Langsung ke konten
Gaya Hidup

Festival Pusta Karsa Perkuat Literasi dan Budaya Jakarta

Redaksi
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, membuka secara resmi Festival Pusta Karsa (Perputakaan, Kearsipan dan Sastra) di Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/10). Foto: Pemprov DKI
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, membuka secara resmi Festival Pusta Karsa (Perputakaan, Kearsipan dan Sastra) di Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/10). Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong penguatan budaya literasi, pelestarian sejarah, dan pengembangan sastra sebagai bagian dari pembangunan manusia. Upaya tersebut diwujudkan melalui Festival Pusta Karsa (Perpustakaan, Kearsipan, dan Sastra) yang dibuka Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, di Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/10).

Festival yang berlangsung hingga Kamis (22/10) itu menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari lokakarya literasi, bincang buku, pentas baca, pameran kearsipan, hingga penganugerahan Piagam H.B. Jassin 2026.

Rano mengungkapkan, festival tersebut menjadi ruang untuk memperkuat budaya membaca, menjaga rekam jejak sejarah, dan mendorong perkembangan sastra sebagai bagian dari identitas Jakarta.

"Saya menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini, sebagai ruang memperkuat budaya literasi, menjaga sejarah, dan mengembangkan sastra sebagai bagian dari identitas Jakarta yang merupakan kota global," ujar Rano.

Menurut dia, kemajuan Jakarta tidak cukup diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kota juga membutuhkan masyarakat yang berpengetahuan, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap kebudayaan.

Dalam hal itu, literasi membantu masyarakat memperluas wawasan dan memahami informasi secara kritis. Kearsipan menjaga dokumentasi perjalanan kota agar dapat dipelajari generasi berikutnya, sedangkan sastra memperkaya pemahaman terhadap kehidupan melalui cerita, puisi, dan karya kreatif.

Ketiganya berperan penting dalam membangun masyarakat yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu memahami sejarah dan menghargai keberagaman pengalaman manusia.

Perluas akses membaca

Rano menyebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jakarta pada 2025 mencapai 85,05, indeks budaya literasi sebesar 78,76, dan aktivitas membaca masyarakat tercatat 82,49.

Capaian tersebut, menurutnya, perlu menjadi dorongan untuk memperluas akses pengetahuan dan menjadikan membaca sebagai bagian dari keseharian masyarakat.

Penguatan literasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan buku dan perpustakaan, namun juga pada cara memperkenalkan bahan bacaan kepada masyarakat. Pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menjangkau generasi muda.

"Budaya membaca bisa dikenalkan melalui cara-cara yang kreatif, seperti ulasan buku digital, vlog, dan reel," tuturnya.

Melalui pendekatan tersebut, buku akan diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat. Konten digital juga dapat menjadi pintu masuk untuk mendorong pembaca mengenal karya secara lebih mendalam.

Menghidupkan sejarah dan sastra

Selain meningkatkan minat baca, Rano menekankan pentingnya membuat sejarah lebih mudah diakses dan menarik bagi generasi muda. Arsip tidak cukup hanya disimpan, tetapi perlu disajikan agar masyarakat memahami perjalanan kota dan ikut menjaga warisan sejarahnya.

Salah satu upaya yang didorong adalah penerapan konsep GLEM, yakni Galeri, Perpustakaan, Arsip, dan Museum. Kolaborasi antarlembaga dapat dilakukan melalui perpaduan arsip sejarah, pameran, dan karya visual sehingga informasi sejarah lebih mudah dipahami masyarakat.

Sementara itu, sastra menjadi ruang yang pas untuk menyampaikan gagasan, merekam pengalaman sosial, dan memperkenalkan nilai budaya kepada generasi berikutnya. Kegiatan bincang buku dan pentas baca dalam Festival Pusta Karsa diharapkan mempertemukan penulis, penerbit, komunitas literasi, dan masyarakat.

Pengembangan sastra juga membutuhkan apresiasi terhadap para pelaku yang berkontribusi dalam dunia kesusastraan. Karena itu, penganugerahan Piagam H.B. Jassin 2026 menjadi salah satu agenda penting festival.

Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap karya dan kontribusi dalam sastra Indonesia. Penganugerahan ini sekaligus memberi ruang pengakuan bagi para pelaku sastra yang ikut menjaga keberlangsungan kehidupan kesusastraan nasional.

Selain itu, festival memberikan apresiasi kepada penerbit, perangkat daerah, badan usaha milik daerah (BUMD) atas kinerja pengelolaan kearsipan, serta arsiparis teladan.

Menjelang lima abad Jakarta, Rano mengajak semua pihak membangun kota yang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga kaya pengetahuan, menghargai sejarah, dan mendukung kreativitas warga.

"Semoga festival ini kian menumbuhkan kegemaran membaca. Memperkuat kepedulian terhadap arsip, dan menghidupkan kembali sastra sebagai bagian dari perjalanan Jakarta menuju kota global yang berbudaya," paparnya.

Keberhasilan upaya tersebut akan ditentukan oleh keberlanjutan program setelah festival berakhir, terutama dalam memperluas akses bacaan, mendekatkan arsip kepada publik, dan membuka ruang bagi perkembangan sastra di Jakarta.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua