Langsung ke konten
Ekonomi Bisnis

PEVS 2026 Tak Sekadar Pameran, Periklindo Dorong Edukasi dan Ekosistem Kendaraan Listrik

Redaksi
Dokumentasi - Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) dan Dyandra Promosindo hadir di ajang Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2024, yang digelar pada tanggal 30 April - 5 Mei di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat. Foto: Periklindo
Dokumentasi - Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) dan Dyandra Promosindo hadir di ajang Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2024, yang digelar pada tanggal 30 April - 5 Mei di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat. Foto: Periklindo

KabarJakarta.com — Peralihan menuju kendaraan listrik tidak cukup hanya dengan menghadirkan produk baru di pasar. Konsumen perlu memahami teknologi, biaya penggunaan, dan manfaatnya, sementara industri membutuhkan infrastruktur serta kebijakan yang mendukung. Tantangan tersebut menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2026.

Pameran kendaraan listrik yang akan berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 29 Oktober hingga 1 November 2026 itu tidak hanya menjadi tempat bagi produsen untuk memperkenalkan produk. Periklindo juga ingin menjadikan ajang tersebut sebagai ruang edukasi agar masyarakat lebih memahami perkembangan kendaraan elektrik dan mempertimbangkan penggunaannya dalam aktivitas sehari-hari.

Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Moeldoko menilai perubahan kebiasaan masyarakat menjadi salah satu tantangan dalam memperluas penggunaan kendaraan listrik.

"Perubahan dari mobil biasa ke mobil listrik nggak mudah, karena harus diawali dari ide dulu. Kalau idenya belum ketemu, orang akan sulit untuk bergeser," kata Moeldoko di Jakarta, Kamis (22/10).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar kendaraan listrik tidak hanya bergantung pada ketersediaan produk. Pemahaman konsumen mengenai teknologi, pilihan kendaraan, dan konsekuensi penggunaannya juga berperan dalam menentukan keputusan pembelian.

Melalui PEVS 2026, masyarakat diharapkan dapat mengenali beragam pilihan kendaraan elektrik, mengikuti perkembangan teknologi mobilitas, serta memperoleh informasi yang dapat menjadi pertimbangan sebelum beralih dari kendaraan konvensional.

Pasar tumbuh, edukasi tetap diperlukan

Peluang pengembangan kendaraan listrik di Indonesia terlihat dari peningkatan penjualan dalam beberapa tahun terakhir.

Presiden Direktur PT Dyandra Promosindo Daswar Marpaung menyampaikan bahwa penyelenggaraan PEVS 2026 dilandasi optimisme terhadap perkembangan pasar kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV).

Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pengiriman mobil listrik berbasis baterai dari pabrik ke dealer sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 101.171 unit. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang tercatat sebanyak 51.191 unit.

Daswar juga menyebut penjualan mobil listrik pada 2024 mencapai sekitar 99.000 unit dan meningkat menjadi 150.000 unit pada 2025.

"Pada 2024, penjualan mobil listrik hanya sebanyak 99.000 unit. Pada 2025, penjualanmencapai 150.000 unit dan sampai Agustus kemarin penjualannya sudah mencapai 101.000 unit," papar Daswar.

Peningkatan tersebut memperlihatkan besarnya peluang pasar bagi industri otomotif. Namun, pertumbuhan penjualan perlu diikuti pemahaman yang memadai agar konsumen dapat menilai kendaraan berdasarkan kebutuhan, biaya operasional, dan kesiapan fasilitas pendukung.

Dalam pameran tahun ini, sebanyak 38 merek otomotif dijadwalkan berpartisipasi. Produk yang ditampilkan mencakup mobil listrik dari BAIC, Chery, BYD, MAB, Denza, DFSK, Wuling, dan MG serta sepeda motor listrik dari Alva, Polytron, Honda, Selis, dan United E-Motor.

Kehadiran berbagai merek memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenali pilihan kendaraan yang tersedia di pasar. Pada saat yang sama, pameran dapat menjadi sarana untuk memperluas wawasan masyarakat mengenai perkembangan teknologi transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Dari kendaraan pribadi menuju elektrifikasi armada

Selain mengedukasi konsumen, Periklindo juga mendorong pembahasan mengenai penggunaan kendaraan listrik dalam skala yang lebih luas, khususnya untuk kegiatan usaha dan logistik.

Upaya tersebut akan dibahas dalam Periklindo Electric Vehicle Conference (PEVC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Oktober 2026 di Movenpick Hotel Jakarta. Mengusung tema The Future of a Clean and Efficient Mobility, konferensi ini akan membahas peluang, tantangan, dan strategi penerapan elektrifikasi di berbagai sektor transportasi.

