Langsung ke konten
Gaya Hidup

Di Balik Tantrum Anak, Ada Orang Tua yang Berjuang Melawan Rasa Bersalah

Redaksi
Pengunjung SPEKIX 2026 mengamati karya anak-anak berkebutuhan khusus yang dipamerkan. Foto: beritajakarta
Pengunjung SPEKIX 2026 mengamati karya anak-anak berkebutuhan khusus yang dipamerkan. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com — Tangisan keras, teriakan, atau gerakan berulang seorang anak di tempat umum terkadang mengundang tatapan sinis. Tidak sedikit yang langsung menganggap anak tersebut nakal atau orang tuanya gagal mendidik. Padahal, bagi keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, situasi seperti itu bisa menjadi ujian emosional tersendiri.

Di balik perilaku yang terlihat berbeda, ada anak yang mungkin kesulitan menghadapi rangsangan di sekitarnya. Ada pula orang tua yang berusaha menenangkan anak sekaligus menghadapi penilaian masyarakat.

Persoalan ini menjadi perhatian penyelenggara Special Kids Expo (SPEKIX) 2026. Dalam pameran yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Sabtu (10/10), masyarakat diajak memahami keberagaman perkembangan saraf otak atau neurodiversity dan menciptakan lingkungan yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus.

Wakil Ketua Dewan Pelaksana SPEKIX, Zavnura Pingkan, menjelaskan tatapan menghakimi kerap menambah beban psikologis orang tua ketika mendampingi anak di ruang publik.

"Harapannya, inklusi bisa berkesinambungan dan tidak lagi menjadi sesuatu yang aneh atau sinis. Kita bisa hidup berdampingan bersama tanpa harus merasa malu atau bersalah, kalau anaknya teriak-teriak di tempat umum," ujar Zavnura.

Memahami perilaku anak, bukan menghakimi

Anak dengan spektrum autisme atau kondisi perkembangan tertentu dapat menunjukkan respons berbeda ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman. Suara bising, keramaian, atau rangsangan sensorik berlebihan, misalnya, dapat memicu stres pada sebagian anak.

Respons tersebut bisa berupa tangisan, teriakan, atau gerakan berulang. Perilaku seperti ini tidak semestinya langsung dianggap sebagai bukti kegagalan pola asuh karena setiap anak memiliki kebutuhan dan cara merespons lingkungan yang berbeda.

"Kita harus tahu bahwa ada yang disebut neurodiversity. Bahwa semua itu tidak sama. Berbeda itu tidak apa-apa," tutur Zavnura.

Empati dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti tidak menatap sinis, menghindari komentar yang menyudutkan, dan memberikan ruang kepada orang tua untuk mendampingi anaknya. Jika diperlukan, masyarakat bisa menawarkan bantuan dengan sopan.

Zavnura berharap penerimaan semacam ini tumbuh di berbagai fasilitas umum, mulai dari pusat perbelanjaan dan taman kota hingga transportasi publik. Dengan begitu, keluarga tidak merasa harus membatasi aktivitas karena khawatir menghadapi penilaian orang lain.

Namun, pendampingan anak berkebutuhan khusus juga membutuhkan kesiapan orang tua, terutama ketika mereka baru menerima diagnosis anaknya.

Setahun berdamai dengan diri sendiri

Penyanyi dan penulis buku Wina Natalia memahami pergulatan tersebut. Putranya, Sigra, didiagnosis mengalami Autism Spectrum Disorder (ASD) pada usia 3 (tiga) tahun. Wina mengaku membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk menerima kenyataan itu.

Pada masa awal, ia terus menyalahkan diri sendiri karena merasa bertanggung jawab atas kondisi anak yang dikandung dan dilahirkannya.

"Selama setahun itu, saya selalu menyalahkan diri sendiri. Saya pikir waktu itu, yang paling bersalah adalah saya. Saya yang salah nih sampai anak saya autis," kata Wina.

