Langsung ke konten
Gaya Hidup

Pramono Bidik Jakarta jadi Tuan Rumah Major Marathon, 37 Ribu Pelari Meriahkan JRF 2026

Redaksi
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menghadiri Race Expo myBCA Jakarta Running Festival 2026 di Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (23/10). Foto: Pemprov DKI
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menghadiri Race Expo myBCA Jakarta Running Festival 2026 di Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (23/10). Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com – Ribuan pelari mulai memadati Race Expo myBCA Jakarta Running Festival (JRF) 2026 di Istora Senayan, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Jumat (23/10). Di antara peserta yang datang untuk mengambil perlengkapan lomba, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo turut mengambil race pack untuk mengikuti kategori 10 kilometer (10K).

Kehadiran Pramono bukan sekadar untuk meramaikan ajang lari tersebut. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melihat Jakarta Running Festival sebagai salah satu kesempatan untuk memperkuat posisi ibu kota sebagai tuan rumah kegiatan olahraga berskala internasional.

Tahun ini, Jakarta Running Festival diikuti sekitar 37.000 peserta dari 48 negara, termasuk lebih dari 1.000 pelari internasional. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya daya tarik ajang lari ini sekaligus peluang Jakarta untuk menjangkau lebih banyak peserta dari berbagai negara.

"Ini menunjukkan, Jakarta kian dipercaya untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dulunya mungkin belum pernah dilakukan," kata Pramono saat mengunjungi Race Expo.

Menurut Pramono, kepercayaan tersebut tidak terlepas dari penyelenggaraan acara yang semakin profesional. Ia menyoroti penataan alur peserta, penyediaan merchandise, hingga kualitas jersey resmi yang menjadi bagian dari pengalaman pelari.

Bagi Jakarta, penyelenggaraan acara olahraga internasional bukan hanya soal jumlah peserta. Kualitas pengelolaan, kenyamanan, dan kemampuan mengakomodasi pelari dari berbagai negara juga menjadi bagian penting untuk membangun reputasi sebagai destinasi olahraga.

Jakarta half marathon raih pengakuan internasional

Salah satu capaian yang memperkuat posisi Jakarta Running Festival tahun ini adalah kategori Jakarta Half Marathon yang telah mendapatkan predikat World Athletics Gold Label.

Pengakuan dari World Athletics tersebut merupakan penanda penting bagi penyelenggaraan lomba lari jalan raya. Label ini diberikan berdasarkan standar dan persyaratan yang ditetapkan badan atletik dunia, sehingga menjadi salah satu indikator kualitas kompetisi di tingkat internasional.

Capaian tersebut sekaligus membuka peluang bagi Jakarta untuk meningkatkan skala penyelenggaraan pada tahun-tahun berikutnya. Pramono berharap Jakarta tidak berhenti pada keberhasilan menggelar ajang lari internasional, tetapi mampu melangkah menuju penyelenggaraan maraton berkelas dunia yang lebih besar.

"Saya mengapresiasi, mudah-mudahan 2, 3, 4 tahun lagi, 3 tahunlah, jangan kelamaan, mudah-mudahan major marathon bisa betul-betul dilaksanakan di Jakarta oleh Jakarta Running Festival,” ujar Pramono.

Target itu membutuhkan persiapan yang tidak sederhana. Selain kualitas lintasan dan pengelolaan peserta, penyelenggara perlu memastikan dukungan transportasi, keselamatan, layanan publik, serta koordinasi lintas sektor berjalan baik.

Transportasi gratis hingga MRT beroperasi dini hari

Untuk mendukung kelancaran acara, Pemprov DKI menyediakan layanan transportasi umum gratis bagi peserta selama mereka masih mengenakan atribut resmi Jakarta Running Festival.

Kebijakan itu diharapkan membantu pelari mencapai lokasi kegiatan tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi. Selain mengurangi beban biaya peserta, penggunaan transportasi umum juga berpotensi menekan kepadatan lalu lintas di sekitar kawasan GBK.

Dukungan juga diberikan melalui layanan MRT Jakarta yang dijadwalkan mulai beroperasi pukul 03.00 WIB. Jam operasional lebih awal ini penting bagi peserta yang harus tiba di lokasi sebelum perlombaan dimulai.

Di sisi lain, Pemprov DKI menerapkan rekayasa lalu lintas selama kegiatan berlangsung. Pramono meminta masyarakat memahami penyesuaian tersebut demi kelancaran acara.

"Untuk itu mohon dimengerti, dipahami, karena untuk pelaksanaan ini Pemprov DKI betul-betul ingin memberikan support sepenuhnya agar berjalan secara baik,” katanya.

Modifikasi cuaca jadi upaya antisipasi

Tantangan penyelenggaraan tahun ini bertambah karena Jakarta Running Festival berlangsung berdekatan dengan konser Kanye West. Kedua kegiatan internasional tersebut berpotensi meningkatkan mobilitas masyarakat, terutama di kawasan yang menjadi pusat aktivitas acara.

Pemprov DKI juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengantisipasi hujan dan kondisi panas selama kegiatan berlangsung.

Namun, efektivitas operasi tersebut perlu dilihat berdasarkan data cuaca dan evaluasi pelaksanaannya. Modifikasi cuaca tidak menjamin hujan dapat dihentikan atau suhu udara turun secara langsung. Hasilnya bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan yang sesuai, serta waktu dan lokasi pelaksanaan operasi.

Karena itu, belum ada dasar untuk menyimpulkan besarnya penurunan curah hujan atau suhu hanya dari informasi bahwa OMC telah dilaksanakan. Data pengamatan cuaca sebelum dan selama acara diperlukan untuk menilai dampaknya secara terukur.

Pramono berharap Jakarta Running Festival dan konser Kanye West dapat berlangsung aman, lancar, dan tertib. Bagi Jakarta, keberhasilan mengelola dua kegiatan berskala internasional dalam waktu berdekatan akan menjadi ujian kemampuan kota dalam memberikan layanan publik sekaligus menjaga kepercayaan penyelenggara dan pengunjung.

Jika target menjadi tuan rumah major marathon ingin terwujud dalam 3 (tiga) tahun mendatang, keberhasilan Jakarta tidak cukup diukur dari banyaknya peserta. Konsistensi standar penyelenggaraan, kesiapan infrastruktur, dan kemampuan mengantisipasi berbagai risiko akan menentukan apakah kepercayaan internasional itu dapat terus dipertahankan.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua