KabarJakarta.com — Musik tempo dulu, dekorasi bergaya vintage, hingga suasana Jakarta era 1980-an kini hadir melalui Festival Jalan Jaksa di Kelurahan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Mengusung tema "Sejarah, Cita Rasa, dan Budaya", festival ini menjadi upaya menghidupkan kembali pesona kawasan yang pernah dikenal sebagai tujuan wisatawan mancanegara.
Tak sekadar menghadirkan suasana tempo dulu, festival ini juga diharapkan mampu menarik pengunjung, menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta menghidupkan kembali aktivitas pariwisata di Jalan Jaksa.
Inisiatif itu merupakan salah satu program unggulan yang digagas Kelurahan Kebon Sirih dalam ajang Benyamin S Award 2026. Wakil Wali Kota Jakarta Pusat Eric PZ Lumbun menjelaskan, Kebon Sirih berhasil masuk dalam 10 finalis dan bersaing dalam tiga kategori, yakni bersih, nyaman, dan sejahtera.
"Kita bangga, Kelurahan Kebon Sirih dapat memiliki ketiga kategori ini, dan masuk menjadi 10 finalis Benyamin S Award Tahun 2026," kata Eric dalam keterangannya di Jakarta, Senin (12/10).
Menghidupkan sejarah Jalan Jaksa
Jalan Jaksa memiliki tempat tersendiri dalam sejarah pariwisata Jakarta. Kawasan ini pernah populer di kalangan wisatawan asing, terutama pelancong beranggaran terbatas atau backpacker, yang mencari penginapan terjangkau di pusat kota.
Penginapan sederhana, tempat makan, dan kehidupan malam membuat Jalan Jaksa menjadi ruang pertemuan wisatawan dari berbagai negara dengan masyarakat setempat. Kawasan itu pun dikenal sebagai salah satu titik persinggahan pelancong yang ingin mengenal Jakarta dengan biaya relatif terjangkau.
Seiring perubahan tren perjalanan dan perkembangan kota, Jalan Jaksa menghadapi tantangan untuk mempertahankan daya tariknya. Festival yang mengangkat suasana era 1980-an menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali karakter kawasan tersebut kepada masyarakat.
Melalui dekorasi vintage, musik, dan nuansa tempo dulu, pengunjung diajak menikmati suasana Jakarta pada masa lalu. Sejarah Jalan Jaksa tidak hanya dihadirkan melalui cerita, tetapi juga melalui pengalaman yang dapat dirasakan langsung.
Festival ini merupakan hasil kolaborasi dari sejumlah pihak, mulai dari pelaku usaha, warga, hingga komunitas setempat. Lurah Kebon Sirih Henny Mahrojah mengungkapkan, kegiatan sengaja diselenggarakan tanpa memakai anggaran kelurahan maupun APBD.
Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan kegiatan. Keterlibatan pelaku usaha dan masyarakat juga diharapkan membuat festival tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari kawasan, bukan sekadar acara seremonial.
Peluang UMKM dan perhotelan
Menurut Henny, festival telah mendapat sambutan hangat dari warga dan pengunjung, termasuk wisatawan asing serta masyarakat yang sebelumnya mengikuti hari bebas kendaraan bermotor atau HBKB di kawasan Thamrin. Kehadiran pengunjung membuka peluang bagi pelaku usaha di sekitar Jalan Jaksa.
Aktivitas festival telah mendorong angka penjualan makanan dan minuman, pembelian produk UMKM, serta meningkatkan kunjungan ke penginapan dan hotel di kawasan tersebut.
Namun, dampak ekonomi itu perlu dijaga agar tidak hanya berlangsung selama acara. Ketersediaan ruang berjualan, promosi yang berkelanjutan, dan variasi kegiatan budaya dapat membantu menarik pengunjung kembali.
Henny berharap Festival Jalan Jaksa dapat kembali digelar secara rutin sehingga aktivitas budaya dan ekonomi masyarakat terus berkembang.
"Besar kemungkinan, kita akan menjadikan Festival Jalan Jaksa ini sebagai agenda rutin kedepannya. Sehingga nantinya bisa membangkitkan semangat berbudaya dan juga UMKM bagi sekitar sini," kata Henny.
Jika terlaksana secara konsisten, festival berpeluang menjadi agenda wisata lokal yang mempertemukan sejarah kawasan dengan kegiatan ekonomi masyarakat. Pelaku UMKM dan sektor perhotelan pun dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas pengunjung.
Menjadi unggulan Kebon Sirih
Festival Jalan Jaksa merupakan salah satu program unggulan dari Kelurahan Kebon Sirih dalam Benyamin S Award 2026. Sebanyak sepuluh finalis dijadwalkan hadir untuk mempresentasikan program unggulan wilayah masing-masing selama 10 menit di hadapan tim penilai pada Kamis (15/10).
Adapun puncak acara yang sekaligus penyerahan penghargaan dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober 2026 oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, bertepatan dengan peringatan Hari Kota Dunia.
Bagi Kebon Sirih, festival ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi kawasan sekaligus mengembangkan kegiatan berbasis budaya dan partisipasi masyarakat.
Jalan Jaksa memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pariwisata Jakarta. Melalui festival tersebut, warga dan pelaku usaha berupaya membawa kembali cerita masa lalu ke tengah kehidupan kota masa kini, sekaligus membuka peluang baru bagi perekonomian setempat.