Untuk mengatasi pergulatan emosional tersebut, Wina berkonsultasi dengan psikolog. Ia menyadari bahwa menerima diagnosis anak bukan hanya persoalan memahami kondisi medis, tetapi juga menghadapi kesedihan, ketakutan, dan perubahan harapan sebagai orang tua.

"Ternyata setelah mendapat diagnosis seperti itu, yang paling berat justru menenangkan diri saya sendiri sebagai seorang ibu," ujarnya.

Wina mengingatkan bahwa orang tua tidak harus langsung memahami semuanya. Mereka perlu memberi waktu kepada diri sendiri untuk memproses emosi, sekaligus mencari dukungan agar tidak terjebak dalam rasa bersalah berkepanjangan.

Menurut dia, kesedihan yang tidak tertangani dapat membuat orang tua menunda pendampingan yang dibutuhkan anak.

"Untungnya saya segera sadar. Kalau saya terlalu sedih, anak ini akhirnya tidak diapa-apakan. Dan kita kehilangan momen untuk membuat dia lebih baik. Dari situlah saya bangkit," tuturnya.

Dukungan keluarga, termasuk penerimaan dari kakak-kakak Sigra, turut membantu Wina melewati masa sulit tersebut. Pengalamannya menunjukkan bahwa orang tua juga membutuhkan pendampingan agar mampu menghadapi kondisi anak dengan lebih baik.

Mengenali potensi, bukan hanya keterbatasan

Dalam pembukaan SPEKIX 2026, Wina membagikan tiga pesan penting kepada orang tua yang baru menerima diagnosis anak berkebutuhan khusus.

Pertama, terima bahwa perasaan bingung, sedih, dan takut merupakan reaksi yang manusiawi. Kedua, jangan ragu mencari bantuan tenaga profesional dan bergabung dengan komunitas orang tua untuk memperoleh informasi serta berbagi pengalaman.

Ketiga, jangan hanya berfokus pada hambatan perkembangan anak. Orang tua perlu mengenali minat dan kemampuan yang dapat dikembangkan sesuai karakter masing-masing anak.

Wina mencontohkan Sigra yang sempat mengalami hambatan komunikasi dan tantrum parah. Seiring waktu, putranya menemukan cara menyalurkan emosi dan kemampuannya melalui seni lukis setelah bakatnya diasah sejak dini.

"Jangan hanya melihat keterbatasan si anak. Kenali minatnya, temukan potensinya, lalu berikan kesempatan agar ia bisa berkembang melalui jalannya sendiri," kata Wina.

Ia mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan dan potensi berbeda. Karena itu, pendampingan perlu disesuaikan dengan kondisi anak, termasuk melalui konsultasi dengan tenaga profesional yang kompeten.

Tujuannya bukan sekadar membuat anak terlihat sama dengan anak lainnya, melainkan membantu mereka mengembangkan komunikasi, mengelola emosi, membangun kemandirian, dan berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari sesuai kemampuannya.

Inklusi dimulai dari keseharian

Pesan SPEKIX dan pengalaman Wina bertemu pada satu hal: anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendampingan yang tepat, sedangkan orang tuanya memerlukan dukungan, bukan penghakiman.

Penerimaan itu perlu diwujudkan di rumah, sekolah, tempat bermain, hingga fasilitas umum. Masyarakat juga perlu memahami bahwa perilaku anak yang berbeda tidak selalu mencerminkan cara orang tua mendidiknya.

Ketika seorang anak menangis atau berteriak di tempat umum, respons pertama seharusnya bukan mencari siapa yang salah. Memberikan ruang dan kesempatan kepada orang tua untuk menenangkan anak jauh lebih bermanfaat daripada melontarkan komentar yang menyudutkan.

Sebab, di balik tantrum yang terlihat oleh banyak orang, mungkin ada anak yang sedang kesulitan menghadapi lingkungannya dan orang tua yang berusaha melakukan yang terbaik.

Mewujudkan masyarakat inklusif tidak cukup dengan slogan. Perubahan dimulai ketika perbedaan diterima dan setiap anak memperoleh kesempatan untuk berkembang tanpa membuat keluarganya merasa malu.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua