Langsung ke konten
Gaya Hidup

Sarendo-Rendo, Perayaan Budaya yang Merajut Kebersamaan di Jakarta

Redaksi Diperbarui
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, melepas ribuan peserta Karnaval Sarendo Rendo di Monumen Nasional (Monas) sisi Barat Daya, Jakarta Pusat, Minggu  (14/12) pagi. Foto: Pemprov DKI
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, melepas ribuan peserta Karnaval Sarendo Rendo di Monumen Nasional (Monas) sisi Barat Daya, Jakarta Pusat, Minggu (14/12) pagi. Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com — Suasana Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, terasa semarak pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026. Warga memadati area acara untuk menikmati Festival Sarendo-Rendo yang menghadirkan hiburan musik, termasuk penampilan grup JKT48. 

Di tengah keramaian itu, seni dan kebudayaan menjadi alasan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk berkumpul, menikmati pertunjukan, dan merayakan kebersamaan.

Festival yang digelar dalam rangka Hari Kebudayaan Nasional 2026 ini bukan sekadar panggung hiburan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin menjadikan perayaan tersebut sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan budaya Indonesia sekaligus mempererat hubungan di tengah keberagaman.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkapkan, Sarendo-Rendo berakar pada tradisi kebersamaan masyarakat yang berkumpul untuk merayakan sesuatu secara bersama-sama. Semangat itu dinilai tetap relevan dengan kehidupan Jakarta, kota yang mempertemukan warga dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang beragam.

"Malam ini, dalam rangka Hari Kebudayaan Nasional 2026, kita merayakan sebuah perayaan yang di kampung dulu disebut dengan Serendo-Rendo," ujar Rano di Taman Lapangan Banteng, Sabtu (17/10).

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta sebagai kota metropolitan, kebudayaan menjadi salah satu ruang yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Bagi Rano, semangat Sarendo-Rendo relevan dengan kehidupan Jakarta yang dihuni masyarakat dari berbagai daerah dan latar belakang budaya. 

Tradisi berkumpul dan bergembira bersama menjadi pengikat di tengah perbedaan. Kebudayaan pun tidak hanya menjadi milik kelompok tertentu, tetapi juga bagian dari kehidupan bersama yang patut dirawat.

Perayaan ini menjadi kesempatan bagi warga untuk mengenal kekayaan budaya Nusantara melalui pengalaman langsung. Masyarakat tidak sekadar menyaksikan pertunjukan, tetapi juga dapat menikmati ragam ekspresi budaya yang memperlihatkan kekayaan tradisi Indonesia.

Jakarta, bertemunya kebudayaan nusantara

Rangkaian Hari Kebudayaan Nasional 2026 berlanjut dengan karnaval budaya di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Minggu (18/10) pagi. Kegiatan tersebut melibatkan para raja dan sultan dari berbagai daerah di Nusantara.

Kehadiran para raja dan sultan menjadi salah satu upaya untuk memperlihatkan keragaman warisan budaya Indonesia. Mereka merepresentasikan tradisi dan sejarah dari berbagai wilayah yang memiliki kekhasan masing-masing. 

Keterlibatan itu sekaligus memberikan kesempatan kepada masyarakat Jakarta untuk mengenal lebih dekat identitas budaya dari berbagai penjuru Tanah Air. Rano mengingatkan, keberagaman tersebut memperkuat posisi Jakarta sebagai tempat bertemunya berbagai kebudayaan. 

Sebagai kota yang dihuni masyarakat dari beragam daerah, Jakarta memiliki ruang untuk mempertemukan tradisi lokal dengan kebudayaan lain tanpa menghilangkan karakter masing-masing.

"Hadir karnaval yang memperlihatkan bahwa Jakarta menjadi melting pot atau tempat berkumpulnya kebudayaan," katanya.

Gagasan Jakarta sebagai tempat bertemunya berbagai budaya tidak hanya tercermin dalam keterlibatan para peserta karnaval. Lebih dari itu, perayaan semacam ini menunjukkan bagaimana ruang publik dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan perbedaan sebagai kekayaan bersama.

Melalui kegiatan tersebut, Hari Kebudayaan Nasional diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Perayaan ini dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan ketertarikan masyarakat terhadap seni dan tradisi, termasuk di kalangan generasi muda yang hidup di tengah perkembangan teknologi dan budaya populer.

Merawat budaya Betawi

Di tengah keberagaman budaya yang hadir di Jakarta, pelestarian kebudayaan Betawi tetap menjadi bagian penting dari upaya membangun identitas kota. Sebagai kebudayaan masyarakat asli Jakarta, tradisi Betawi memiliki kekayaan seni, bahasa, kuliner, dan kesenian yang perlu terus diperkenalkan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya menjaga keberlanjutan budaya tersebut dengan memberikan ruang bagi para pelaku seni untuk menampilkan karya mereka kepada masyarakat. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan posisi Jakarta sebagai kota budaya yang terbuka, inklusif, dan berkarakter.

Pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan dengan menjaga kesenian agar tetap ada. Tradisi juga perlu diperkenalkan secara luas, dipertunjukkan di ruang publik, serta dibuat dekat dengan kehidupan masyarakat agar dapat dikenal dan dinikmati lintas generasi.

Dalam konteks Festival Sarendo-Rendo 2026, semangat tersebut bertemu dengan upaya memperkenalkan kebudayaan Nusantara. Kehadiran unsur budaya dari berbagai daerah diharapkan dapat memperkaya pengalaman masyarakat sekaligus memperlihatkan bahwa identitas Jakarta tumbuh melalui perjumpaan berbagai tradisi.

Dengan demikian, pelestarian budaya Betawi dan pengenalan kebudayaan Nusantara bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya dapat berjalan berdampingan, dengan budaya Betawi sebagai bagian penting dari identitas Jakarta dan kebudayaan daerah lain sebagai unsur yang memperkaya kehidupan kota.

Dari pertunjukan menjadi pengalaman bersama

Festival Sarendo-Rendo juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati kebudayaan dalam suasana yang lebih dekat dan terbuka. Kehadiran warga yang memadati Taman Lapangan Banteng menunjukkan bahwa perayaan budaya dapat dipadukan dengan hiburan yang menarik bagi berbagai kalangan.

Dalam kesempatan tersebut, Rano menyapa warga yang hadir menjelang penampilan grup musik JKT48. Kehadiran grup musik populer ini menjadi salah satu hiburan dalam festival, sekaligus memperlihatkan bagaimana kegiatan kebudayaan dapat menjangkau penonton dengan minat yang beragam.

Perpaduan antara pesan pelestarian budaya dan hiburan memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati acara tanpa harus memiliki pengetahuan khusus mengenai tradisi tertentu. Dari pengalaman tersebut, ketertarikan terhadap kebudayaan dapat tumbuh melalui cara yang lebih santai dan menyenangkan.

Meski demikian, keberhasilan perayaan budaya tidak semata-mata diukur dari jumlah pengunjung atau kemeriahan pertunjukan. Keberlanjutan kegiatan, keterlibatan seniman, serta kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal dan mempelajari tradisi juga menjadi bagian penting dari upaya pelestarian kebudayaan.

Karena itu, festival seperti Sarendo-Rendo merupakan titik awal untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam kehidupan budaya Jakarta. Ruang publik yang digunakan untuk pertunjukan seni dapat mempertemukan seniman, komunitas, dan warga dalam pengalaman yang sama.

Merayakan perbedaan perkuat kebersamaan

Melalui Festival Sarendo-Rendo dalam rangka Hari Kebudayaan Nasional 2026, Pemprov DKI Jakarta berupaya menjadikan kebudayaan sebagai sarana mempererat hubungan antarmasyarakat. Semangat berkumpul dan merayakan sesuatu bersama-sama menjadi pesan utama di tengah kehidupan kota yang dinamis.

Keterlibatan para raja dan sultan dari berbagai daerah dalam karnaval budaya turut memperlihatkan luasnya kekayaan tradisi Indonesia. Sementara itu, upaya merawat budaya Betawi menegaskan pentingnya menjaga identitas lokal agar tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta.

Pada akhirnya, kebudayaan bukan hanya tentang pertunjukan di atas panggung atau tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kebudayaan juga hidup dalam cara masyarakat saling mengenal, menghormati perbedaan, dan membangun kebersamaan.

Dengan membuka ruang bagi beragam ekspresi budaya, Jakarta berkesempatan memperkuat identitasnya sebagai kota yang inklusif dan berkarakter. Sebuah kota yang tidak hanya menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai daerah, tetapi juga ruang bagi mereka untuk saling mengenal, menghargai, dan merayakan kekayaan budaya Indonesia bersama-sama.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua