KabarJakarta.com — Bonggol jagung, jaring nelayan bekas, hingga ampas kopi kerap dianggap sebagai limbah yang tidak lagi memiliki manfaat. Namun, melalui pendekatan desain berkelanjutan, material tersebut justru dapat diolah menjadi produk baru yang bernilai guna. Gagasan inilah yang diangkat M Bloc Design Week (MBDW) 2026 melalui tema “Daur Rupa”.
Festival desain tersebut mengajak masyarakat melihat barang bekas dari sudut pandang berbeda. Bukan sekadar sampah yang harus dibuang, material sisa dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan produk kreatif sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan.
"Di sini, intinya, memang isu lingkungan. Isu ruang publik yang inklusif memang yang ingin kami tampilkan,” kata Yacobus Gato Surarjo, Initiator dan Curator M Bloc Design Week 2026, di Jakarta, Jumat (23/10).
Melalui tema “Daur Rupa”, MBDW 2026 menekankan bahwa proses mendesain tidak selalu harus dimulai dari material baru. Bahan yang sebelumnya dianggap tidak terpakai masih memiliki potensi untuk diolah kembali, selama tersedia gagasan kreatif dan pendekatan yang tepat.
Bonggol jagung, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai wadah drum. Jaring nelayan bekas ternyata bisa diolah menjadi material untuk papan bangunan, sedangkan ampas kopi bisa dikembangkan menjadi kap lampu atau tas serbaguna.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa limbah bukan semata persoalan pengelolaan sampah. Material sisa juga menyimpan peluang untuk menghasilkan produk baru yang memiliki fungsi dan nilai ekonomi.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni memperpanjang masa guna material melalui penggunaan kembali, pengolahan, dan pemanfaatan ulang. Dengan cara tersebut, kebutuhan terhadap bahan baku baru dapat ditekan, sementara material yang berpotensi menjadi sampah memperoleh fungsi tambahan.
Bagi generasi muda, gagasan ini sekaligus membuka ruang untuk terlibat dalam upaya keberlanjutan melalui desain dan kreativitas. MBDW tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga berupaya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan serta mendorong keterlibatan komunitas dalam menciptakan solusi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari barang bekas hingga masa depan kota
Semangat mengolah barang bekas menjadi produk bernilai guna yang diusung MBDW 2026 juga berkaitan dengan cara masyarakat merancang dan menggunakan ruang hidupnya. Jika MBDW mengajak publik melihat potensi material yang selama ini terabaikan, Jakarta Architecture Festival (JAF) memperluas perspektif tersebut dengan memperkenalkan peran arsitektur dalam perkembangan kota.
Keduanya menghadirkan sudut pandang yang saling melengkapi: desain tidak hanya berbicara tentang bentuk dan fungsi sebuah produk, tetapi juga tentang bagaimana sumber daya dimanfaatkan, bangunan dirancang, dan ruang publik dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Melalui tema Daur Rupa, MBDW hadir untuk mendorong desainer dan masyarakat mengeksplorasi material bekas menjadi produk baru. Sementara itu, JAF mengajak warga memahami bagaimana arsitektur dapat berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan perkotaan yang lebih sehat, terjangkau, dan inklusif.
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Ariyanto, menjelaskan JAF tidak hanya ditujukan bagi kalangan arsitek, tetapi juga seluruh warga Jakarta.
“Bukan hanya untuk arsitek, tapi seluruh warga Jakarta bisa hadir. Karena di sini, kami memamerkan, sebetulnya apa peran arsitek di pertumbuhan atau perkembangan kota,” ujar Teguh.
Untuk mendekatkan arsitektur dengan kebutuhan sehari-hari, JAF menghadirkan klinik arsitektur gratis. Masyarakat bisa berkonsultasi mengenai desain rumah yang sehat, hunian ekonomis, hingga tata ruang terbaik.
Membaca kota melalui identitas lokal
JAF juga mengeksplorasi karakter sebuah kota melalui pendekatan Sensing the Cities. Pendekatan tersebut mengajak desainer memahami suatu kawasan berdasarkan sejarah, aktivitas masyarakat, dan identitas lokalnya.
Dengan demikian, rancangan tidak hanya mempertimbangkan sisi aspek visual, namun juga konteks sosial dan karakter lingkungan tempat bangunan atau ruang publik berada.
Persinggungan antara MBDW dan JAF terletak pada upaya menempatkan desain sebagai bagian dari solusi atas persoalan lingkungan dan perkotaan. Pemanfaatan material daur ulang menjadi salah satu jalan menuju penggunaan sumber daya yang lebih bijak, sedangkan arsitektur membantu menerjemahkan kebutuhan masyarakat ke dalam rancangan ruang yang fungsional dan inklusif.
Melalui kedua festival ini, publik diajak memahami bahwa desain berkelanjutan tidak berhenti pada mengubah barang bekas menjadi produk baru. Prinsip yang sama juga relevan dalam membangun kota: memanfaatkan sumber daya secara bertanggung jawab, memahami kebutuhan warga, serta menjaga karakter lingkungan agar tetap memiliki nilai bagi generasi mendatang.
Berlangsung di 7 lokasi
Setiap kawasan memiliki cerita, kebiasaan, dan karakter yang perlu dipahami sebelum diterjemahkan menjadi rancangan desain. Dengan memahami konteks tersebut, desain berpeluang menghasilkan ruang yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus mempertahankan identitas kawasan.
Prinsip ini melengkapi semangat Daur Rupa, yang mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih bijak dan memperhatikan lingkungan tempat manusia hidup.
MBDW 2026 berlangsung mulai 23 Oktober hingga 1 November 2026 di enam kota dengan 7 lokasi, yakni M Bloc Space dan Pos Bloc Jakarta, JNM Bloc di Yogyakarta, Lokananta Bloc di Surakarta, Pos Bloc Surabaya, Pos Bloc Medan, hingga Uma Seminyak di Bali.
Festival ini menghadirkan sejumlah karya desainer dari berbagai kota dengan eksplorasi material daur ulang dan pendekatan desain yang berkelanjutan. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, masyarakat diajak melihat bahwa keberlanjutan dapat dimulai dari keputusan sederhana: mengenali potensi barang yang tersedia, memahami kebutuhan lingkungan, dan mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna.
Daur Rupa hadir untuk menawarkan cara pandang baru terhadap barang bekas sekaligus ruang hidup perkotaan. Dari sini tergambar bahwa kreativitas tidak hanya menghasilkan sesuatu yang menarik secara visual, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.