Langsung ke konten
Gaya Hidup

Pengalaman Budaya, Ujian Jakarta Menuju Kota Global

Jakarta, Kota Global, Jakarta Kota Global, Budaya, Festival Internasional, Pengalaman Budaya, Ujian Jakarta, Menuju Kota Global, Acara Budaya, Pertunjukan Seni, Pameran, Kegiatan Olahraga, Bappeda Provinsi DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania,

Redaksi
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta Atika Nur Rahmania dalam "Forum Diskusi Lintas Sektor: Posisi dan Reposisi Festival Internasional dalam Rangka Jakarta Kota Global" di Jakarta, Selasa (20/10/2026). Foto: ANTARA
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta Atika Nur Rahmania dalam "Forum Diskusi Lintas Sektor: Posisi dan Reposisi Festival Internasional dalam Rangka Jakarta Kota Global" di Jakarta, Selasa (20/10/2026). Foto: ANTARA

KabarJakarta.com — Jakarta tidak cukup menjadi kota global hanya dengan gedung pencakar langit, pusat bisnis, dan infrastruktur modern. Kota ini juga perlu menawarkan pengalaman budaya yang hidup, beragam, dan mampu menarik perhatian masyarakat dunia. Festival internasional, pertunjukan seni, pameran, hingga kegiatan olahraga menjadi bagian penting dari daya tarik tersebut.

Persoalannya, menghadirkan acara budaya belum tentu cukup. Jakarta perlu memastikan kegiatan itu memiliki kualitas, berlangsung secara berkelanjutan, dan terhubung dalam ekosistem yang melibatkan pemerintah, pelaku seni, komunitas, serta sektor swasta.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta Atika Nur Rahmania menilai pengelolaan ekosistem budaya menjadi salah satu tantangan yang perlu dijawab bersama. Kualitas kurasi festival internasional di Jakarta belum konsisten, sementara kalender kegiatan masih terfragmentasi dan belum berkelanjutan.

“Dari kacamata sebagai perencana, ada beberapa hal yang perlu kita identifikasi sebagai tantangan yang memang harus kita jawab bersama,” kata Atika di Jakarta, Selasa (20/10).

Pernyataan itu menyoroti persoalan mendasar: bagaimana Jakarta mengubah berbagai kegiatan budaya menjadi kekuatan kota yang bekerja sepanjang tahun, bukan sekadar keramaian sesaat.

Budaya sebagai ukuran kota global

Dalam Global Cities Index 2025 yang dirilis lembaga internasional Kearney, Jakarta naik dari peringkat ke-74 menjadi ke-71 dunia dari total 158 kota. Capaian ini menunjukkan perbaikan posisi Jakarta, tetapi peningkatan peringkat juga menuntut upaya untuk memperkuat berbagai aspek yang menentukan daya saing kota.

Salah satu aspek tersebut adalah pengalaman budaya, yang menurut Atika memiliki bobot 15 persen dalam dimensi penilaian Global City Index. Cakupannya meliputi seni visual dan pertunjukan, wisatawan mancanegara, kegiatan olahraga, serta kehadiran daring.

Pengalaman budaya penting karena kota global bukan hanya tempat perusahaan beroperasi atau modal berpindah. Kota juga menjadi ruang pertemuan manusia, gagasan, kreativitas, dan identitas dari berbagai latar belakang.

Melalui festival, konser, pameran, dan pertunjukan, sebuah kota menawarkan alasan bagi orang untuk datang, tinggal lebih lama, serta kembali berkunjung. Kegiatan budaya juga membuka ruang bagi seniman lokal untuk memperkenalkan karya kepada audiens internasional, sekaligus mempertemukan pelaku kreatif dengan calon mitra dan pasar baru.

Dampaknya dapat meluas ke sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, transportasi, dan usaha kecil. Namun, manfaat tersebut tidak otomatis muncul hanya karena sebuah acara digelar. Besarnya dampak bergantung pada kualitas kegiatan, jumlah pengunjung, keterlibatan pelaku lokal, dan kemampuan penyelenggara menjaga keberlanjutan program.

Karena itu, pengalaman budaya bukan sekadar pelengkap citra kota. Ia dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi, diplomasi budaya, dan penguatan identitas Jakarta di mata dunia.

Festival tidak cukup digelar sesekali

Tantangan muncul ketika berbagai festival berjalan sendiri-sendiri tanpa kalender yang terkoordinasi, standar kurasi yang konsisten, atau arah pengembangan jangka panjang. Dalam situasi seperti ini, kegiatan budaya berisiko hanya menghasilkan perhatian sesaat, tanpa membangun alasan kuat bagi wisatawan dan pelaku industri kreatif untuk terus kembali.

