Langsung ke konten
Gaya Hidup

Menelusuri Jejak Hutan di Tengah Hiruk Pikuk MRT Bundaran HI

Redaksi Diperbarui
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bersiap menghadirkan Pameran Temporer “Hutan dan Peradaban: Dari Ekosistem Kehidupan Menuju Masa Depan” pada 12–18 Oktober 2026 di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bersiap menghadirkan Pameran Temporer “Hutan dan Peradaban: Dari Ekosistem Kehidupan Menuju Masa Depan” pada 12–18 Oktober 2026 di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta

KabarJakarta.com —  Langkah penumpang bergegas menuju peron, suara kereta datang dan pergi, sementara arus manusia terus bergerak di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta. Di tengah kesibukan itu, sebuah pameran hadir untuk mengajak masyarakat sejenak berhenti mengenal dunia yang mungkin terasa jauh dari kehidupan perkotaan: hutan.

Melalui pameran temporer “Hutan dan Peradaban: Dari Ekosistem Kehidupan Menuju Masa Depan” pada 12–18 Oktober 2026, pengetahuan tentang kehutanan dibawa langsung ke ruang publik yang menjadi bagian dari keseharian warga Jakarta.

Langkah ini bukan sekadar memindahkan koleksi museum ke tempat yang ramai. Pameran dihadirkan sebagai upaya untuk mendekatkan pengetahuan tentang lingkungan dan kebudayaan kepada masyarakat yang sehari-hari hidup di tengah padatnya aktivitas kota.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Miftahulloh Tamary, menjelaskan pameran tersebut menjadi upaya mendekatkan pengetahuan tentang kehutanan kepada masyarakat di ruang publik dengan mobilitas tinggi.

“Pameran ini hadir untuk mengajak masyarakat melihat hubungan antara hutan, manusia, kebudayaan, dan perkembangan peradaban,” kata Miftahulloh dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (9/10).

Mendekatkan museum kepada masyarakat

Pemilihan Stasiun MRT Bundaran HI menjadi bagian penting dari konsep pameran. Sebagai salah satu titik pergerakan masyarakat Jakarta, stasiun ini mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang dengan aktivitas dan tujuan yang berbeda.

Di tengah rutinitas tersebut, kehadiran pameran membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan baru tanpa harus secara khusus datang ke museum. Penumpang dapat mengenal koleksi kehutanan saat melintas, menunggu kereta, atau menyempatkan diri menjelajahi area pameran.

Pendekatan itu sekaligus memperluas fungsi ruang publik. Stasiun tidak hanya menjadi tempat berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran kebudayaan.

Pameran ini digagas oleh Perkumpulan AMI DKI Jakarta “Paramita Jaya” bersama Museum Kehutanan. Kegiatan tersebut dibuka pada 12 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Museum Indonesia, dan menjadi bagian dari program Pembinaan Museum-Museum di Provinsi DKI Jakarta.

5 zona mengenal kekayaan hutan

Untuk menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dan mudah dipahami, pameran ini dibagi menjadi lima zona. Berbagai koleksi yang ditampilkan meliputi kayu, flora dan fauna, perlengkapan kehutanan, serta aneka hasil hutan.

Pembagian zona memungkinkan pengunjung mengenal hutan dari beragam sisi. Hutan bukan hanya bentang alam yang dipenuhi pepohonan, melainkan ekosistem yang menyimpan keanekaragaman hayati, menyediakan berbagai sumber daya, dan memiliki hubungan panjang dengan kehidupan manusia.

Koleksi kayu, misalnya, dapat membuka pemahaman tentang kekayaan jenis tumbuhan dan pemanfaatannya. Sementara itu, koleksi flora dan fauna memperlihatkan keragaman kehidupan yang bergantung pada keberadaan ekosistem hutan.

Perlengkapan kehutanan dan hasil hutan melengkapi gambaran mengenai hubungan manusia dengan lingkungan. Namun, pemanfaatan kekayaan tersebut juga perlu disertai kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam.

Di sini, pengalaman pengunjung tidak berhenti hanya melihat benda-benda koleksi. Pameran ini menyediakan layar sentuh dan LED interaktif, objek yang dapat disentuh dan diamati, permainan mencocokkan atau matching game, serta Aroma Station yang menghadirkan pengalaman sensorik melalui aroma hasil hutan.

Area pameran juga dilengkapi panel interpretasi, ilustrasi, visual pendukung, mini pustaka, dan photobooth. Berbagai fasilitas tersebut diharapkan memberi informasi yang lebih mudah dipahami oleh pengunjung dengan latar belakang dan usia yang beragam.

Menghubungkan hutan dengan kehidupan kota

Mengapa pengetahuan tentang hutan perlu hadir di tengah Jakarta yang identik dengan gedung tinggi, jalan raya, dan transportasi modern?

Jawabannya berkaitan dengan persoalan lingkungan yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat perkotaan. Perubahan iklim, kualitas udara, dan keberlanjutan kota menunjukkan bahwa kondisi alam tidak dapat dipisahkan dari kehidupan warga.

Meskipun tidak semua warga tinggal berdekatan dengan kawasan hutan, kehidupan mereka tetap berkaitan dengan keberlangsungan ekosistem. Hutan memiliki peran dalam menjaga keseimbangan lingkungan, menyimpan karbon, mengatur siklus air, dan menyediakan habitat bagi berbagai jenis makhluk hidup.

Karena itu, pembahasan tentang hutan tidak semestinya hanya menjadi perhatian masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan atau mereka yang bekerja di bidang kehutanan. Warga kota juga memiliki kepentingan dalam menjaga lingkungan dan memahami dampak aktivitas manusia terhadap alam.

Melalui panel interpretasi, ilustrasi, hingga materi visual, pameran ini berupaya menarik hubungan antara pengetahuan kehutanan dengan konteks kehidupan Jakarta. Pesan tersebut penting agar hutan tidak dipandang sebagai sesuatu yang jauh dari keseharian, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang turut menentukan masa depan kota.

Dari ruang transit menuju ruang kesadaran

Kehadiran “Hutan dan Peradaban” di Stasiun MRT Bundaran HI membawa pesan bahwa pembelajaran lingkungan dapat berlangsung di mana saja, termasuk di tengah kesibukan transportasi perkotaan.

Miftahulloh mengungkapkan, penyelenggaraan pameran ini merupakan bagian dari upaya mendekatkan museum dan pengetahuan kepada masyarakat sekaligus memperluas pemanfaatan ruang publik sebagai ruang pembelajaran kebudayaan.

"Melalui pameran ini, masyarakat diharapkan tak hanya mengenal kekayaan hutan, namun juga memahami keterkaitannya dengan kebudayaan manusia hingga keberlanjutan kehidupan kota." ujarnya.

Pada akhirnya, menjaga hutan bukan semata-mata urusan mereka yang tinggal di dekatnya. Kesadaran tersebut juga perlu tumbuh di tengah masyarakat perkotaan, termasuk para pengguna MRT yang setiap hari bergerak melintasi Jakarta.

Selama 12–18 Oktober 2026, Stasiun MRT Bundaran HI menjadi tempat pertemuan dua dunia yang kerap dianggap berjauhan: hutan dan kota. Dari ruang transit yang sibuk, pameran ini mengajak masyarakat melihat kembali hubungan manusia dengan alam, sekaligus mengingatkan bahwa masa depan kota yang berkelanjutan tidak dapat dilepaskan dari kelestarian lingkungan.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua