KabarJakarta.com — Peralihan menuju kendaraan ramah lingkungan tidak cukup hanya dengan menghadirkan mobil listrik di jalan raya. Jakarta juga membutuhkan tenaga pengajar dan instruktur yang memahami teknologi tersebut agar pengetahuan tentang kendaraan rendah emisi dapat menjangkau lebih banyak orang.
Kebutuhan inilah yang mendorong Pusat Pelatihan Kerja Pengembangan Industri (PPKPI) Pasar Rebo, Jakarta Timur, berkolaborasi dengan perusahaan otomotif asal Korea Selatan, Hyundai, dan Yayasan Plan International Indonesia. Melalui pelatihan Training of Trainer (ToT), ketiganya berupaya memperkuat kompetensi instruktur dan guru otomotif untuk mendukung terwujudnya Jakarta Go Green.
Pelatihan yang berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 itu melibatkan 60 peserta terpilih. Hyundai mengirimkan sembilan instruktur untuk memberikan materi mengenai teknologi kendaraan modern, termasuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Kasubag TU PPKPI Pasar Rebo, Faiz Ajri, menjelaskan peserta terdiri atas instruktur otomotif dari pusat pelatihan kerja dan guru sekolah menengah kejuruan (SMK). Mereka dipilih melalui seleksi tertulis dan wawancara agar pelatihan dapat diikuti oleh peserta yang dinilai memenuhi persyaratan.
"Kita seleksi ada 60 terbaik yang layak mengikuti pelatihan TOT ini. Seleksinya, tertulis dan wawancara. Yang memfasilitasi itu Yayasan Plan Indonesia dan Yayasan Plan Korea," kata Faiz, Rabu (14/10).
Menurut Faiz, kerja sama tersebut menjadi pengalaman pertama PPKPI Pasar Rebo berkolaborasi dengan perusahaan asing dalam program pelatihan semacam ini. Ia berharap langkah tersebut dapat membuka peluang kemitraan serupa dengan perusahaan lain.
"Kolaborasi bersama Hyundai dan Yayasan Plan Indonesia ini merupakan salah satu bentuk upaya mewujudkan Jakarta Go Green," tuturnya.
Memahami teknologi kendaraan listrik
Salah satu fokus pelatihan adalah kendaraan listrik. Berbeda dengan mobil konvensional yang mengandalkan mesin pembakaran internal berbahan bakar bensin atau solar, EV menggunakan motor listrik sebagai penggerak dan baterai isi ulang sebagai sumber energi utama.
Energi listrik dari baterai dialirkan melalui sistem elektronik pengendali untuk menggerakkan motor listrik. Motor tersebut kemudian menghasilkan putaran yang disalurkan ke roda melalui sistem penggerak kendaraan.
"Karena tidak membakar bensin di dalam mesin, EV tidak menghasilkan emisi gas buang dari knalpot saat digunakan," terang Faiz.
Meski demikian, manfaat lingkungan kendaraan listrik juga dipengaruhi oleh sumber listrik yang digunakan untuk mengisi baterai, proses produksi kendaraan, dan pengelolaan baterai pada akhir masa pakainya.
Pemahaman terhadap teknologi ini penting bagi instruktur dan guru otomotif. Perubahan dari mesin konvensional menuju sistem penggerak listrik turut mengubah keterampilan yang dibutuhkan teknisi, mulai dari pemahaman komponen elektronik hingga prosedur keselamatan dalam menangani baterai bertegangan tinggi.
Trainer Hyundai Motor Company High-Tech Volunteer, Kim Kyu Hyung, menjelaskan bahwa pelatihan mencakup tiga materi utama. Pertama, pemahaman mengenai kinerja mesin agar mampu menghasilkan tenaga secara optimal dengan penggunaan energi yang efisien.
Kedua, advanced monitoring, yakni teknologi pemantauan kondisi kendaraan melalui sistem informasi, termasuk dasbor digital. Teknologi ini membantu pengemudi atau teknisi mengetahui kondisi kendaraan, memantau kinerja komponen, serta mengenali potensi gangguan dan masalah keselamatan.
Ketiga, pengenalan eco-friendly vehicle, yang mencakup kendaraan listrik dan kendaraan hibrida. Keduanya memiliki karakteristik berbeda.
EV menggunakan motor listrik sebagai penggerak utama, sedangkan kendaraan hibrida mengombinasikan mesin pembakaran internal dengan motor listrik. Pada hibrida konvensional, baterai umumnya diisi melalui mesin dan pengereman regeneratif, sementara jenis plug-in hybrid juga dapat diisi melalui sumber listrik eksternal.
"Implementasinya sudah mulai di Korsel dan akan menerapkannya di Indonesia melalui pelatihan ini," kata Kim.
Ruang pelatihan menuju Jakarta go green
Dukungan Hyundai dan Plan Indonesia tidak berhenti pada pemberian materi. Kedua pihak juga menghibahkan peralatan khusus kendaraan listrik, empat unit interactive board, meja, kursi, dan pendingin ruangan untuk menunjang kegiatan pembelajaran di PPKPI Pasar Rebo.
Para peserta juga memperoleh sertifikat kepesertaan dari Hyundai Korea. Namun, manfaat jangka panjang program ini diharapkan tidak hanya berupa sertifikat atau penambahan fasilitas, melainkan peningkatan kapasitas lembaga pelatihan dalam menyiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan industri otomotif.
Program Manager Plan International Indonesia, Herbet Barimbing, membeberkan pelatihan tersebut dirancang untuk memperkuat kemampuan instruktur dan guru agar pengetahuan yang diperoleh dapat diteruskan kepada generasi muda.
"Prinsipnya, kami mempersiapkan kaum muda agar siap bekerja. Caranya dengan melatih instruktur dan guru otomotif, sehingga mereka bisa menyampaikan materi ini kembali kepada murid atau peserta pelatihan," papar Herbet.
Pola pelatihan berjenjang ini menjadi penting. Dengan membekali pengajar terlebih dahulu, pengetahuan mengenai kendaraan listrik berpotensi menjangkau lebih banyak siswa dan peserta pelatihan kerja tanpa harus bergantung pada pelatihan langsung dari perusahaan.
Upaya tersebut sejalan dengan gagasan Jakarta Go Green, yakni mendorong pembangunan kota yang lebih ramah lingkungan, termasuk melalui pengurangan emisi transportasi. Penggunaan kendaraan listrik merupakan salah satu bagian dari strategi tersebut, terutama jika didukung oleh pasokan listrik yang semakin bersih, infrastruktur pengisian daya, dan tenaga teknis yang kompeten.
Namun, peralihan menuju transportasi rendah emisi membutuhkan lebih dari sekadar pergantian jenis kendaraan. Kesiapan sumber daya manusia, fasilitas praktik, standar keselamatan, dan kemampuan melakukan perawatan juga menentukan keberhasilan penerapannya.
Menjawab kesenjangan kompetensi di sekolah
Kebutuhan memperbarui pengetahuan otomotif juga dirasakan di lingkungan pendidikan. Fitri Aprilia, guru Teknik Mesin Otomotif SMKN 34 Jakarta yang mengikuti pelatihan, mengaku mendapatkan tambahan wawasan mengenai teknologi kendaraan yang belum banyak dibahas di sekolah.
"Materi yang diajarkan terkait common rail. Jujur, common rail di sekolah masih minim, baik alat peraga maupun materinya. Di sini, kami jadi mengenal lagi produk baru, gambaran common rail, sensor serta fungsinya," ungkap Fitri.
Common rail sendiri merupakan sistem injeksi bahan bakar bertekanan tinggi yang banyak digunakan pada mesin diesel modern. Sistem ini menggunakan saluran bersama untuk memasok bahan bakar ke injektor, dengan tekanan dan waktu penyemprotan yang dikendalikan secara elektronik. Pengaturan tersebut membantu meningkatkan efisiensi pembakaran sekaligus mengendalikan emisi.
Teknologi common rail bukan sistem penggerak kendaraan listrik, melainkan bagian dari perkembangan mesin pembakaran internal. Meski berbeda, pemahamannya tetap relevan bagi guru otomotif karena kendaraan konvensional dan teknologi elektrifikasi masih digunakan berdampingan dalam masa transisi industri.
Pengalaman Fitri memperlihatkan bahwa pembaruan kompetensi pengajar harus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi. Keterbatasan alat peraga dan materi pembelajaran dapat menjadi kendala apabila tidak diimbangi dengan pelatihan serta dukungan fasilitas yang memadai.
Sementara itu, Faiz berharap kerja sama dengan Hyundai dan Plan Indonesia menjadi langkah awal bagi PPKPI Pasar Rebo dalam mengembangkan kelas khusus kendaraan listrik. Untuk mewujudkannya, lembaga tersebut membutuhkan masukan mengenai unit kompetensi, kebutuhan peralatan, dan skema sertifikasi yang sesuai dengan perkembangan industri.
Kolaborasi ini pada akhirnya menempatkan pendidikan vokasi sebagai bagian penting dari agenda lingkungan Jakarta. Kendaraan listrik mungkin menjadi simbol perubahan di jalan raya, tetapi keberlanjutan transisi tersebut juga bergantung pada orang-orang yang mampu mengoperasikan, merawat, dan mengajarkan teknologinya.
Dengan memperkuat kompetensi instruktur dan guru, pelatihan ini membuka peluang agar pengetahuan kendaraan ramah lingkungan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi diteruskan kepada calon tenaga kerja yang akan menopang masa depan transportasi Jakarta.