Kalender yang terfragmentasi juga dapat menyulitkan promosi. Wisatawan, penyelenggara perjalanan, dan calon mitra internasional membutuhkan informasi yang jelas mengenai agenda budaya, waktu pelaksanaan, serta karakter setiap acara. 

"Tanpa koordinasi, potensi jadwal dan pengulangan kegiatan dengan sasaran serupa akan lebih sulit untuk dihindari," katanya

Kualitas kurasi menjadi persoalan lain. Festival internasional tidak cukup dinilai dari jumlah penampil atau besarnya panggung. Program perlu memiliki identitas, standar artistik, relevansi dengan masyarakat, dan daya tarik bagi audiens lintas negara.

Jika festival internasional tidak berkembang sebagai bagian dari dimensi budaya kota, Jakarta berisiko kehilangan kesempatan membangun reputasi melalui karya dan pengalaman yang khas. 

Kota mungkin tetap menyelenggarakan banyak acara, tetapi belum tentu memiliki kalender budaya yang kuat, mudah dikenali, dan mampu bersaing dengan destinasi global lainnya. Kondisi tersebut juga dapat membatasi peluang pelaku seni lokal untuk memperluas jaringan dan memperoleh manfaat ekonomi. 

Meski demikian, tidak tepat menyimpulkan bahwa festival yang tidak terkoordinasi otomatis menurunkan peringkat Jakarta. Penilaian kota global melibatkan banyak indikator, sedangkan dampak festival perlu diukur melalui data pengunjung, belanja wisatawan, keterlibatan pelaku lokal, dan jangkauan internasional.

Pemerintah sebagai pemantik ekosistem

Untuk mengatasi persoalan itu, Atika menekankan pentingnya pembagian peran di antara para pemangku kepentingan. Pemerintah, menurut dia, seharusnya memulai proses dengan mendorong terbentuknya ekosistem, bukan menjadi satu-satunya pihak yang menjalankan seluruh kegiatan.

“Pemerintah seharusnya berada di bagian awal sebagai pemantik atau pemicu. Kemudian juga sebagai pendorong, sehingga ekosistem ini bergerak dan bekerja,” ujarnya.

Peran tersebut dapat diwujudkan melalui penyusunan kalender budaya terpadu, dukungan terhadap pengembangan kapasitas penyelenggara, standar kurasi yang transparan, serta promosi yang menjangkau pasar internasional. Pemerintah juga perlu membuka ruang kolaborasi agar komunitas, seniman, pengelola ruang budaya, sponsor, dan industri pariwisata dapat mengambil peran sesuai keahlian masing-masing.

Pembagian tanggung jawab penting agar penyelenggaraan festival tidak bergantung sepenuhnya pada anggaran atau pergantian prioritas pemerintah. Pelaku budaya membutuhkan kepastian program, akses pendanaan, ruang berkarya, dan kesempatan mengembangkan kegiatan secara mandiri. Sementara itu, sektor swasta dapat mendukung pembiayaan dan promosi, sedangkan komunitas membantu menjaga relevansi kegiatan dengan kebutuhan masyarakat.

Pengelolaan semacam ini juga memerlukan evaluasi berkala. Jumlah festival saja tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan. 

Pemerintah dan penyelenggara perlu melihat siapa yang datang, seberapa besar keterlibatan seniman lokal, bagaimana manfaat ekonomi tersebar, serta apakah kegiatan tersebut mampu menarik perhatian audiens internasional.

Dari keramaian menuju daya saing

Atika mengingatkan bahwa peningkatan posisi Jakarta tidak dapat dicapai melalui satu indikator atau satu program saja. Seluruh aspek yang membentuk kota global perlu dikelola sebagai satu kesatuan.

“Bagaimana kita mampu mengelola ekosistemnya, karena ini bukanlah capaian yang berdiri sendiri. Tetapi bagaimana kita bisa merangkul seluruh ekosistem yang ada, di tiap-tiap aspek agar bisa menjadikan peringkatnya menjadi naik,” kata dia.

Bagi Jakarta, tantangannya bukan sekadar memperbanyak festival internasional, melainkan membangun sistem yang membuat kegiatan budaya tumbuh, terhubung, dan bertahan dalam jangka panjang.Ketika pengalaman budaya dikelola secara konsisten, Jakarta berpeluang menawarkan lebih dari sekadar tempat untuk bekerja dan berbisnis. 

Kota ini dapat menjadi tujuan untuk menikmati seni, mengenal keragaman, dan menemukan pengalaman yang tidak mudah dijumpai di tempat lain. Karena itu, ukuran keberhasilan bukan hanya berapa banyak festival yang berlangsung atau seberapa tinggi peringkat Jakarta. 

Yang terpenting adalah apakah panggung budaya mampu memperluas kesempatan bagi pelaku kreatif, memberi manfaat kepada masyarakat, dan membuat Jakarta semakin berarti bagi dunia.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua