KabarJakarta.com — Bagi anak-anak usia sekolah dasar, imunisasi menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi kesehatan mereka sejak dini. Namun, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan vaksin.
Kehadiran anak di sekolah, dukungan orang tua, serta koordinasi dengan tenaga kesehatan turut menentukan berapa banyak anak yang mendapatkan perlindungan tersebut.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini berupaya memperkuat koordinasi dengan sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), dan orang tua menjelang pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada November 2026. Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan cakupan imunisasi sekaligus menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan vaksinasi pada pelaksanaan sebelumnya.
Pemprov DKI sengaja memasang targetkan cakupan imunisasi dalam program tersebut mencapai 90 persen. Target itu menjadi perhatian karena capaian sejumlah imunisasi pada Agustus lalu masih sedikit di bawah angka yang diharapkan.
"Melalui penguatan koordinasi dengan sekolah, fasyankes, dan dukungan orang tua, cakupan imunisasi bisa terus ditingkatkan sehingga target bisa dicapai," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Sri Puji Wahyuni dikutip ANTARA di Jakarta, Senin (26/10).
Menjangkau anak yang belum diimunisasi
Pelaksanaan BIAS pada November mendatang, difokuskan pada pemberian vaksin difteri dan tetanus (DT) untuk siswa kelas 1 sekolah dasar (SD), dan vaksin tetanus dan difteri (Td) untuk siswa kelas 2 dan kelas 5 SD.
Selain melaksanakan imunisasi sesuai jadwal, Dinas Kesehatan DKI Jakarta berupaya memastikan anak-anak yang belum mendapatkan vaksin pada periode sebelumnya tidak terlewatkan.
Untuk mendukung langkah tersebut, Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah memberikan arahan kepada Suku Dinas Kesehatan di tingkat kabupaten dan kota agar menyampaikan data capaian imunisasi hingga unit terkecil di wilayah masing-masing. Pendataan itu diperlukan untuk menyukseskan identifikasi anak yang belum mendapatkan imunisasi, dan menentukan tindak lanjutnya.
Fasilitas pelayanan kesehatan yang tergabung dalam jejaring juga diharapkan turut membantu pelaksanaan program, serta menyebarluaskan informasi ini kepada masyarakat, utamanya orang tua.
Dengan pendataan yang lebih terarah, upaya meningkatkan cakupan imunisasi tidak hanya berfokus pada jumlah anak yang telah divaksinasi, tetapi juga pada anak-anak yang masih membutuhkan layanan tersebut.
Capaian Agustus masih di bawah target
BIAS dilaksanakan dua kali dalam setahun, yakni pada Agustus dan November, dengan jenis vaksin yang disesuaikan berdasarkan kelompok kelas dan sasaran imunisasi.
Pada Agustus 2026, program BIAS mencakup pemberian vaksin Measles Rubella (MR) kepada siswa kelas 1 SD untuk mencegah campak dan rubela. Sementara itu, vaksin Human Papillomavirus (HPV) difokuskan pada siswa kelas 5 SD untuk membantu mencegah infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks.
Berdasarkan data Dinkes DKI, imunisasi MR telah diberikan kepada 124.035 anak atau mencapai 88,98 persen. Adapun vaksin HPV telah diberikan kepada 59.230 anak, dengan cakupan 89,02 persen.
"MR (kelas 1 SD) 124.035 anak (88,98 persen), dan HPV (kelas 5 SD) 59.230 anak (89,02 persen). Dengan target 90 persen, capaian dua jenis imunisasi ini masih perlu ditingkatkan," ujar Sri.
Angka tersebut menunjukkan, cakupan kedua jenis imunisasi masih belum mencapai target yang ditetapkan sebelumnya. Meski selisihnya relatif kecil, diperlukan upaya lanjutan untuk memastikan lebih banyak anak memperoleh perlindungan melalui vaksinasi.
Sementara itu, capaian imunisasi DT dan Td belum tersedia karena pemberiannya baru dijadwalkan pada November 2026.
Guru dan orang tua berperan penting
Upaya meningkatkan cakupan imunisasi juga membutuhkan keterlibatan pihak sekolah. Guru dan tim Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) berperan penting dalam melakukan pendataan siswa, mendampingi siswa saat divaksin, dan memantau proses pelaksanaan imunisasi.
Perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang DKI Jakarta, dr. Tuty Herawati, Sp.A(K), menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan BIAS melalui pendampingan keilmuan. Dukungan tersebut diharapkan membantu pelaksanaan imunisasi berjalan sesuai prinsip kesehatan dan kebutuhan anak.
Tuty juga menekankan pentingnya koordinasi antara guru dan orang tua sehingga pelaksanaan BIAS di sekolah bisa berlangsung optimal.
"Yang berperan penting dalam BIAS, tentunya guru. Guru dan tim UKS diwajibakan melakukan pendataan, pendampingan anak-anak saat divaksin, dan memantau proses tindakan. Selain itu, Pemda perlu memastikan program BIAS harus terlaksana," terangnya.
Keterlibatan orang tua tidak kalah penting. Informasi yang jelas mengenai jadwal, jenis vaksin, dan manfaat imunisasi dapat membantu orang tua memahami pentingnya program tersebut serta memastikan anak mengikuti layanan yang tersedia.
Pada akhirnya, target cakupan 90 persen bukan sekadar angka dalam laporan kesehatan. Di baliknya, ada upaya memastikan semakin banyak anak usia sekolah memperoleh perlindungan dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
Melalui pelaksanaan BIAS pada November 2026, Pemprov DKI Jakarta berupaya memperkuat layanan sekaligus menutup kesenjangan cakupan imunisasi. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada kerja bersama pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, dan keluarga agar tidak ada anak yang tertinggal.