KabarJakarta.com — Pengakuan internasional terhadap ruang terbuka hijau Jakarta datang dari sebuah taman di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Taman Bendera Pusaka berhasil masuk dalam jajaran 40 finalis terbaik Seoul Design Award 2026. Pencapaian ini menjadi sorotan karena taman tersebut tidak sekadar dirancang untuk mempercantik wajah ibu kota, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi ekologis kawasan perkotaan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengaku bangga atas penghargaan tersebut. Menurutnya, pencapaian ini membuktikan bahwa penataan ruang publik di Jakarta mulai mendapat pengakuan di tingkat internasional.
"Berita yang sangat menggembirakan, Taman Bendera Pusaka mendapat ranking yang utama, yang dikeluarkan Seoul Design Award," kata Pramono di kawasan Jakarta Utara, Jumat (7/11).
Pramono menilai penghargaan tersebut menjadi kabar baik bagi Jakarta, terutama setelah pembangunan taman itu sempat menuai penolakan. Dia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau di ibu kota memiliki nilai dan daya saing di mata dunia.
"Kalau dulu ada yang tidak setuju Taman Bendera Pusaka, alhamdulillah sekarang diakui oleh internasional," ujarnya.
Berdasarkan informasi penyelenggara Seoul Design Award 2026, Taman Bendera Pusaka masuk dalam kategori Top 40 Finalists. Ajang penghargaan desain internasional tersebut menerima 1.204 pengajuan proyek dari 91 negara.
Pengakuan ini penting karena penilaian tidak hanya bertumpu pada keindahan desain. Aspek keberlanjutan lingkungan, pemulihan fungsi ekologis, dan manfaat ruang publik bagi kehidupan masyarakat turut menjadi pertimbangan.
Berawal dari penggabungan 3 taman
Taman Bendera Pusaka bukan dibangun dari kawasan kosong. Taman ini merupakan hasil integrasi tiga ruang terbuka hijau yang sudah lebih dahulu dikenal masyarakat, yakni Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Leuser.
Pembangunannya dimulai pada 8 Agustus 2025 dengan menggabungkan ketiga taman tersebut menjadi satu kawasan seluas sekitar 5,6 hektare. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian meresmikannya pada 14 Maret 2026.
Namun, rencana penataan kawasan Barito itu tidak berjalan tanpa persoalan. Salah satu penolakan datang dari pedagang Pasar Hewan Barito yang keberatan dengan rencana relokasi kios mereka. Para pedagang khawatir perubahan kawasan akan berdampak terhadap keberlangsungan mata pencaharian.
Persoalan tersebut membuat pembangunan taman menjadi perdebatan antara kepentingan penataan ruang publik dan perlindungan ekonomi masyarakat yang sudah lama beraktivitas di kawasan itu.
Pemerintah tetap melanjutkan proyek dengan alasan memperluas ruang terbuka hijau dan menyediakan fasilitas publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dengan demikian, kontroversi pembangunan taman tidak semata-mata berkaitan dengan desain, tetapi juga menyangkut bagaimana penataan kota memperhitungkan kepentingan warga terdampak.
Mengubah saluran beton jadi ruang ekologis
Keistimewaan Taman Bendera Pusaka terletak pada pendekatan desain yang menyatukan kebutuhan manusia dengan pemulihan lingkungan. Kawasan itu tidak hanya menggabungkan tiga taman, tetapi juga mengubah cara ruang hijau menjalankan fungsinya di tengah kota yang semakin padat.
Salah satu pembaruan penting terlihat pada sistem pengelolaan air. Saluran air yang sebelumnya didominasi konstruksi beton ditata kembali melalui pendekatan Water Sensitive Urban Design. Saluran tersebut dinaturalisasi dengan tepian bervegetasi dan kawasan lahan basah (wetland).
Desain ini memungkinkan air hujan mengalir lebih lambat, tertampung sementara, dan mengalami penyaringan alami sebelum masuk ke saluran berikutnya. Kawasan tersebut juga dirancang untuk memperluas ruang tampung air sehingga dapat membantu mengurangi risiko genangan ketika hujan deras.
Pendekatan tersebut penting bagi Jakarta yang menghadapi persoalan banjir, suhu perkotaan yang meningkat, dan berkurangnya kawasan resapan air. Taman tidak lagi sekadar menjadi tempat menikmati pepohonan, tetapi turut berperan sebagai bagian dari infrastruktur pengendalian dampak perubahan iklim.
Pemulihan fungsi ekologis juga dilakukan dengan menghadirkan vegetasi di sekitar aliran air. Penataan tersebut membuka peluang bagi burung, ikan, dan serangga untuk kembali menemukan habitat di lingkungan perkotaan.
Keberadaan pepohonan dan tanaman berlapis juga membantu menyediakan keteduhan, menjaga kelembapan, serta menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pengunjung. Dengan demikian, revitalisasi tidak hanya mengubah tampilan taman, tetapi juga memperbaiki hubungan antara air, tanah, tumbuhan, dan kehidupan manusia.
Zona merah dan putih
Keunikan lainnya terlihat dari desain yang mengambil inspirasi filosofi Sang Saka Merah Putih. Kawasan taman dibagi menjadi zona merah yang lebih aktif dan dinamis serta zona putih yang menawarkan suasana lebih tenang.
Keduanya dihubungkan melalui jembatan dan jalur pedestrian sehingga pengunjung dapat menjelajahi kawasan tanpa harus kembali melewati jalan umum. Taman ini juga dilengkapi jalur jogging sepanjang 1,2 kilometer, fasilitas olahraga, area bermain anak, dan ruang berkumpul masyarakat.
Perpaduan tersebut membuat taman memiliki fungsi yang lebih luas. Anak-anak dapat bermain, warga berolahraga, komunitas menggelar kegiatan, sementara pengunjung lainnya bisa menikmati suasana hijau dan berinteraksi dengan alam.
Konsep inilah yang membuat Taman Bendera Pusaka memiliki nilai lebih dibandingkan taman yang hanya mengutamakan estetika. Infrastruktur lingkungan dan fasilitas publik ditempatkan dalam satu kesatuan desain.
Bagi Jakarta, masuknya taman ini dalam 40 finalis terbaik Seoul Design Award 2026 menjadi pengakuan bahwa pembangunan kota tidak harus selalu berorientasi pada gedung dan infrastruktur beton. Ruang hijau juga dapat menjadi bagian penting dari inovasi perkotaan.
Meski demikian, penghargaan internasional bukan akhir dari pekerjaan. Keberhasilan taman tetap harus dibuktikan melalui pemeliharaan vegetasi, kualitas air, kemampuan mengendalikan limpasan hujan, serta kenyamanan masyarakat dalam jangka panjang.
Pengakuan dunia telah membuka pintu bagi Jakarta. Tantangan berikutnya adalah memastikan Taman Bendera Pusaka benar-benar menjadi ruang publik yang lestari, bukan sekadar taman indah yang membanggakan ketika menerima penghargaan.