Langsung ke konten
Kesehatan

Beda Pola Asuh dengan Kakek-Nenek, IDAI Ingatkan Keselamatan Bayi Harus Diutamakan

Redaksi Diperbarui
Bayi usia 0-3 bulan belum siap menerima makanan karena enzim pencernaannya belum matang. Ginjalnya juga belum siap untuk mencerna makanan padat dengan baik, selain susu. Foto: bebeclub.co.id
Bayi usia 0-3 bulan belum siap menerima makanan karena enzim pencernaannya belum matang. Ginjalnya juga belum siap untuk mencerna makanan padat dengan baik, selain susu. Foto: bebeclub.co.id

KabarJakarta.com — Perbedaan cara merawat bayi kerap muncul di tengah keluarga. Orang tua mungkin berpegang pada rekomendasi dokter, sementara kakek dan nenek mengandalkan pengalaman mengasuh anak pada masa lalu. Meski sama-sama dilandasi rasa sayang, tidak semua kebiasaan turun-temurun sesuai dengan pengetahuan medis saat ini.

Persoalan ini menjadi perhatian setelah muncul pemberitaan terkait bayi di Surabaya yang dilaporkan meninggal setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya. Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa pemberian makanan kepada bayi tidak bisa hanya didasarkan pada kebiasaan keluarga, tetapi harus mempertimbangkan usia dan keamanan pangan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan para orang tua agar mengutamakan keselamatan anak saat menghadapi perbedaan pemahaman mengenai pola asuh, utamanya jika praktik yang dilakukan berpotensi membahayakan kesehatan bayi.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, meminta para orang tua tetap perlu menghormati kakek dan nenek ketika menemui adanya perbedaan pandangan mengenai pengasuhan.

“Kita tentunya perlu menghormati orang tua dan kakek-nenek, karena mereka memberi nasihat berdasarkan pengalaman dan rasa sayang kepada cucunya,” kata Piprim di Jakarta Senin (13/10).

Namun, pengalaman masa lalu tidak selalu sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran. Praktik yang dahulu dianggap baik, belum tentu terbukti aman jika didasarkan pada pengetahuan medis saat ini.

Telur mentah bukan makanan bayi

Pemberian telur mentah merupakan salah satu contoh praktik yang perlu diwaspadai orang tua. Sebagian orang mungkin meyakini makanan tersebut dapat menambah kekuatan atau mempercepat pertumbuhan anak. 

"Padahal, telur mentah maupun setengah matang berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi," kata Piprim.

Infeksi Salmonella dapat menimbulkan diare, demam, sakit perut, dan muntah. Pada bayi, infeksi yang berat berisiko menyebabkan dehidrasi dan komplikasi serius sehingga memerlukan penanganan medis.

Karena itu, telur mentah atau setengah matang sangat tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak. Telur harus dimasak terlebih dahulu hingga matang sebelum dikonsumsi.

Terkait pemberitaan bayi di Surabaya, dugaan pemberian telur mentah perlu dipisahkan dari kesimpulan mengenai penyebab kematian. Penyebab pasti kematian bayi tersebut harus merujuk pada hasil pemeriksaan dan keterangan tenaga medis yang berwenang. 

Tanpa kepastian tersebut, tidak tepat menyimpulkan bahwa telur mentah merupakan penyebab langsung kematian. Meski demikian, risiko keamanan pangan tetap perlu menjadi perhatian setiap keluarga, terlepas dari perkembangan kasus tersebut.

Pemberian makanan harus sesuai usia

Selain memastikan makanan diolah dengan aman, orang tua perlu memahami kebutuhan nutrisi bayi berdasarkan tahapan usianya. Pada 6 (enam) bulan pertama kehidupan, ASI eksklusif dianjurkan bagi bayi, kecuali terdapat kondisi medis tertentu yang memerlukan penyesuaian berdasarkan saran tenaga kesehatan. 

Setelah memasuki usia enam bulan, bayi mulai membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI) dengan tekstur, jumlah, dan kandungan gizi yang disesuaikan dengan perkembangan kemampuannya.

Makanan pendamping sebaiknya beragam dan mencakup sumber protein, seperti telur yang dimasak hingga matang, daging, ikan, serta bahan pangan bergizi lainnya. Pengenalan makanan juga perlu memperhatikan risiko tersedak, kebersihan pengolahan, dan kemungkinan alergi.

Orang tua sebaiknya tidak memberikan makanan atau ramuan tertentu kepada bayi hanya karena dipercaya bermanfaat secara turun-temurun. Jika ragu mengenai jenis makanan, waktu pemberian, atau cara perawatan, konsultasi dengan dokter anak dapat membantu memastikan keputusan yang diambil sesuai kebutuhan bayi.

Hormati orang tua, tetap tegas melindungi anak

Perbedaan pola asuh tidak harus berakhir dengan pertengkaran. Piprim menyarankan orang tua menjelaskan alasan medis di balik keputusan mereka secara santun. 

Kakek dan nenek juga sebaiknya diajak berdiskusi atau berkonsultasi bersama dokter anak agar seluruh anggota keluarga memiliki pemahaman yang sama. Pola pengasuhan bayi, kata Piprim, merupakan tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga yang memang harus terlibat dalam perawatannya. 

Karena itu, informasi kesehatan yang benar perlu dipahami bukan hanya oleh orang tua, tetapi juga oleh siapa pun yang membantu menjaga bayi. "Prinsipnya, tradisi yang baik memang perlu dipertahankan, tetapi ketika suatu praktik berpotensi membahayakan kesehatan anak, maka keselamatan perlu didahulukan,” ujarnya.

Piprim juga mengajak seluruh anggota keluarga merawat anak dengan penuh kasih sayang, disertai pengetahuan yang memadai.

“Kami di IDAI mengajak semua keluarga, termasuk kakek-nenek, agar bersama-sama merawat anak berdasarkan kasih sayang, dilandasi ilmu pengetahuan,” katanya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa menghormati orang tua dan mempertahankan tradisi tidak berarti harus menerima setiap praktik pengasuhan tanpa pertimbangan. Orang tua tetap memiliki peran penting untuk memastikan makanan yang diberikan, cara merawat, serta tindakan sehari-hari aman bagi bayinya.

Pada akhirnya, kasih sayang dalam keluarga perlu berjalan seiring dengan pemahaman medis. Ketika pengalaman lama bertentangan dengan rekomendasi kesehatan, keselamatan bayi harus menjadi pertimbangan utama.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua