Langsung ke konten
Gaya Hidup

Jakarta Tuan Rumah World Cities Culture Summit 2027, Budaya Betawi Mendunia

Redaksi
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno menyatakan kesiapan Jakarta menyambut delegasi dari lebih 50 kota di dunia yang akan menghadiri World Cities Culture Summit 2027. Foto: Pemprov DKI
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno menyatakan kesiapan Jakarta menyambut delegasi dari lebih 50 kota di dunia yang akan menghadiri World Cities Culture Summit 2027. Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com — Jakarta akan menjadi panggung pertemuan kota-kota dunia pada 2027. Ibu kota Indonesia ini resmi ditetapkan sebagai tuan rumah World Cities Culture Summit 2027, sebuah forum internasional yang membahas peran budaya dalam membentuk masa depan perkotaan. Penyelenggaraan tersebut terasa istimewa karena bertepatan dengan peringatan 500 tahun Jakarta.

Penetapan Jakarta diumumkan langsung oleh pendiri World Cities Culture Forum (WCCF), Justine Simons OBE, dalam upacara penutupan World Cities Culture Summit 2026 di WITH Harajuku Hall, Tokyo, Jepang, Jumat (30/10). Kepercayaan ini membuka peluang bagi Jakarta untuk memperkenalkan kekayaan budayanya sekaligus berbagi pengalaman dalam mengelola keberagaman di tengah perkembangan kota modern.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyambut penetapan tersebut dengan optimistis. Ia menyatakan Jakarta siap menerima delegasi dari lebih dari 50 kota di dunia yang akan menghadiri forum tahun depan. Terpilihnya Jakarta merupakan hasil proses pengajuan yang telah berlangsung sejak 2025.

"Atas nama Gubernur DKI Pramono Anung dan masyarakat Jakarta, saya ucapkan terima kasih atas kepercayaan kepada Jakarta. Kami merasa terhormat diberi kesempatan sebagai tuan rumah berikutnya dan melanjutkan semangat serta upaya yang telah dibangun melalui forum ini," ujar Rano.

Momentum 500 tahun Jakarta

Bagi Jakarta, menjadi tuan rumah WCCF 2027 bukan sekadar kesempatan menyelenggarakan pertemuan internasional. Agenda tersebut juga menjadi momentum untuk menengok perjalanan panjang kota, memperkuat identitas budaya, dan menentukan arah pembangunan yang ingin diwujudkan pada masa mendatang.

Peringatan 500 tahun Jakarta menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana kota ini tumbuh melalui perjumpaan berbagai kelompok masyarakat, tradisi, dan kebudayaan. Perjalanan tersebut membentuk karakter Jakarta yang terbuka, dinamis, dan terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Rano menilai momentum ini penting untuk menghubungkan sejarah dengan masa depan Jakarta. Menurut dia, peringatan lima abad tidak semestinya berhenti pada perayaan, tetapi juga menjadi ruang refleksi mengenai warisan yang akan diberikan kepada generasi berikutnya.

"Ini momentum untuk melihat kembali sejarah, merayakan identitas budaya, sekaligus memikirkan Jakarta seperti yang ingin kita wariskan bagi generasi mendatang," jelasnya.

Dalam konteks itu, penyelenggaraan WCCF 2027 dapat menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Budaya juga merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang dapat mendukung kreativitas, memperkuat identitas kota, dan menjadi pertimbangan dalam merancang pembangunan perkotaan.

Membawa budaya Betawi ke panggung dunia

Salah satu hal yang ingin ditonjolkan Jakarta dalam forum tersebut adalah kekayaan budaya Betawi. Sebagai akar budaya Jakarta, tradisi Betawi berkembang melalui perjumpaan berbagai pengaruh budaya dari dalam maupun luar Nusantara.

Perpaduan itu terlihat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari kesenian, musik, kuliner, bahasa, hingga tradisi yang diwariskan lintas generasi. Kekayaan tersebut menjadi bagian penting dari identitas Jakarta yang terbentuk melalui keberagaman.

"Ini kesempatan emas dalam memperkenalkan budaya Betawi ke panggung internasional,” imbuh Rano.

Namun, Jakarta tidak hanya ingin memperkenalkan budayanya melalui pertunjukan atau pameran. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berharap para delegasi dapat merasakan secara langsung bagaimana masyarakat dengan latar belakang berbeda hidup berdampingan dan membentuk kreativitas kota.

"Betawi merupakan akar Jakarta, tetapi Jakarta juga rumah bagi tradisi dari seluruh Nusantara,” kata Rano.

Pernyataan tersebut menggambarkan identitas Jakarta yang tidak berdiri di atas satu tradisi saja. Budaya Betawi menjadi akar yang tumbuh bersama kebudayaan lain, menciptakan ruang perjumpaan yang menjadi ciri kehidupan masyarakat ibu kota.

Pengalaman itu diharapkan memberi gambaran kepada para delegasi mengenai bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun kota. Pada saat yang sama, keterlibatan warga menjadi hal penting agar penyelenggaraan forum tidak hanya menghasilkan manfaat bagi pemerintah, tetapi juga dirasakan masyarakat.

"Kami akan siapkan penyelenggaraan yang terbaik, sekaligus memastikan warga Jakarta terlibat dan merasakan manfaatnya,” tandas Rano.

Berbagi gagasan sasa depan kota

World Cities Culture Forum merupakan jejaring internasional kota-kota dunia yang berbagi riset, gagasan, dan praktik terbaik mengenai peran budaya dalam pembangunan perkotaan. Melalui jaringan ini, para pemimpin dan pembuat kebijakan di bidang kebudayaan dapat bertukar pengalaman tentang cara menempatkan budaya sebagai bagian dari strategi pengembangan kota.

Setiap tahun, perwakilan kota-kota anggota bertemu dalam World Cities Culture Summit untuk membahas tantangan dan peluang yang dihadapi kota masing-masing. Pembahasan tersebut mencakup bagaimana kebijakan budaya dapat mendukung kehidupan masyarakat, mengembangkan kreativitas, serta menjaga identitas lokal di tengah perubahan perkotaan.

Terpilihnya Jakarta sebagai tuan rumah 2027 memberikan kesempatan bagi kota ini untuk terlibat lebih jauh dalam pertukaran gagasan tersebut. Proses pengajuan yang berlangsung sejak 2025 menunjukkan bahwa penetapan tuan rumah melalui tahapan yang telah dijalani sebelum pengumuman resmi di Tokyo.

Meski demikian, penetapan sebagai tuan rumah tidak dengan sendirinya menjamin keberhasilan penyelenggaraan. Jakarta perlu menerjemahkan kesempatan ini menjadi program yang mampu mempertemukan kekayaan budaya lokal dengan gagasan pembangunan perkotaan yang relevan bagi masyarakat internasional.

Dengan peringatan 500 tahun sebagai latar, WCCF 2027 dapat menjadi kesempatan bagi Jakarta untuk memperlihatkan perjalanan sejarah sekaligus menyampaikan visinya tentang kota masa depan. Ukuran keberhasilannya bukan hanya kehadiran delegasi dari berbagai negara, melainkan juga sejauh mana pertukaran pengetahuan tersebut memberi manfaat bagi warga.

Pada akhirnya, Jakarta memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar identitas yang dirayakan, melainkan kekuatan yang dapat menghubungkan masa lalu, kehidupan masyarakat saat ini, dan cita-cita pembangunan di masa depan.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua