KabarJakarta.com — Malam di kawasan Pantai Jembatan Cinta, Kelurahan Pulau Tidung, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, terasa berbeda. Warga dan wisatawan yang biasanya menikmati suasana pantai kini memiliki pilihan hiburan lain: menonton film bersama melalui Bioskop Keliling Jakarta Culture Cinema (JCC).
Layar yang hadir di ruang terbuka itu bukan sekadar menawarkan tontonan di tengah kawasan wisata. Kehadiran JCC juga membawa kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal karya sineas lokal sekaligus menikmati kegiatan budaya bersama keluarga.
Di tengah kebiasaan menonton melalui telepon genggam, bioskop keliling menghadirkan pengalaman berbeda dengan mempertemukan penonton secara langsung dalam satu ruang.
Bagi warga Pulau Tidung, kegiatan ini sekaligus menambah daya tarik wisata pada malam hari. Dewa Kusuma (25), salah seorang warga setempat, menyambut positif penyelenggaraan JCC karena memberikan alternatif hiburan bagi masyarakat maupun pengunjung.
"Semoga kegiatan nonton film seperti ini, bisa kembali digelar. Dengan begitu, warga dan wisatawan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas yang menghibur, sekaligus mengenalkan budaya lokal," kata Dewa, Minggu (11/10).
Harapan itu memperlihatkan bahwa ruang hiburan berbasis kebudayaan dapat memiliki manfaat lebih luas. Selain menjadi sarana rekreasi, kegiatan semacam ini berpotensi mempertemukan masyarakat dengan karya kreatif yang mungkin belum banyak mereka temui melalui saluran hiburan sehari-hari.
Membawa film lebih dekat kepada warga
Jakarta Culture Cinema merupakan bagian dari rangkaian Lomba Kampung Sinema yang menjangkau 5 (lima) wilayah kota administrasi dan Kabupaten Kepulauan Seribu. Program ini mendorong masyarakat memproduksi film pendek secara mandiri, kemudian memperkenalkan karya-karya tersebut kepada publik melalui tur bioskop keliling di berbagai wilayah Jakarta.
Pembina Yayasan Kampung Sinema Budaya, Ucu Jamilah, menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari gagasan bahwa pemajuan kebudayaan perlu melibatkan masyarakat sebagai pelaku, bukan hanya sebagai penonton.
"Pemajuan sebuah kebudayaan harus tumbuh dari masyarakat melalui kolaborasi. Pembangunan Jakarta sebagai kota global, tidak hanya berfokus pada aspek fisik, namun juga perlu memperkuat kebudayaan," ujarnya.
Melalui rangkaian kegiatan ini, proses kreatif tidak berhenti saat sebuah film selesai diproduksi. Karya tersebut memperoleh kesempatan untuk dipertontonkan, diapresiasi, dan dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Ruang apresiasi seperti ini penting bagi sineas lokal, terutama mereka yang belum memiliki akses luas ke jaringan distribusi film. Sebuah karya membutuhkan penonton agar pesan, gagasan, dan pengalaman yang disampaikan pembuatnya dapat bertemu dengan masyarakat.
Tanggapan penonton juga dapat menjadi bekal bagi pembuat film untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya berikutnya. Karena itu, bioskop keliling bukan sekadar memindahkan layar dari satu tempat ke tempat lain.
Program ini juga membuka peluang bagi karya komunitas untuk hadir di ruang publik, menjangkau penonton di luar lingkaran pembuatnya, dan memperkaya pilihan tontonan masyarakat.
Menonton film, belajar membaca cerita
Peran JCC juga dapat dilihat dari peluangnya memperluas literasi perfilman. Menonton film bukan hanya kegiatan menikmati cerita, tetapi juga kesempatan memahami cara sebuah karya menyampaikan pesan melalui gambar, suara, dialog, karakter, dan alur cerita.
Bagi anak-anak dan keluarga, pengalaman menonton bersama dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan nilai-nilai sosial, kebudayaan, lingkungan, hingga kehidupan sehari-hari. Film yang mengangkat pengalaman masyarakat lokal, misalnya, dapat memancing percakapan tentang tradisi, hubungan antargenerasi, dan persoalan yang dekat dengan kehidupan penonton.
Ucu berharap bioskop keliling juga menjadi sarana edukasi bagi keluarga dan anak-anak, sekaligus menghadirkan alternatif kegiatan positif di luar penggunaan gawai. Ia menegaskan komitmennya untuk melanjutkan dan mengembangkan program kebudayaan berbasis komunitas secara berkesinambungan.
Agar manfaat tersebut semakin kuat, pemutaran film dapat disertai diskusi sederhana mengenai cerita, pesan, proses produksi, dan latar budaya yang diangkat. Dengan begitu, penonton tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga belajar memahami film sebagai karya seni dan medium komunikasi.
Dari layar film menuju kreativitas lokal
Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan, mengapresiasi penyelenggaraan JCC yang digelar Dinas Kebudayaan DKI Jakarta bersama Yayasan Kampung Sinema Budaya. Kegiatan tersebut diharpakan mampu memperluas ruang kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda.
"Melalui kegiatan ini, saya harap semakin banyak generasi muda Kepulauan Seribu yang tertarik untuk mengembangkan potensi di bidang seni, fotografi, perfilman, dan konten digital," ujarnya.
Kepulauan Seribu memiliki kekayaan tradisi masyarakat pesisir, kearifan lokal, serta keindahan alam yang dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan karya kreatif. Potensi tersebut dapat diolah menjadi film pendek, dokumenter, maupun konten digital yang merekam kehidupan masyarakat sekaligus memperkenalkan identitas daerah.
Fadjar mengingatkan bahwa Kepulauan Seribu tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata bahari, tetapi juga berkembang menjadi ruang tumbuhnya kreativitas dan kegiatan budaya yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.
"Kegiatan seperti ini memerlukan kolaborasi lintas sektor dalam membuka ruang bagi generasi muda dalam berkarya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kepulauan Seribu," paparnya.
Pada akhirnya, layar JCC di Pulau Tidung menghadirkan lebih dari sekadar hiburan malam. Ada peluang bagi warga untuk mengenal karya sineas lokal, bagi anak muda untuk menemukan ruang berkarya, dan bagi keluarga untuk menikmati kegiatan budaya bersama.
Tantangannya adalah menjaga agar kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai acara sesaat. Pemutaran yang berkelanjutan, ruang diskusi, pendampingan produksi, serta kesempatan bagi sineas lokal untuk menampilkan karya dapat membuat bioskop keliling menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan.
Dengan dukungan tersebut, layar di tepi pantai bukan hanya menjadi tempat cerita ditayangkan, melainkan juga titik awal bagi lahirnya cerita-cerita baru dari masyarakat Kepulauan Seribu.