Langsung ke konten
Gaya Hidup

24 Tahun Car Free Day: Dari Pembatasan Kendaraan Menuju Identitas Kota Budaya

Redaksi Diperbarui
Talkshow inspiratif bertajuk perjalanan 24 tahun Car Free Day (CFD) di ruang terbuka Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (1/11). Foto: beritajakarta
Talkshow inspiratif bertajuk perjalanan 24 tahun Car Free Day (CFD) di ruang terbuka Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (1/11). Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com — Setiap Minggu pagi, kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, berubah menjadi ruang bagi warga untuk berolahraga, menikmati pertunjukan seni, berburu kuliner, hingga mengikuti kegiatan edukasi lingkungan. Jalan yang biasanya dipadati kendaraan bermotor itu menjadi tempat masyarakat berinteraksi tanpa dibatasi sekat aktivitas dan kepentingan.

Pemandangan tersebut merupakan potret perjalanan selama 24 tahun Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di Jakarta. Dicanangkan pada 2002, CFD tidak lagi sekadar kebijakan pembatasan kendaraan bermotor. Kegiatan ini berkembang menjadi fenomena sosial yang mempertemukan gaya hidup sehat, budaya perkotaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Perjalanan selama 24 tahun itu menjadi tema diskusi dalam acara Bincang Pagi di Bundaran HI, Minggu (1/11). Para narasumber membahas bagaimana CFD dapat memperkuat identitas Jakarta sekaligus mendukung pembangunan kota yang lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan.

CFD dan identitas Jakarta menuju 5 abad

Ketua panitia kegiatan, M. Ageng, menilai perjalanan 24 tahun CFD merupakan hal strategis dalam mempersiapkan Jakarta menyongsong lima abad sebagai kota budaya. CFD memiliki potensi lebih besar ketimbang sekadar agenda rutin mingguan. Ruang publik ini dapat menjadi tempat bertemunya berbagai unsur kehidupan masyarakat perkotaan, mulai dari olahraga, seni, hingga kesadaran terhadap lingkungan.

"Bukan hanya sekadar acara mingguan, CFD bagian dari identitas Jakarta. Menjelang lima abad kota ini, CFD merupakan titik temu budaya, olahraga, dan kesadaran lingkungan," ujarnya.

Perkembangan CFD menunjukkan bahwa ruang kota dapat memiliki fungsi sosial yang luas ketika masyarakat diberi kesempatan untuk menggunakannya bersama-sama. Aktivitas olahraga berjalan beriringan dengan pertunjukan seni, kegiatan komunitas, dan interaksi antarkelompok masyarakat.

Keberagaman aktivitas tersebut menjadi modal bagi Jakarta untuk memperkuat posisinya sebagai kota budaya global. Identitas kota tidak hanya dibentuk oleh bangunan, pusat ekonomi, atau penyelenggaraan acara internasional, tetapi juga oleh cara masyarakat memanfaatkan ruang publik dan membangun kehidupan bersama.

Namun, Ageng mengingatkan agar perkembangan CFD tidak menghilangkan tujuan utamanya.

"Menjaga khittah CFD berarti memastikan ia sebagai ruang publik yang bebas polusi, inklusif, dan berbudaya. Bukan hanya sekadar ajang dagang atau hiburan semata," tegasnya.

Karena itu, keterlibatan pemerintah, komunitas, masyarakat, dan sektor swasta diperlukan agar kegiatan ini tetap memberikan manfaat bagi kepentingan publik.

Membangun kesadaran lingkungan

Perubahan fungsi CFD juga terlihat dari meningkatnya perhatian terhadap kualitas udara dan mobilitas ramah lingkungan. Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin, menjelaskan CFD berperan dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya udara bersih dan pengurangan ketergantungan pada kendaraan bermotor.

"CFD terbukti merupakan ruang publik yang efektif dalam membangun kesadaran kolektif warga. Orang datang untuk berolahraga, lalu pulang membawa kesadaran baru tentang udara bersih hingga mobilitas ramah lingkungan," tuturnya.

Menurut Ahmad, perubahan perilaku masyarakat tidak berlangsung dalam waktu singkat. Konsistensi penyelenggaraan CFD selama lebih dari 2 (dua) dekade memberikan kesempatan bagi warga untuk mengalami langsung suasana kota dengan aktivitas kendaraan bermotor yang dibatasi.

Pengalaman tersebut akan mendorong masyarakat mempertimbangkan kembali pilihan transportasi dan kebiasaan sehari-hari. Meski demikian, perubahan perilaku yang lebih luas tetap membutuhkan dukungan kebijakan, infrastruktur, dan layanan transportasi yang memadai.

Sekretaris Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Renny Dwi Astuti, menekankan pentingnya mempercepat integrasi transportasi publik. Konektivitas antara  TransJakarta, MRT, LRT, dan angkutan pengumpan merupakan bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

"Integrasi antarmoda bukan semata soal kenyamanan, tapi strategi jangka panjang dalam menurunkan ketergantungan penggunaan kendaraan pribadi. Perjalanan yang beralih ke transportasi massal merupakan kontribusi nyata bagi kualitas udara Jakarta," ujarnya.

Dengan jaringan transportasi yang terintegrasi, masyarakat diharapkan lebih mudah menjangkau berbagai tujuan tanpa harus selalu menggunakan kendaraan pribadi. CFD akan memperkuat pesan tersebut, tetapi dampaknya terhadap kualitas udara kota perlu didukung pengurangan emisi secara berkelanjutan di luar waktu penyelenggaraan kegiatan.

Ruang publik ramah bagi semua

Selain persoalan lingkungan, aksesibilitas menjadi bagian penting dalam pengembangan CFD. Ruang publik yang sehat tidak cukup hanya menyediakan jalan bagi pejalan kaki dan pesepeda, tetapi juga harus dapat digunakan oleh kelompok masyarakat dengan kebutuhan berbeda.

Renny menyoroti layanan dan fasilitas khusus untuk lanjut usia (lansia) selama momen CFD. Menurut dia, program tersebut mendapat sambutan positif dan membantu menyediakan ruang mobilitas yang lebih inklusif.

"CFD haruslah menjadi ruang yang ramah bagi semua, termasuk lansia dan juga penyandang disabilitas. Inklusivitas merupakan ukuran keberhasilan sebuah ruang publik," tegasnya.

Pendekatan itu menempatkan CFD sebagai ruang bersama, bukan hanya tempat berolahraga bagi warga yang memiliki kondisi fisik tertentu. Akses yang memadai bagi lansia dan penyandang disabilitas menjadi bagian dari upaya memastikan manfaat ruang publik dapat dirasakan lebih luas. Tantangannya adalah menjaga agar aksesibilitas tersebut konsisten tersedia, mulai dari jalur pergerakan hingga fasilitas pendukung selama kegiatan berlangsung.

Dari udara bersih hingga pemilahan sampah

Peran CFD dalam membangun kebiasaan ramah lingkungan telah mencakup penanganan sampah. Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta, Triyana, mengungkapkan kegiatan CFD dimanfaatkan untuk memperluas edukasi lingkungan sekaligus mendorong masyarakat memilah sampah sejak dari sumbernya.

"CFD merupakan momen edukasi lingkungan yang paling efektif, karena masyarakat hadir dengan sukarela. Di sinilah kami menanamkan kebiasaan agar melakukan pilah sampah dari rumah," terangnya.

Menurut Triyana, penyelenggaraan CFD di berbagai wilayah administrasi Jakarta merupakan sarana untuk memperluas gerakan tersebut. Edukasi tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi perlu diwujudkan melalui kebiasaan nyata, seperti memisahkan sampah sesuai jenisnya dan mengurangi sampah yang dihasilkan.

Pendekatan itu memperluas makna CFD dari pembatasan kendaraan menjadi ruang pembelajaran lingkungan. Masyarakat tidak hanya diajak menikmati udara yang lebih bersih, tetapi juga memahami tanggung jawab menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah 24 tahun, perjalanan CFD memperlihatkan potensi ruang publik sebagai penggerak perubahan sosial. Olahraga,  transportasi publik, aksesibilitas, budaya, dan pengelolaan sampah merupakan agenda kota yang saling berkaitan.

Menjelang 5 abad Jakarta, tantangannya bukan sekadar mempertahankan CFD sebagai kegiatan mingguan. Lebih penting lagi, memastikan nilai-nilai yang tumbuh di dalamnya menjadi bagian dari kebijakan dan perilaku masyarakat sehari-hari.

Dengan konsistensi penyelenggaraan dan kolaborasi sejumlah pihak, CFD berpeluang menjadi katalisator pembangunan kota yang berkelanjutan, inklusif, dan berwawasan lingkungan. Tujuannya bukan hanya menciptakan Jakarta yang lebih hijau, tetapi juga membangun kota budaya yang sehat dan memberi ruang bagi seluruh warganya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua