Langsung ke konten
Gaya Hidup

Lansia, Jejak Pengabdian yang Mengantar Jakarta Menuju Kota Global

Redaksi Diperbarui
Pemprov DKI Jakarta memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada warga lansia yang telah berkontribusi dan memberikan sumbangsihnya, membangun Jakarta hingga menjadi satu kota global. Foto: beritajakarta
Pemprov DKI Jakarta memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada warga lansia yang telah berkontribusi dan memberikan sumbangsihnya, membangun Jakarta hingga menjadi satu kota global. Foto: beritajakarta

 

KabarJakarta.com —  Di balik ambisi Jakarta menjadi kota global, ada perjalanan panjang yang tidak bisa dilepaskan dari kontribusi warganya, termasuk mereka yang kini memasuki usia lanjut. Mereka yang pernah bekerja, membesarkan keluarga, menggerakkan lingkungan, hingga menjaga kehidupan sosial masyarakat merupakan bagian dari perjalanan kota yang terus berkembang.

Pengabdian itu tidak berhenti ketika seseorang memasuki usia senja. Di tengah perubahan Jakarta yang semakin cepat, warga lanjut usia (lansia) masih memiliki ruang untuk berkontribusi, mulai dari mendampingi keluarga, menjaga kerukunan lingkungan, hingga menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Lansia Internasional 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Plaza Monas sisi selatan, Sabtu (10/10). Dalam kegiatan yang dihadiri ratusan lansia dari lima wilayah Jakarta itu, pemerintah memberikan penghormatan kepada generasi yang turut meletakkan fondasi perkembangan ibu kota.

Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta, Iqbal Akabrudin, menegaskan kemajuan Jakarta hingga saat ini tidak terlepas dari peran dan pengabdian warga lansia. "Sumbangsih warga lansia bagi Jakarta tidak bisa dipisahkan dari berbagai capaian yang kita banggakan saat ini," ujarnya.

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa pembangunan kota bukan semata-mata hasil kebijakan pemerintah atau investasi ekonomi. Di dalamnya terdapat kerja panjang masyarakat yang membangun kehidupan keluarga, menjalankan berbagai profesi, serta menjaga hubungan sosial dari generasi ke generasi.

Pengalaman yang tetap dibutuhkan

Jakarta kini terus memperkuat posisinya sebagai kota global. Iqbal menyebut sejumlah capaian yang menjadi kebanggaan ibu kota, antara lain masuk dalam daftar 53 Best Cities World 2026, menempati posisi 17 besar dunia dalam sistem transportasi publik, serta menjadi kota teraman kedua di Asia Tenggara.

Namun, keberhasilan sebuah kota tidak cukup diukur melalui peringkat internasional, infrastruktur, atau pertumbuhan ekonomi. Kualitas hidup warga, termasuk kelompok lansia, juga menjadi bagian penting dalam menilai kemajuan tersebut.

Di tengah perubahan sosial dan perkotaan, lansia memiliki pengalaman yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Mereka dapat menjadi tempat bertanya bagi anak dan cucu, membantu menjaga keharmonisan keluarga, serta terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal.

Peran tersebut terlihat dalam peringatan Hari Lanjut Usia Nasional tingkat Kota Administrasi Jakarta Timur pada 3 September 2026. Sebanyak 200 lansia mengikuti kegiatan bertema "Gaya Hidup Sehat untuk Lansia Produktif dan Cegah Kepikunan".

Wakil Wali Kota Jakarta Timur, Kusmanto, menegaskan lansia tetap memiliki potensi untuk berkontribusi selama kesehatan dan kemandirian mereka terjaga.

"Lansia tidak untuk dipandang sebelah mata. Jika Lansia bisa menjaga kesehatan dan merawat diri, mereka tetap dapat berkontribusi dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan sosial di lingkungan masyarakat," terangnya.

Kusmanto mencontohkan, lansia dapat mengambil peran dalam mendampingi anak dan cucu agar tidak terlibat tawuran. Mereka juga bisa menjadi teladan dalam membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa kontribusi terhadap kota tidak selalu harus diwujudkan melalui pekerjaan formal atau aktivitas di ruang publik. Kebiasaan sederhana di lingkungan keluarga pun dapat mendukung penyelesaian persoalan sosial dan lingkungan.

Dalam konteks Jakarta yang menghadapi berbagai tantangan perkotaan, pengalaman lansia dapat menjadi modal sosial yang berharga. Tantangannya adalah memastikan mereka tetap memiliki kesempatan untuk terlibat, bukan justru tersisih karena faktor usia.

