KabarJakarta.com — Perjalanan bisnis ke Jakarta tak harus berakhir ketika rapat usai atau konferensi ditutup. Di sela agenda pekerjaan, wisatawan dapat menyusuri kawasan bersejarah, mengenal tradisi jamu, hingga menikmati kuliner khas Nusantara.
Perpaduan urusan bisnis dan rekreasi atau bleisure inilah yang ingin diperkuat Jakarta untuk menarik wisatawan mancanegara sekaligus meningkatkan daya saingnya sebagai destinasi global.
Potensi tersebut diperkenalkan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi DKI Jakarta melalui Familiarization Trip (Famtrip) bagi delegasi Jakarta Wonderful Indonesia Travel Fair (JWITF). Melibatkan pelaku industri pariwisata dari 14 negara, kegiatan ini memperlihatkan bahwa Jakarta bukan hanya menawarkan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) berstandar internasional, tetapi juga pengalaman wisata yang dapat melengkapi perjalanan bisnis.
Jakarta tak hanya menawarkan gedung pencakar langit, hotel berbintang, dan pusat konvensi untuk menunjang kegiatan bisnis berskala internasional. Di balik wajah modernnya, ibu kota juga menyimpan kawasan bersejarah, tradisi kuliner, hingga pengalaman budaya yang dapat menjadi pelengkap perjalanan bisnis. Perpaduan inilah yang ingin diperkenalkan Jakarta kepada pelaku industri pariwisata dunia melalui konsep bleisure.
Konsep bleisure, gabungan dari business dan leisure, memungkinkan wisatawan menggabungkan urusan pekerjaan dengan kegiatan rekreasi dalam satu perjalanan. Jakarta melihat peluang tersebut untuk memperkuat daya tariknya sebagai destinasi yang tidak hanya menjadi pusat bisnis, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata yang beragam.
Upaya itu diwujudkan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi DKI Jakarta melalui kegiatan Familiarization Trip (Famtrip) bagi delegasi Jakarta Wonderful Indonesia Travel Fair (JWITF). Sebanyak 14 negara mengirimkan pelaku industri pariwisata, mulai dari tour operator hingga travel agent, untuk mengenal langsung potensi wisata Jakarta.
Delegasi tersebut berasal dari Filipina, Arab Saudi, Tiongkok, India, Jepang, Yunani, Malaysia, Taiwan, Aljazair, Bangladesh, Nigeria, Korea Selatan, Kroasia, dan Thailand. Kehadiran mereka menjadi kesempatan bagi Jakarta untuk memperkenalkan pengalaman wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan mancanegara, termasuk mereka yang datang untuk keperluan bisnis.
Alih-alih hanya memperlihatkan kemegahan kawasan bisnis, perjalanan para delegasi justru diawali dengan menyusuri jejak sejarah di Kota Tua Jakarta.
Sisi lain wajah modern Jakarta
Di tengah bangunan berarsitektur kolonial dan suasana kawasan cagar budaya, para peserta mengunjungi Museum Sejarah Jakarta serta Museum Wayang. Kunjungan ini memberikan gambaran tentang perjalanan panjang Jakarta sekaligus memperkenalkan warisan budaya yang masih menjadi bagian dari identitas kota.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kegiatan bisnis di Jakarta dapat dilengkapi dengan wisata sejarah tanpa harus meninggalkan kawasan perkotaan. Bagi wisatawan yang memiliki waktu terbatas di sela agenda pertemuan atau konferensi, atraksi semacam ini menawarkan alternatif kegiatan yang relatif mudah dimasukkan ke dalam jadwal perjalanan.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Acaraki Kota Tua. Di tempat ini, para delegasi mengikuti demonstrasi pembuatan jamu, minuman herbal tradisional yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia.
Jamu diperkenalkan melalui penyajian yang lebih modern, tetapi tetap mempertahankan unsur tradisionalnya. Para peserta juga berkesempatan mencicipi racikan tersebut secara langsung.
Pengalaman ini memperlihatkan bagaimana warisan lokal dapat dikemas menjadi atraksi wisata yang relevan bagi pengunjung internasional.
Rangkaian perjalanan ditutup dengan agenda Open Dining of Jakarta di Tugu Kunstkring Paleis. Para delegasi menikmati hidangan autentik khas Jakarta dan Nusantara dalam suasana yang hangat dan akrab.
Kuliner menjadi bagian penting dalam pengalaman tersebut. Selain memperkenalkan kekayaan cita rasa Indonesia, kegiatan bersantap bersama juga membuka ruang interaksi yang lebih santai setelah peserta menjelajahi kawasan bersejarah dan mengikuti aktivitas budaya.
Ketiga pengalaman itu membentuk satu rangkaian yang saling melengkapi: sejarah, tradisi, dan kuliner. Jakarta tidak sekadar menawarkan tempat untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang dapat dinikmati di sela-sela perjalanan bisnis.
Memperkuat daya saing melalui wisata dan bisnis
Kepala Disparekraf DKI Jakarta, Andhika Permata, menjelaskan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat daya saing Jakarta di tingkat global.
"Jakarta terus melaju menuju Top 50 Global City. Kami ingin tunjukkan kepada dunia, bahwa di balik modernitas dan gedung-gedung pencakar langit yang menunjang acara MICE, Jakarta menyimpan kekayaan sejarah, kehangatan tradisi dan budaya yang membuat pengalaman berwisata (leisure) di kota ini jadi berkesan,” ujar Andhika di Jakarta, Jumat (16/10).
Menurut Kepala Bidang Pemasaran dan Atraksi Disparekraf DKI Jakarta, Lucky Wulandari, rute yang disusun khusus untuk para delegasi tersebut bertujuan memperlihatkan fleksibilitas Jakarta sebagai destinasi bleisure.
“Kota Tua, museum, edukasi jamu, hingga kuliner heritage merupakan atraksi penyeimbang yang sempurna bagi wisatawan bisnis maupun leisure. Kami merancang rute ini dengan harapan para pelaku pariwisata dunia mendapatkan gambaran utuh tentang portofolio wisata yang ditawarkan Jakarta,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Sub Kelompok Pemasaran Luar Negeri Disparekraf DKI Jakarta, Ervienia Oryza, menilai kunjungan delegasi dari 14 negara menjadi momentum yang tepat untuk memperluas jangkauan promosi Jakarta di pasar internasional.
Menurutnya, pengalaman langsung para peserta dapat menjadi sarana promosi yang efektif karena mereka bisa menilai sendiri potensi destinasi sebelum merekomendasikannya kepada calon wisatawan.
“Kami optimistis langkah ini menunjukkan kesiapan DKI Jakarta untuk berdiri sejajar dengan kota-kota utama dunia. Menjadikannya bukan hanya sebagai hub konektivitas dan bisnis, namun juga destinasi MICE hingga leisure terdepan di kawasan regional dan internasional,” tandasnya.
Melalui Famtrip JWITF, Jakarta berupaya menunjukkan bahwa perjalanan bisnis tidak harus berhenti pada ruang rapat, hotel, atau pusat konvensi. Wisatawan dapat memperpanjang pengalaman mereka dengan menyusuri sejarah kota, mengenal tradisi lokal, dan mencicipi kuliner Nusantara.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman tersebut mudah diakses dan terintegrasi dengan agenda bisnis para pengunjung. Jika berhasil dikemas secara konsisten, perpaduan fasilitas MICE dan atraksi wisata berpotensi memperkuat posisi Jakarta sebagai destinasi bleisure yang mampu bersaing di tingkat regional maupun internasional.