Kabar JakartaNews With Data

Nilai Rupiah Hari ini Melemah, Ada Apa?

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

  • Penulis : Hendra N. Arthur
  • Terbit : 10.05.2018 - 17:20
  • Sekitar : Terbit 10/5/18
Nilai Rupiah Hari ini Melemah, Ada Apa?
Pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir merupakan dampak dari menguatnya dolar AS secara berskala luas (broadbase) terhadap seluruh mata uang. [Ilustrasi]

KabarJakarta.com --- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan rupiah tidak bisa dibiarkan terus melemah. Oleh karena itu, pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI).

"Koordinasi kita ngasih evaluasi, BI punya evaluasinya," kata Menko Darmin saat ditemui di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Rabu 9 Mei 2018.

Darmin menilai depresiasi atau pelemahan rupiah telah berlangsung terlalu lama. "Kalau cuma seminggu dua minggu tidak apa-apa, tapi ini sudah berjalan lama," ujar dia.

Berbagai pihak memiliki pendapat berbeda terkait faktor yang menyebabkan melemahnya nilai tukar mata uang Indonesia tersebut.

Dilansir dari BBC Indonesia, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman Zainal, mengungkapkan gejolak nilai tukar rupiah terjadi karena pelaku pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika.

Dengan naiknya tingkat suku bunga, maka AS akan menjadi tempat yang 'lebih menguntungkan' untuk berinvestasi.

Alhasil, investor yang sebelumnya menanam dana di berbagai negara, termasuk Indonesia, memindahkan investasinya ke AS. Maret lalu, Bank Sentral Amerika menaikkan tingkat suku bunganya dari 1,5% menjadi 1,75%. 

Kenaikan ini akan terjadi lagi pada Juni 2018. Karena porsi investor asing kita di pasar modal cukup besar, maka ketika dapat dividen, investor asing cenderung mengonversinya menjadi dolar," tuturnya.

"Nanti kita akan lihat hasil kajiannya seperti apa. Tergantung semua kajian, lalu akan diputuskan apa. Kami tak bisa mendahului. Rapat baru 16 dan 17 Mei nanti," tegas Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman Zainal.

Bank Indonesia masih belum memastikan apakah akan menaikkan tingkat suku bunganya. Sementara Agusman dari Bank Indonesia menyebut mereka akan mendesak pemerintah untuk menjaga iklim ekonomi tetap kondusif.

"Karena yang banyak keluar saat ini adalah arus modal jangka pendek. Sementara yang jangka panjang tetap tinggal, tetap bertahan lama. Kita harus pertahankan itu," pungkasnya.

Bank Indonesia menegaskan pemerintah harus menjamin distribusi sembako agar pelemahan nilai tukar tidak berdampak masif, perlunya pemerintah untuk menjaga harga bahan pokok tetap stabil adalah menjamin distribusinya tetap terjaga, dimohon pada semua pelaku ekonomi menjaga situasi kondusif, sehingga tidak akan memberikan dampak bahaya bagi konsumen.

Taufiq Ariesta Ardhiawan dari pihak BI Sulsel juga mengemukakan pendapatnya, pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir adalah merupakan dampak dari menguatnya dolar AS secara berskala luas (broadbase) terhadap seluruh mata uang.

Pelemahan itu, lanjutnya terkait dengan semakin solidnya ekonomi AS di tengah lambatnya pemulihan ekonomi di berbagai kawasan. Nilai tukar Rupiah secara year to date (YTD) per 8 Mei 2018 melemah 3.44%, sedangkan Peso Pilipina melemah 3.72%, Rupee India 4,76%, Real Brazil 6,83%, Rubel Rusia 8,93%, dan Lira Turkey 11,51% . Tekanan pada nilai tukar mata uang negara-negara maju lainnya juga besar.

"Indonesia sudah mengalami beberapa tekanan yang cukup besar seperti saat ini dalam lima tahun terakhir sejak bank sentral AS melakukan program tapering di tahun 2013. Kami meyakini bahwa Indonesia juga akan berhasil melewati tekanan saat ini dengan baik, dan perekonomiannya tetap tumbuh berkesinambungan dan stabil, " tambahnya.

Kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia tercermin dari data realisasi pertumbuhan PDB Triwulan IV-2017, serta pertumbuhan PDB Triw-I 2018 sebesar 5,06% (yoy), yang tetap stabil, kuat, dengan struktur ekonomi yang lebih baik.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2018 merupakan capaian tertinggi di pola musiman triwulan I sejak tahun 2015. Permintaan domestik yang meningkat pada triwulan I 2018 juga didukung oleh investasi yang naik dan konsumsi swasta yang tetap kuat.

Sementara itu, kestabilan inflasi tetap terjaga pada level rendah sesuai target 3,5%+/-1%. Untuk menjaga kesinambungan pemulihan ekonomi, Bank Indonesia tengah terus menempuh langkah-langkah stabilisasi yang diperlukan termasuk terus melanjutkan intervensi di pasar valuta asing secara terukur, stabilisasi di pasar Surat Utang Negara (SBN), dan mengoptimalkan berbagai instrument operasi moneter valas dan rupiah, termasuk membuka lelang Forex Swap untuk menjaga ketersediaan likuditas Rupiah dan menstabilkan suku bunga di pasar uang untuk memastikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan dipastikan terkelola dengan baik.