KabarJakarta.com — Jakarta Utara tumbuh menjadi wajah kota yang terus berubah. Pelabuhan membesar, kawasan industri berkembang, permukiman semakin padat, dan ruang pesisir beralih fungsi mengikuti kebutuhan ibu kota. Namun, di balik perubahan itu, ada cerita tentang masyarakat yang lebih dulu hidup di tepian laut: Betawi Pesisir.
Cerita itu tidak hanya tentang kampung dan orang-orang yang tinggal di pesisir. Ada tradisi maritim, mata pencaharian, bahasa, kesenian, ritual, sistem kekerabatan hingga nama-nama tempat yang menyimpan jejak perjalanan masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kini, jejak tersebut tengah ditelusuri kembali oleh Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara melalui penelitian Penulisan Sejarah Lokal Kehidupan Betawi Pesisir dari Masa ke Masa.
Penelitian ini menjadi upaya untuk merekonstruksi perjalanan masyarakat Betawi Pesisir sekaligus melihat bagaimana identitas mereka terbentuk di tengah perubahan Jakarta sebagai kota pelabuhan dan perdagangan.
Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara, Dya Perwita Kusuma, menjelaskan penelitian tersebut diharapkan menghasilkan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai sejarah masyarakat Betawi Pesisir.
“Kami sangat berharap hasil penelitian dan FGD ini menjadi referensi penting dan terpercaya untuk pelestarian kebudayaan Betawi Pesisir di Jakarta Utara,” ujar Dya, di Jakarta, Rabu (30/9).
Pesisir yang membentuk identitas
Penelitian ini mencakup lima kecamatan, yakni Penjaringan, Pademangan, Tanjung Priok, Koja, dan Cilincing. Kelimanya merupakan bagian penting dari bentang pesisir Jakarta Utara yang sejak lama menjadi ruang pertemuan manusia dan kebudayaan.
Posisi geografis menjadi salah satu faktor yang membuat kawasan ini memiliki sejarah yang berbeda dibandingkan wilayah Jakarta lainnya. Laut membuka jalur mobilitas. Pelabuhan mempertemukan pedagang dan pendatang. Sungai menghubungkan kawasan daratan dengan pesisir.
Dari hubungan tersebut, masyarakat membangun pola kehidupan yang terus berkembang. Dalam konteks itulah Betawi Pesisir tumbuh.
Masyarakat pesisir tidak hanya beradaptasi dengan lingkungan laut, tetapi juga dengan perubahan ekonomi dan sosial yang terjadi di sekitarnya. Aktivitas yang berkaitan dengan laut dan perdagangan menjadi bagian dari kehidupan, sementara interaksi dengan kelompok masyarakat lain ikut membentuk bahasa, kebiasaan, kesenian dan tradisi.
Penjaringan memiliki hubungan erat dengan sejarah kawasan pelabuhan dan perdagangan. Pademangan berkembang dalam lanskap pesisir yang menjadi bagian dari dinamika Batavia.
Tanjung Priok kemudian tumbuh sebagai kawasan pelabuhan penting yang mengubah aktivitas ekonomi sekaligus kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Di sisi lain, Koja dan Cilincing memperlihatkan bagaimana masyarakat pesisir menghadapi perkembangan kota yang semakin kompleks.
Karena itu, kelima kecamatan tersebut tidak sekadar diperlakukan sebagai lokasi penelitian. Kawasan itu menjadi ruang untuk membaca bagaimana masyarakat Betawi Pesisir tumbuh, beradaptasi, dan mempertahankan identitasnya di tengah perubahan zaman.
Sejarah tak hanya ada di buku
Untuk membongkar perjalanan tersebut, penelitian tidak hanya mengandalkan satu sumber. Tim menggunakan studi literatur, arsip dan wawancara dengan berbagai narasumber.
Kepala Seksi Pelindungan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara, Rahma Almira, membeberkan penelitian berlangsung selama 3 (tiga) bulan, mulai 21 Juli hingga 21 Oktober 2026.
“Penelitian menggunakan studi literatur, arsip, serta wawancara dengan para narasumber. Fokusnya, meliputi mata pencaharian, tradisi maritim, sistem kekerabatan, kesenian, hingga perubahan sosial budaya masyarakat Betawi Pesisir,” ungkap Rahma.
Pendekatan tersebut penting karena sejarah masyarakat pesisir tidak seluruhnya tersimpan dalam dokumen resmi. Sebagian lainnya hidup dalam ingatan masyarakat, tradisi, cerita keluarga, praktik kebudayaan, bahkan dalam nama sebuah tempat.
Karena itu, tim peneliti juga menelusuri sumber primer dan sekunder, termasuk Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Perpustakaan Nasional, serta arsip museum di Belanda yang berkaitan dengan Batavia masa lalu.
Sejarah Betawi Pesisir kemudian dipetakan secara kronologis. Penelusuran dimulai dari akar peradaban pesisir pada masa awal, era Kerajaan Pajajaran, kedatangan bangsa asing dan masa kolonial, pendudukan Jepang, periode kemerdekaan, hingga perkembangan Jakarta pada masa kontemporer.
Rentang waktu yang panjang itu memperlihatkan bahwa identitas Betawi Pesisir bukan sesuatu yang terbentuk dalam satu periode. Ia merupakan hasil dari proses sejarah yang panjang dan terus mengalami perubahan.
Membaca Jakarta dari nama Cilincing dan Tanjung Priok
Salah satu bagian menarik dalam penelitian ini adalah kajian toponimi atau ilmu yang mempelajari asal-usul, makna, sejarah, dan latar belakang penamaan suatu tempat di muka bumi. Nama tempat tidak hanya dipandang sebagai penanda geografis, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk memahami sejarah sebuah kawasan.
Cilincing dan Tanjung Priok menjadi dua wilayah yang asal-usul namanya turut ditelusuri.
Di balik sebuah nama dapat tersimpan cerita tentang lingkungan, masyarakat, aktivitas ekonomi maupun perubahan kawasan. Nama yang tetap digunakan hingga sekarang menjadi semacam arsip hidup, meskipun lanskap fisik di sekitarnya telah berubah.
Penelusuran toponimi menjadi penting dalam membaca sejarah Betawi Pesisir. Ketika kampung berubah menjadi jalan, kawasan industri, pelabuhan, atau permukiman modern, nama tempat sering kali menjadi salah satu jejak yang tetap bertahan.
Namun, asal-usul nama juga membutuhkan kehati-hatian. Cerita yang berkembang di masyarakat perlu dibandingkan dengan sumber tertulis dan bukti sejarah agar tidak sekadar berubah menjadi legenda yang diterima sebagai fakta. Itulah sebabnya proses validasi menjadi bagian penting dalam penelitian ini.
Bertemunya arsip dengan ingatan masyarakat
Sekitar 35 orang dilibatkan dalam focus group discussion (FGD) Penulisan Sejarah Lokal Kehidupan Betawi Pesisir dari Masa ke Masa.
Pesertanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari unsur Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, kecamatan, sejarawan, budayawan Betawi, tokoh masyarakat pesisir, akademisi hingga tim penulis.
Forum tersebut digunakan untuk menguji dan memperkaya draf penelitian. Masukan yang muncul antara lain berkaitan dengan keberagaman identitas masyarakat Betawi Pesisir, ritual dan tradisi lokal serta perkembangan bahasa pada berbagai periode sejarah.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian sejarah lokal, untuk menyusun kajian komprehensif, mengenai perjalanan kehidupan masyarakat Betawi Pesisir di Jakarta Utara,” terang Dya.
Penelitian juga melibatkan Komunitas Tempo Doeloe yang beranggotakan sejarawan, pemerhati budaya dan pemandu wisata tersertifikasi.
Keterlibatan komunitas menjadi penting karena sejarah lokal tidak hanya hidup di ruang akademik. Ada pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan warga dan komunitas yang selama bertahun-tahun bersentuhan langsung dengan sejarah kawasan.
Dengan mempertemukan arsip, kajian akademik dan kesaksian masyarakat, penelitian diharapkan dapat menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai perjalanan Betawi Pesisir.
Dari sejarah jadi pengetahuan publik
Dari rangkaian penelitian tersebut, tim telah mengumpulkan data sejarah tertulis, masukan dan validasi narasumber, serta menyusun draf awal buku Penulisan Sejarah Lokal Kehidupan Betawi Pesisir.
Buku tersebut ditargetkan memperoleh ISBN dan diluncurkan pada awal November 2026. Agenda peluncuran dan bedah buku direncanakan melibatkan pelajar SMA, komunitas sejarah, pegiat pariwisata serta komunitas kearsipan dan perpustakaan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penelitian sejarah lokal tidak berhenti pada upaya menyimpan masa lalu. Pengetahuan tentang sejarah juga dapat digunakan untuk membaca Jakarta hari ini.
Rahma mengatakan hasil kajian nantinya diharapkan dapat digunakan lebih luas, termasuk untuk mendukung pengenalan destinasi sejarah di kawasan pesisir.
“Ke depan, hasil kajian tak hanya ditujukan sebagai dokumentasi sejarah. Kajian juga diharapkan menjadi referensi bagi pemandu wisata dalam mengenalkan destinasi sejarah di pesisir Jakarta,” jelasnya.
Pada akhirnya, sejarah Betawi Pesisir adalah cerita tentang masyarakat yang hidup bersama perubahan. Laut yang dahulu menjadi ruang utama kehidupan kini berdampingan dengan pelabuhan, industri dan kota metropolitan.
Kampung-kampung mengalami perubahan. Tradisi menghadapi generasi baru. Bahasa berkembang. Mata pencaharian bergeser. Namun, jejak sejarah tetap tersimpan di antara nama tempat, cerita warga, arsip, tradisi dan ruang-ruang yang masih bertahan.
Menulis kembali sejarah Betawi Pesisir berarti memastikan perubahan Jakarta tidak sekaligus menghapus ingatan tentang siapa yang pernah membangun kehidupan di tepian kotanya.
Penjaringan, Pademangan, Tanjung Priok, Koja dan Cilincing bukan sekadar lima kecamatan di utara Jakarta. Kelimanya merupakan bagian dari ruang sejarah yang membantu menjelaskan bagaimana masyarakat Betawi Pesisir terbentuk, berinteraksi dan berubah bersama perjalanan panjang Jakarta.