Sehat dan mandiri, bukan sekadar bertahan

Agar tetap produktif, lansia membutuhkan dukungan yang tidak berhenti pada penghargaan simbolis. Kesehatan, akses terhadap layanan publik, perlindungan sosial, serta lingkungan yang ramah menjadi faktor penting untuk mempertahankan kemandirian mereka.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Arief Wahyudhy, menyebut jumlah lansia di wilayahnya mencapai sekitar 10 persen dari total penduduk yang berjumlah sekitar tiga juta jiwa.

Untuk mendukung kesehatan mereka, Sudin Kesehatan Jakarta Timur menyiapkan Pasukan Putih yang bekerja sama dengan kader TP PKK dan Dasawisma. Tenaga pendamping ini membantu lansia yang membutuhkan dukungan, sementara keluarga didorong mengambil peran sebagai pendamping atau caregiver.

"Pasukan Putih ini utamanya membantu para lansia dalam kondisi yang memerlukan bantuan. Keluarganya juga perlu diberdayakan sebagai caregiver untuk membantu para lansia," kata Arief.

Pemerintah juga mendorong lansia mengikuti Cek Kesehatan Gratis, posyandu, dan posyandu lansia agar kondisi kesehatan dapat dipantau serta penyakit seperti diabetes dan hipertensi dideteksi lebih dini.

Upaya tersebut penting karena produktivitas lansia tidak semestinya diukur hanya dari kemampuan mereka bekerja atau menghasilkan pendapatan. Kesempatan menjalani kehidupan yang sehat, mandiri, bahagia, dan tetap terhubung dengan masyarakat juga merupakan bagian dari kesejahteraan pada usia lanjut.

Komitmen serupa disampaikan Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, saat menghadiri kegiatan jalan sehat dan seminar kesehatan bagi ratusan lansia di kawasan Monas, 26 Agustus 2026.

"Kami pastikan tidak ada satu pun lansia Jakarta yang tertinggal dari berbagai fasilitas dan layanan publik," ujarnya.

Menurut Ali, dukungan pemerintah antara lain diberikan melalui Kartu Lansia Jakarta (KLJ) sebagai perlindungan sosial serta fasilitas transportasi massal gratis bagi lansia yang telah terdaftar, termasuk pada layanan MRT, LRT, dan TransJakarta.

Akses tersebut memungkinkan lansia menjalankan aktivitas dengan lebih mudah, menjaga hubungan sosial, dan berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat. Meski demikian, komitmen itu perlu terus diwujudkan melalui layanan yang mudah dijangkau dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kota global tidak meninggalkan warganya

Bagi Jakarta, perhatian terhadap lansia juga berkaitan dengan upaya membangun kota yang inklusif. Kota global tidak hanya dituntut memiliki daya saing ekonomi dan infrastruktur modern, tetapi juga harus mampu memberikan ruang yang layak bagi seluruh kelompok masyarakat.

Penghormatan terhadap lansia, karena itu, tidak cukup dilakukan melalui peringatan tahunan. 

Sikap tersebut perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, jalan raya, transportasi umum, maupun fasilitas pelayanan publik. Iqbal mengingatkan masyarakat agar membiasakan tindakan sederhana, seperti memberikan tempat duduk kepada lansia di kendaraan umum, membantu mereka menyeberang jalan, menyapa dengan santun, dan meluangkan waktu untuk menjadi teman bicara.

Tindakan kecil itu bisa membantu mengurangi hambatan yang dihadapi lansia sekaligus memperkuat hubungan antargenerasi. Sebab, kota yang berkembang bukan hanya kota yang bergerak cepat, melainkan juga kota yang memastikan warganya dapat bergerak bersama.

Pemprov DKI Jakarta turut mendorong organisasi lansia, seperti Badan Perlindungan Lansia Jakarta dan Forum Komunikasi Lanjut Usia, untuk menyatukan langkah menyongsong lima abad Jakarta pada 2027.

Iqbal berharap para lansia dapat mengambil bagian dalam perayaan hari jadi ke-500 ibu kota tersebut.

"Kami harap para lansia turut ambil bagian dan tercatat dalam sejarah kemeriahan perayaan HUT ke-500 Kota Jakarta," ucapnya.

Harapan itu sekaligus menegaskan bahwa lansia bukan sekadar bagian dari masa lalu Jakarta. Mereka tetap menjadi bagian dari kehidupan kota hari ini dan memiliki tempat dalam menentukan arah masa depannya.

Pengalaman, kepedulian, dan keterlibatan mereka merupakan modal sosial yang tidak dapat digantikan oleh pembangunan fisik semata. Ketika Jakarta bersiap memasuki usia lima abad dan memperkuat posisinya sebagai kota global, ukuran keberhasilannya juga terletak pada kemampuan merawat warga yang telah berkontribusi sepanjang hidupnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua