilai Rp7 miliar. 

Capaian ini memperlihatkan pentingnya mempertemukan penjual dengan pembeli yang memiliki kebutuhan konkret. Namun, masuk ke platform digital saja tidak otomatis mendatangkan penjualan. UMKM tetap perlu memperbaiki kualitas produk, pengelolaan stok, kemampuan memenuhi pesanan, dan pelayanan kepada pelanggan. 

Dalam kemitraan antarbisnis, kepastian pasokan dan standar produksi sering kali sama pentingnya dengan kemampuan memasarkan produk.

Diana menilai perkembangan teknologi memungkinkan terbangunnya hubungan bisnis yang lebih luas.

"Kemajuan teknologi dewasa saat ini, memungkinkan terciptanya kolaborasi antara perusahaan besar dengan UMKM," terangnya.

Karena itu, Kadin diharapkan dapat membantu pelaku usaha memanfaatkan teknologi sekaligus mempertemukan mereka dengan perusahaan yang membutuhkan produk atau jasa tertentu.

Membuka jaringan bisnis lintas negara

Peluang pasar bagi UMKM juga dapat berkembang melalui hubungan bisnis internasional. Diana menyampaikan bahwa Kadin DKI Jakarta terus membangun komunikasi dengan pengusaha dari berbagai negara untuk membuka kesempatan kemitraan.

Contoh konkret di tingkat nasional terlihat pada pertemuan Kadin Indonesia dengan delegasi Association of Guangdong–Indonesia for the Promotion of Trade dari China pada 5 Juni 2025. Pertemuan yang melibatkan 15 perwakilan tersebut membahas kerja sama dalam teknologi dan industri, optimalisasi rantai pasok dan konektivitas pasar, serta integrasi budaya dan tanggung jawab sosial.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak juga membahas peluang investasi langsung, pembentukan usaha patungan, dan distribusi produk ke pasar Indonesia. Salah satu gagasan yang dibicarakan adalah pengembangan platform digital lintas negara untuk memfasilitasi produk Indonesia dan China.

Contoh tersebut menunjukkan bagaimana jaringan organisasi bisnis dapat membuka komunikasi antara pengusaha dari dua negara. Bagi UMKM, hubungan semacam ini berpotensi menjadi pintu masuk untuk mengenali calon pembeli, memahami kebutuhan pasar, dan menjajaki kerja sama dengan mitra asing.

Meski begitu, pertemuan dan komitmen kerja sama tidak boleh langsung dianggap sebagai transaksi yang telah terealisasi. Agar memberikan manfaat nyata, peluang tersebut harus diikuti kesepakatan bisnis, pemenuhan standar produk, serta kejelasan mengenai mekanisme perdagangan.

Contoh kerja sama Kadin Indonesia dengan pengusaha China itu juga tidak dapat langsung dianggap sebagai program Kadin DKI Jakarta. Data yang tersedia belum menunjukkan nilai transaksi maupun jumlah UMKM Jakarta yang secara khusus memperoleh manfaat dari diplomasi bisnis tersebut.

Pertumbuhan ekonomi menjangkau lebih banyak usaha

Dorongan kolaborasi muncul ketika perekonomian Jakarta menunjukkan pertumbuhan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Jakarta pada triwulan II 2026 tumbuh 5,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 9,52 persen.

Pertumbuhan tersebut membuka peluang bagi usaha yang bergerak di bidang kuliner, penyediaan bahan baku, jasa pendukung, hingga distribusi. Namun, peluang ekonomi tidak otomatis dapat dimanfaatkan oleh semua pelaku usaha secara merata.

Akses pasar, modal, jaringan pemasok, dan kemampuan memenuhi standar perusahaan tetap memengaruhi kesempatan UMKM untuk berkembang. Karena itu, kemitraan perlu dirancang agar usaha kecil memiliki kesempatan masuk ke dalam aktivitas ekonomi yang selama ini lebih mudah dijangkau perusahaan besar.

Kepala Bagian Perekonomian Jakarta Pusat M. Yassin Pasaribu, yang mewakili wali kota, mengapresiasi kontribusi Kadin dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

"Pemprov DKI selalu siap bermitra dengan Kadin dan hubungan yang terjalin selama ini harus bisa ditingkatkan," kata Yassin.

Kerja sama pemerintah dan dunia usaha dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan UMKM, termasuk melalui fasilitasi perizinan, akses permodalan, pengembangan kapasitas, dan pembukaan peluang kemitraan.

Kepengurusan baru dituntut menghadirkan hasil

Dalam MUKOTA VII Kadin Jakarta Pusat yang mengusung tema Pengusaha Kuat, Jakarta Pusat Hebat, Samser Affandi Gultom terpilih secara aklamasi sebagai ketua untuk masa bakti 2026–2031.

Samser menilai keragaman skala usaha di Jakarta Pusat merupakan kekuatan yang perlu didukung melalui pelayanan organisasi, termasuk membantu pengusaha menghadapi persoalan perizinan dan akses permodalan.

"Jakarta Pusat telah memiliki keragaman bisnis, baik dalam skala besar, menengah, maupun kecil," kata Samser.

Kepengurusan baru diharapkan mampu menerjemahkan semangat kolaborasi menjadi program yang terukur. Kadin dapat memperkuat pertemuan bisnis antara UMKM dan perusahaan besar, membantu pelaku usaha memanfaatkan platform digital, serta memfasilitasi komunikasi dengan mitra internasional.

Keberhasilan program tersebut perlu dinilai melalui hasil yang dapat diukur, seperti jumlah kemitraan yang terealisasi, nilai transaksi, jumlah UMKM yang memperoleh pesanan berulang, dan perluasan akses pasar.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan Kadin bukan hanya banyaknya forum pertemuan atau kesepakatan yang diumumkan, tetapi juga manfaat yang benar-benar diterima pelaku usaha. Ketika UMKM memperoleh pasar yang lebih luas, perusahaan mendapatkan mitra yang andal, dan masyarakat menikmati dampak ekonomi yang lebih merata, kolaborasi dapat menjadi penggerak pertumbuhan Jakarta yang lebih inklusif.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua