KabarJakarta.com — Kawasan wisata Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, kini memiliki daya tarik baru berupa Masjid Apung An-Nur Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan masjid tersebut pada Jumat, 16 Oktober 2026, dengan harapan kehadirannya memperkuat wisata keagamaan sekaligus menjadi ikon baru Ibu Kota.
Masjid yang berdiri di kawasan pesisir Ancol itu menawarkan pengalaman berbeda bagi masyarakat. Pengunjung tidak hanya dapat beribadah, tetapi juga menikmati arsitektur masjid yang berpadu dengan lingkungan laut.
Kehadirannya menambah pilihan aktivitas bagi wisatawan yang selama ini mengenal Ancol sebagai kawasan rekreasi pantai dan hiburan.
“Saya yakin masjid ini akan menjadi landmark baru wisata keagamaan. Selain berkunjung ke Ancol, juga bisa melihat dan memanfaatkan masjid ini,” kata Pramono di Jakarta, Jumat (16/10).
Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, peresmian tersebut bukan sekadar penyelesaian proyek fisik. Masjid Apung An-Nur diharapkan menjadi ruang ibadah sekaligus destinasi yang memperkaya daya tarik wisata Jakarta.
Arsitektur bahtera iman di atas laut
Masjid Apung An-Nur dirancang oleh arsitek Andra Martin dengan filosofi utama bahtera iman. Konsep tersebut menjadikan bangunan ini bukan hanya fasilitas ibadah, melainkan juga karya arsitektur yang membawa pesan spiritual.
Salah satu keunikannya terletak pada posisi bangunan di kawasan perairan pesisir. Konsep masjid apung menghadirkan perpaduan antara ruang ibadah, lanskap laut, dan pengalaman wisata yang berbeda dari masjid pada umumnya.
Dalam penjelasan sebelumnya, Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Daniel Windriatmoko, menyebut desain masjid memiliki makna arsitektural yang kuat. Jika dilihat dari atas, bentuk bangunannya menyerupai bulan sabit, dengan elemen segi lima di bagian tengah yang terinspirasi dari bentuk kopiah.
“Di masjid apung, nantinya akan ada beberapa histori tentang pembangunan. Karena secara arsitektur juga penuh makna,” kata Daniel dikutip iNews pada Mei 2026.
Masjid ini memiliki luas bangunan 2.241 meter persegi dengan kapasitas awal 600 jamaah. Daya tampung tersebut terdiri atas 460 jamaah pria dan 140 jamaah wanita. Pemerintah juga merencanakan perluasan untuk menambah kapasitas sekitar 300 jamaah.
Sementara itu, Pramono menjelaskan, nama An-Nur dipilih karena menggambarkan cahaya.
“Ketika saya disodorkan beberapa nama agar memutuskan nama masjid ini, saya memutuskan ‘An-Nur’ mengingat tempatnya itu penuh cahaya,” ujarnya.
Perjalanan panjang pembangunan
Gagasan pembangunan Masjid Apung Ancol bermula pada masa Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022, Anies Baswedan. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada 9 November 2019 di kawasan Pantai Ria, Taman Impian Jaya Ancol. Sejak awal, masjid ini diproyeksikan menjadi ikon baru Jakarta sekaligus memperluas pilihan wisata budaya dan keagamaan.
Namun, pembangunan tidak berjalan sesuai rencana. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu hambatan yang memengaruhi kelanjutan proyek. Pekerjaan kemudian dilanjutkan kembali pada November 2024.
Dokumen keuangan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk juga mencatat persoalan dalam pelaksanaan kontrak pembangunan. Kontraktor yang ditunjuk tidak menyelesaikan seluruh pekerjaan hingga batas waktu kontrak. Catatan tersebut menunjukkan bahwa keterlambatan proyek tidak semata-mata berkaitan dengan pandemi, tetapi juga menyangkut pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
Setelah melewati rangkaian hambatan tersebut, masjid akhirnya dapat diresmikan. Penyelesaiannya menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menuntaskan pekerjaan yang telah dirintis pada periode kepemimpinan sebelumnya.
Tantangan menjaga ikon baru Jakarta
Kehadiran Masjid Apung An-Nur membuka peluang bagi Ancol untuk mengembangkan wisata yang tidak hanya berorientasi pada hiburan. Wisatawan dapat menggabungkan kunjungan ke pantai dan wahana rekreasi dengan kegiatan ibadah, sehingga pengalaman berkunjung menjadi lebih beragam.
Namun, status sebagai landmark baru tidak cukup ditentukan oleh desain bangunan atau seremoni peresmian. Keberlanjutan fungsi masjid bergantung pada kualitas pengelolaan, pemeliharaan fasilitas, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan jamaah.
PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, sebagai badan usaha milik daerah yang mengelola kawasan wisata Ancol, memiliki peran penting dalam memastikan fasilitas tersebut terawat dan dapat dimanfaatkan masyarakat. Pengelola juga perlu memperhatikan akses pengunjung, kapasitas jamaah, serta keterpaduan masjid dengan aktivitas wisata di sekitarnya.
Daniel sebelumnya menyampaikan bahwa masjid tersebut disiapkan sebagai destinasi wisata religi yang dapat dinikmati masyarakat luas. Dengan demikian, keberhasilan pengelolaan tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari kemampuan menjaga fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah.
Pramono menegaskan, peresmian Masjid Apung An-Nur merupakan bagian dari upaya menghadirkan Jakarta yang semakin baik dan manusiawi, sekaligus menyediakan ruang bagi seluruh lapisan masyarakat.
Ke depan, tantangan utamanya adalah memastikan masjid ini tidak berhenti sebagai bangunan ikonik. Dengan pengelolaan yang konsisten, Masjid Apung An-Nur berpeluang menjadi ruang ibadah yang nyaman sekaligus tujuan wisata religi yang memperkaya wajah pariwisata Jakarta.