KabarJakarta.com — Sirene peringatan berbunyi di sejumlah gedung perkantoran dan sekolah di Jakarta pada Rabu (21/10) pukul 10.00 WIB. Aktivitas yang semula berjalan seperti biasa seketika berubah. Pegawai berlindung di bawah meja, sementara siswa dan guru mengikuti arahan untuk menyelamatkan diri sebelum menuju titik kumpul yang telah ditentukan.
Pemandangan tersebut merupakan bagian dari Simulasi Gempa Bumi Serentak yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kegiatan yang mengacu pada Instruksi Sekretaris Daerah (Insekda) Nomor e-0044 Tahun 2026 itu melibatkan sekitar 500 gedung di seluruh wilayah ibu kota.
Lokasi simulasi mencakup 7 (tujuh) gedung kantor wali kota, bupati, dan gubernur, satu gedung kantor dinas teknis, satu kantor kecamatan, 127 kantor kelurahan, dua gedung badan usaha milik daerah (BUMD), serta 362 gedung sekolah.
Skala pelaksanaan yang melibatkan kantor pemerintahan dan lembaga pendidikan tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak cukup hanya menjadi tanggung jawab petugas penanggulangan bencana. Pegawai, tenaga pendidik, peserta didik, dan pengelola gedung juga perlu memahami tindakan yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, menjelaskan simulasi tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat budaya sadar bencana di lingkungan pemerintahan, pendidikan, dan masyarakat.
"Melalui simulasi ini, diharapkan masyarakat semakin memahami langkah-langkah penyelamatan diri yang tepat, saat gempa bumi terjadi," ujarnya, Rabu (21/10).
Menguji respons, bukan sekadar latihan
Simulasi diawali dengan bunyi alarm peringatan melalui aplikasi Early Warning System (EWS) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Setelah peringatan terdengar, peserta diminta melakukan perlindungan diri sebelum mengevakuasi gedung.
Di Jakarta Utara, pegawai mengikuti teknik drop, cover, and hold on, yakni merunduk, berlindung, dan bertahan. Peserta diminta melindungi diri selama dua menit di bawah meja atau di dekat struktur bangunan yang kokoh. Setelah itu, petugas mengarahkan mereka menuju titik kumpul aman melalui tangga darurat.
Seluruh lift di Kantor Wali Kota Jakarta Utara sengaja dinonaktifkan selama latihan untuk menggambarkan situasi kedaruratan. Kebijakan ini sekaligus menguji kemampuan penghuni gedung menghadapi perubahan kondisi ketika jalur transportasi vertikal tidak dapat digunakan.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Yuni Wijayanti, mengungkapkan kegiatan berlangsung tertib berkat koordinasi petugas dan partisipasi pegawai.
Namun, keberhasilan simulasi tidak semestinya hanya diukur dari kelancaran kegiatan. Kecepatan peserta merespons alarm, kemampuan mengikuti petunjuk, kondisi jalur evakuasi, dan ketertiban saat menuju titik kumpul merupakan aspek penting untuk menilai kesiapan menghadapi keadaan sebenarnya.
Hal itu terlihat dari pengalaman petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Jaenudin. Ia mengamati bahwa kemampuan pegawai dalam mengikuti prosedur evakuasi masih beragam.
Menurut dia, sebagian pegawai telah sigap mengikuti arahan, sedangkan sebagian lainnya masih panik atau kebingungan menentukan rute ketika harus turun dari lantai 13 menuju lantai dasar.
"Kami terus memandu untuk menuruni tangga darurat, secara tertib agar tidak berdesakan. Harapan saya, setelah kegiatan ini, seluruh pegawai benar-benar terbiasa dan telah siap siaga," katanya.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pengetahuan mengenai prosedur keselamatan belum tentu langsung berubah menjadi tindakan yang tepat ketika seseorang menghadapi situasi darurat. Latihan berulang dibutuhkan agar respons penyelamatan dapat dilakukan tanpa kebingungan berlebihan.
Dari sekolah hingga kantor pemerintahan
Selain perkantoran, sekolah menjadi salah satu sasaran utama simulasi karena memiliki banyak penghuni dengan kebutuhan pendampingan yang berbeda. Dalam keadaan darurat, keselamatan siswa bergantung pada pemahaman mereka terhadap prosedur sekaligus kemampuan guru dan tenaga kependidikan mengarahkan evakuasi.
Kepala Sekolah SMKN 2 Jakarta, Tri Windarti, menyambut baik pelaksanaan simulasi di sekolahnya yang mewakili wilayah Jakarta Pusat. Ia menilai pendidikan kebencanaan perlu dilakukan secara berkelanjutan karena gempa bumi tidak dapat diketahui secara pasti waktu kejadiannya.
"Simulasi ini sangat bagus bagi anak-anak dan seluruh warga sekolah. Khususnya bagi Bapak dan Ibu guru, tata usaha, dan lainnya, agar bersiap menghadapi hal-hal yang tidak kita inginkan, baik secara mental maupun fisik," ujarnya.
BPBD DKI Jakarta sendiri telah menjalankan sosialisasi dan pelatihan mitigasi bencana di sejumlah sekolah sejak 2024. Materi tersebut diberikan kembali pada 2025 dan 2026 untuk memperkuat pemahaman mengenai langkah pengamanan diri ketika gempa terjadi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD DKI Jakarta, Parulian Tampubolon, menjelaskan simulasi tahun ini memang disiapkan untuk mengevaluasi kesiapan pengelola gedung, tenaga pendidik, peserta didik, dan penghuni lainnya.
Evaluasi mencakup kondisi jalur evakuasi serta waktu yang dibutuhkan peserta untuk menyelamatkan diri. Hasilnya diharapkan menjadi dasar perbaikan apabila ditemukan prosedur atau fasilitas yang belum memadai.
"Kita akan melihat bagaimana kesiapan sekolah atau pengelola maupun penghuni gedung lainnya dalam menghadapi bencana. Jika nanti ada hasil evaluasi, kita akan sampaikan kepada mereka, baik dari segi jalurnya seperti apa maupun waktu mereka untuk menyelamatkan diri. Kalau ditemukan kelemahan, akan kita tingkatkan lagi," papar Parulian.
Jakarta Selatan kerahkan 50 personel
Di Jakarta Selatan, simulasi dilaksanakan di 122 lokasi, terdiri atas 112 sekolah dan 10 kantor pemerintah. Kantor Wali Kota Jakarta Selatan menjadi salah satu lokasi utama kegiatan.
Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, membeberkan peserta menjalankan tahapan simulasi sesuai prosedur. Ketika sirene pertama berbunyi, pegawai berlindung di bawah meja atau merapat ke struktur bangunan yang kokoh. Saat sirene kedua terdengar, mereka bergerak menuju titik kumpul dengan melindungi kepala dan tengkuk.
Latihan tersebut juga mencakup peragaan penanganan korban luka oleh tim tanggap darurat. Dengan demikian, simulasi tidak hanya menguji kemampuan menyelamatkan diri, tetapi juga kesiapan memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan bantuan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD DKI Jakarta, Iwan Alex, menyebut sekitar 50 personel BPBD dikerahkan untuk mendukung kegiatan di Jakarta Selatan. Setiap lantai gedung memiliki penanggung jawab yang membantu mengarahkan proses evakuasi agar berlangsung tertib dan aman.
Menurut Syafrin, simulasi perlu dilaksanakan secara rutin demi membangun budaya siaga bencana di lingkungan kerja dan pendidikan.
"Seluruhnya kami imbau agar selalu waspada dan mawas diri. Itu penting, mengingat bencana alam dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa diprediksi," ujarnya.
Evaluasi menentukan kesiapan berikutnya
Pelaksanaan serentak di sekitar 500 gedung merupakan langkah untuk memperluas pendidikan kebencanaan di Jakarta. Namun, latihan tersebut baru memberikan manfaat maksimal apabila hasil evaluasinya ditindaklanjuti secara konsisten.
Pengelola gedung perlu memastikan jalur evakuasi tidak terhalang, petunjuk arah mudah ditemukan, titik kumpul aman, dan prosedur penyelamatan dipahami seluruh penghuni. Sarana pertolongan pertama juga perlu tersedia untuk mendukung penanganan korban ketika keadaan darurat terjadi.
Sekretaris Kota Jakarta Utara, Iyan Sopian Hadi, menekankan pentingnya kepedulian terhadap keselamatan orang lain. Ia meminta kepala organisasi perangkat daerah melengkapi sarana dan prasarana kedaruratan, termasuk fasilitas medis dasar di lingkungan kerja masing-masing.
"Mitigasi yang matang adalah kunci keselamatan. Kami meminta seluruh pegawai tidak hanya memikirkan keselamatan pribadi saat darurat, namun juga memiliki kepekaan untuk menolong rekan kerja di sekitarnya," katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya persoalan mengikuti instruksi, melainkan juga memastikan kelompok rentan dan orang yang membutuhkan bantuan tidak tertinggal saat evakuasi.
Bagi Jakarta, kota dengan aktivitas pemerintahan, pendidikan, dan ekonomi yang padat, kesiapan menghadapi gempa membutuhkan lebih dari satu kegiatan serentak. Sosialisasi, latihan berkala, pemeriksaan fasilitas, serta evaluasi berbasis temuan lapangan harus menjadi bagian dari rutinitas pengelolaan gedung.
Simulasi pada 21 Oktober menjadi kesempatan untuk menguji prosedur yang selama ini dipelajari. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap kelemahan yang ditemukan benar-benar diperbaiki.
Sebab, ketika gempa sungguhan terjadi, keselamatan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sirene atau jalur evakuasi. Kemampuan mengambil keputusan dengan cepat, mengikuti prosedur yang benar, dan membantu orang lain akan menentukan seberapa siap warga Jakarta menghadapi keadaan darurat.