KabarJakarta.com — Jumlah kunjungan perpustakaan di DKI Jakarta mencapai 5.122.813 hingga Oktober 2026. Capaian itu menunjukkan pemanfaatan fasilitas perpustakaan oleh masyarakat sekaligus menjadi dasar bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan kualitas layanan dan memperluas akses terhadap informasi dan pengetahuan.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta mencatat jutaan kunjungan tersebut sebagai salah satu indikator pemanfaatan layanan perpustakaan. Namun, peningkatan jumlah pengunjung perlu diikuti dengan pengembangan layanan yang sesuai kebutuhan masyarakat agar perpustakaan tidak sekadar menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang belajar yang mudah dijangkau.
“Capaian itu cerminan dari pemanfaatan layanan perpustakaan, sekaligus dasar untuk terus meningkatkan kualitas dan aksesibilitas layanan bagi masyarakat,” kata Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dispusip DKI Jakarta, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (15/10).
Selain jumlah kunjungan, Dispusip mencatat 112.185 peminjaman koleksi dan 110.786 pengembalian koleksi. Sebanyak 490.696 eksemplar koleksi juga dibaca di tempat. Dari sisi keanggotaan, terdapat 222.310 anggota baru Jaklitera, dengan 14.415 anggota utama yang telah terverifikasi.
Data tersebut memperlihatkan beragam bentuk pemanfaatan layanan perpustakaan. Meski demikian, jumlah kunjungan dan transaksi koleksi belum cukup untuk mengukur dampaknya terhadap kebiasaan membaca atau peningkatan pengetahuan masyarakat.
Untuk itu, evaluasi layanan perlu mempertimbangkan pula keterlibatan pengunjung dalam kegiatan literasi dan kemudahan memperoleh bahan bacaan yang dibutuhkan.
Perluas akses melalui layanan digital
Nasruddin mengungkapkan, Dispusip DKI terus memperkuat ekosistem layanan literasi melalui pengembangan koleksi, peningkatan kualitas perpustakaan umum, dan optimalisasi platform digital Jaklitera.
Upaya tersebut penting untuk menjangkau masyarakat dengan kebutuhan berbeda. Pelajar membutuhkan bahan pendukung pembelajaran, mahasiswa memerlukan referensi akademik, sedangkan masyarakat umum dapat memanfaatkan perpustakaan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan.
Melalui layanan digital, masyarakat berpeluang mengakses informasi tanpa harus selalu datang langsung ke perpustakaan. Namun, pengembangan platform perlu disertai kemudahan penggunaan dan ketersediaan koleksi yang relevan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Dengan demikian, peningkatan kunjungan perlu berjalan beriringan dengan pemerataan akses. Perpustakaan harus mampu melayani pengunjung secara langsung sekaligus memberikan alternatif bagi warga yang memiliki keterbatasan waktu, mobilitas, atau jarak.
Perpustakaan ruang belajar inklusif
Penguatan ekosistem literasi turut dilakukan melalui kegiatan Karya Raya 2026, Night at Library, Senara, pemberdayaan Duta Baca, dan Wisata Literasi. Menurut Nasruddin, kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan partisipasi masyarakat, memperluas jangkauan layanan perpustakaan, serta menumbuhkan budaya membaca yang inklusif dan berkelanjutan.
Beragam kegiatan akan membuat perpustakaan lebih dekat dengan masyarakat, termasuk mereka yang belum terbiasa membaca. Karena itu, layanan perlu dirancang agar dapat dimanfaatkan berbagai kelompok, mulai dari anak-anak hingga penyandang disabilitas dan warga lanjut usia.
Selain menyediakan koleksi, perpustakaan juga bisa menjadi tempat berdiskusi, mengikuti kegiatan edukatif, dan bertukar gagasan. Peran ini penting agar masyarakat tidak hanya datang untuk meminjam buku, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang bermanfaat.
Nasruddin menegaskan, penguatan budaya literasi membutuhkan inovasi dan kerja sama berbagai pihak.
“Kami terus mendorong sejumlah inovasi dan kolaborasi untuk memperkuat budaya literasi di Jakarta,” tegasnya.
Capaian 5,1 juta kunjungan menjadi modal bagi pengembangan layanan perpustakaan di Jakarta. Tantangan berikutnya adalah memastikan tingginya pemanfaatan tersebut diikuti layanan yang semakin mudah diakses, koleksi yang relevan, dan kegiatan yang mampu menumbuhkan kebiasaan membaca secara berkelanjutan.