PEVC 2026 dirancang sebagai forum berskala internasional yang mempertemukan pemerintah, regulator, pelaku industri, investor, akademisi, peneliti, hingga perusahaan teknologi. Pertemuan tersebut diarahkan untuk membahas pengembangan mobilitas, investasi, dan teknologi yang mendukung pembangunan ekonomi rendah karbon.

Moeldoko menjelaskankonferensi itu menjadi ruang bagi berbagai kalangan untuk mendiskusikan arah perkembangan kendaraan listrik.

"Masyarakat dari berbagai lingkungan, industri, periset, perguruan tinggi, dan lainnya berkumpul untuk membahas masa depan EV (Electric Vehicle/Kendaraan Listrik)," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (23/10).

Pembahasan PEVC 2026 dibagi menjadi dua subtema. Subtema pertama, Green Commercial Fleet: Transforming Logistics with Electric Vehicles, berfokus pada percepatan penggunaan kendaraan listrik untuk armada komersial.

Elektrifikasi armada logistik berpotensi membantu perusahaan menekan biaya operasional dan mengurangi emisi. Namun, penerapannya memerlukan perhitungan yang cermat, mulai dari harga kendaraan, biaya energi, pemeliharaan, hingga kebutuhan penggantian baterai.

Karena itu, kejelasan skema tarif listrik bagi sektor niaga menjadi salah satu isu penting. Perusahaan juga membutuhkan jaringan listrik yang andal di jalur logistik utama serta insentif untuk konversi dan pengadaan armada ramah lingkungan.

Salah satu aspek yang akan dibahas ialah Total Cost of Ownership (TCO), yakni total biaya kepemilikan kendaraan selama masa penggunaan. Perhitungan ini penting untuk menilai apakah investasi kendaraan listrik benar-benar ekonomis dibandingkan kendaraan konvensional.

Kesiapan sistem manajemen daya untuk operasional rantai dingin (cold chain) juga menjadi perhatian. Pada sektor ini, pasokan listrik yang stabil dibutuhkan untuk menjaga suhu produk selama penyimpanan dan pengiriman.

Pengembangan logistik hijau turut memerlukan kerja sama produsen kendaraan listrik, penyedia teknologi telematika dan Internet of Things (IoT), penyedia energi seperti PT PLN (Persero), serta perusahaan rantai pasok.

Elektrifikasi melampaui jalan raya

Subtema kedua, Beyond Roads & Last-Mile: Optimizing Urban Delivery, Maritime, and Industrial Electrification, memperluas pembahasan ke sektor di luar transportasi darat dan pengiriman tahap akhir.

Fokusnya mencakup integrasi moda transportasi listrik, elektrifikasi sektor maritim dan udara, serta standardisasi infrastruktur pengisian daya untuk kebutuhan industri.

Perluasan ini penting karena transisi menuju transportasi rendah karbon tidak cukup hanya mengandalkan mobil dan sepeda motor listrik. Kegiatan distribusi barang, operasional industri, dan moda transportasi lain juga membutuhkan solusi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing sektor.

Teknologi turut membuka peluang peningkatan efisiensi. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam manajemen armada, misalnya, dapat membantu perusahaan mengambil keputusan berdasarkan data dan mengoptimalkan operasional.

Sementara itu, baterai bekas berpotensi dimanfaatkan kembali sebagai sistem penyimpanan energi atau Energy Storage System (ESS). Pendekatan tersebut dapat memperpanjang masa guna baterai sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.

Implementasinya membutuhkan koordinasi lintas sektor, termasuk regulator seperti Kementerian Perhubungan, pengembang teknologi pesawat listrik lepas landas dan mendarat vertikal (electric Vertical Take-Off and Landing/eVTOL), perusahaan energi, dan asosiasi logistik.

Melalui PEVS dan PEVC 2026, Periklindo mendorong pengembangan kendaraan listrik dari dua sisi yang saling melengkapi: pemahaman masyarakat sebagai konsumen dan kesiapan industri dalam membangun ekosistem pendukung.

Pertumbuhan pasar menjadi modal awal, tetapi keberlanjutan transisi akan ditentukan oleh kemampuan industri menghadirkan kendaraan yang sesuai kebutuhan, infrastruktur yang memadai, kebijakan yang jelas, serta manfaat ekonomi yang dapat diperhitungkan.

Dengan demikian, tantangan kendaraan listrik di Indonesia bukan sekadar memperbanyak produk di jalan raya. Tantangan berikutnya, memastikan teknologi tersebut semakin mudah dipahami, layak digunakan, dan mampu mendukung sistem transportasi serta logistik yang lebih efisien dan rendah emisi.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua