Langsung ke konten
Kesehatan

Bukan Sekadar Flu Biasa, Influenza A Bisa Memicu Pneumonia hingga Gagal Napas

Redaksi
Influenza A diberi nama berdasarkan 2 protein kunci: Hemagglutinin (H) dan Neuraminidase (N). Kedua protein ini menentukan bagaimana virus menginfeksi sel tubuh dan bagaimana ia dilepaskan untuk menginfeksi sel berikutnya. Foto: kabarjakarta.com
Influenza A diberi nama berdasarkan 2 protein kunci: Hemagglutinin (H) dan Neuraminidase (N). Kedua protein ini menentukan bagaimana virus menginfeksi sel tubuh dan bagaimana ia dilepaskan untuk menginfeksi sel berikutnya. Foto: kabarjakarta.com

KabarJakarta.com — Demam yang datang tiba-tiba, badan terasa pegal, tenggorokan sakit, dan batuk kerap dianggap sebagai gejala flu biasa. Banyak orang memilih beristirahat atau mengonsumsi obat yang dijual bebas tanpa memeriksakan diri ke dokter. Padahal, gejala serupa juga bisa menandakan infeksi Influenza A yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

Merujuk pada Kementerian Kesehatan, Influenza A merupakan salah satu jenis virus influenza yang menyerang saluran pernapasan. Meski sering disamakan dengan flu biasa, infeksi ini dapat berkembang menjadi pneumonia atau radang paru-paru, gagal napas, hingga kematian, terutama pada kelompok rentan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar satu miliar kasus influenza musiman setiap tahun di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 3–5 juta kasus berkembang menjadi penyakit berat, dengan 290.000–650.000 kematian akibat gangguan pernapasan setiap tahunnya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa influenza bukan sekadar gangguan kesehatan ringan. Memahami perbedaan Influenza A dan flu biasa menjadi langkah penting agar masyarakat tidak terlambat mengenali gejala maupun mencari pertolongan medis.

Influenza A berbeda dari flu biasa

Istilah flu biasa umumnya digunakan untuk menggambarkan infeksi saluran pernapasan atas yang dapat disebabkan oleh berbagai virus, seperti rhinovirus. Sementara itu, Influenza A merupakan infeksi spesifik yang disebabkan oleh virus influenza tipe A.

Bersama influenza B, virus ini menjadi penyebab utama epidemi influenza musiman. Namun, Influenza A mendapat perhatian khusus karena dapat menginfeksi manusia dan sejumlah hewan, sekaligus memiliki kemampuan memunculkan varian baru yang berpotensi memicu pandemi.

Virus ini memiliki dua protein utama di permukaannya, yaitu hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N). Kombinasi kedua protein tersebut digunakan untuk mengidentifikasi subtipe virus. Dua subtipe yang rutin beredar pada manusia adalah A(H1N1) dan A(H3N2).

Perbedaan lainnya terletak pada pola gejala. Flu biasa cenderung muncul secara bertahap, misalnya diawali bersin, hidung berair, atau tenggorokan tidak nyaman. Sebaliknya, Influenza A sering menimbulkan gejala secara mendadak, dengan demam, nyeri otot, sakit kepala, batuk, dan kelelahan yang lebih berat.

Meski demikian, gejala saja tidak selalu cukup untuk memastikan jenis infeksi. Sejumlah penyakit pernapasan lain dapat menimbulkan keluhan serupa sehingga pemeriksaan medis diperlukan apabila kondisi pasien mengkhawatirkan.

Virus berubah dan sulit dikendalikan

Salah satu alasan Influenza A sulit dikendalikan secara permanen adalah kemampuannya mengalami perubahan genetik. Perubahan tersebut dikenal sebagai antigenic drift dan antigenic shift. 

Antigenic drift merupakan perubahan kecil yang terjadi secara bertahap akibat mutasi virus. Perubahan ini memungkinkan virus menghindari sebagian kekebalan yang terbentuk setelah seseorang terinfeksi atau menerima vaksin sebelumnya.

Adapun antigenic shift merupakan perubahan besar yang dapat menghasilkan virus influenza A dengan kombinasi materi genetik baru. Proses ini dapat terjadi ketika virus berbeda bertukar materi genetik, termasuk virus yang berasal dari hewan.

Jika virus baru mampu menular antarmanusia dan sebagian besar populasi belum memiliki kekebalan yang memadai, risiko munculnya pandemi dapat meningkat.

Kemampuan virus untuk terus berubah membuat vaksin influenza perlu diperbarui secara berkala agar sesuai dengan varian yang diperkirakan beredar. Vaksinasi tidak menjamin seseorang terbebas sepenuhnya dari infeksi, tetapi dapat mengurangi risiko penyakit berat dan komplikasi.

Cara Influenza A menular

Penularan Influenza A terutama terjadi melalui partikel pernapasan yang dikeluarkan ketika orang terinfeksi bernapas, berbicara, batuk, atau bersin. Risiko penularan meningkat saat seseorang berada dekat dengan penderita, terutama di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk.

Penularan melalui tangan atau permukaan benda yang terkontaminasi juga dapat terjadi, meskipun bukan jalur utama. Risiko dapat dikurangi dengan mencuci tangan dan menghindari kebiasaan menyentuh mata, hidung, serta mulut menggunakan tangan yang belum dibersihkan.

Hal lain yang perlu diwaspadai, penderita dapat menularkan virus sekitar satu hari sebelum gejala muncul. Penularan biasanya berlanjut selama lima hingga tujuh hari setelah gejala pertama, meskipun durasinya dapat berbeda pada setiap orang.

Karena itu, orang yang tampak sehat belum tentu bebas dari risiko menularkan virus. Penggunaan masker saat sakit, menjaga ventilasi ruangan, dan menghindari kontak dekat dengan kelompok rentan menjadi bagian penting dalam mencegah penyebaran.

Kenali gejala dan waspadai komplikasi

Influenza A umumnya ditandai demam yang muncul mendadak, nyeri otot, sakit kepala, batuk kering, sakit tenggorokan, dan kelelahan berat. Hidung tersumbat atau berair juga dapat terjadi. Pada anak-anak, infeksi terkadang disertai mual, muntah, atau diare.

Sebagian besar penderita akan membaik dalam beberapa hari hingga sekitar satu minggu. Namun, virus ini dapat menimbulkan komplikasi, terutama pada lansia berusia 65 tahun ke atas, anak di bawah lima tahun, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, asma, dan penyakit jantung.

Komplikasi yang paling perlu diwaspadai adalah pneumonia, baik akibat virus influenza itu sendiri maupun infeksi bakteri sekunder. Peradangan paru-paru dapat mengganggu pertukaran oksigen dan berkembang menjadi gagal napas.

Dalam kasus yang lebih berat, influenza juga dapat memicu peradangan otot jantung, peradangan otak, atau sepsis. Selain itu, infeksi dapat memperburuk penyakit yang sebelumnya sudah diderita pasien.

Sesak napas, nyeri dada, kebingungan, bibir kebiruan, atau gejala yang sempat membaik kemudian memburuk kembali merupakan tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Kapan pemeriksaan laboratorium Diperlukan?

Karena gejalanya menyerupai penyakit pernapasan lain, Influenza A tidak selalu dapat dipastikan hanya melalui pemeriksaan fisik. Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan laboratorium berdasarkan gejala, tingkat keparahan, kondisi pasien, dan kebutuhan penanganan.

Salah satu pilihan adalah tes antigen cepat atau rapid influenza diagnostic test (RIDT). Hasilnya dapat diperoleh dalam waktu relatif singkat, tetapi sensitivitasnya lebih rendah dibandingkan pemeriksaan molekuler. Artinya, hasil negatif belum tentu menyingkirkan kemungkinan influenza.

Pemeriksaan reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi sehingga lebih andal untuk mengonfirmasi infeksi. Pemeriksaan molekuler terutama dipertimbangkan bagi pasien rawat inap atau mereka yang mengalami penyakit berat ketika hasilnya diperlukan untuk menentukan penanganan.

Pengambilan sampel umumnya dilakukan melalui usap saluran pernapasan. Pemeriksaan yang dilakukan pada awal penyakit dapat membantu meningkatkan peluang mendeteksi virus, meskipun waktu pengambilan sampel dan jenis pemeriksaan tetap memengaruhi hasil.

Pada pasien berisiko tinggi atau dengan gejala berat, pengobatan antivirus dapat dipertimbangkan sesegera mungkin berdasarkan penilaian dokter. Manfaatnya paling besar jika dimulai dalam 48 jam pertama, tetapi pengobatan pada pasien dengan penyakit berat atau yang dirawat di rumah sakit tetap dapat bermanfaat meski diberikan lebih lambat.

Pencegahan dimulai dari kebiasaan sederhana

Menjaga daya tahan tubuh saja tidak cukup untuk mencegah penularan. Masyarakat perlu menerapkan langkah yang lebih terarah, mulai dari mendapatkan vaksin influenza setiap tahun, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker saat sakit, hingga memastikan sirkulasi udara di dalam ruangan berjalan baik.

Orang yang mengalami gejala sebaiknya beristirahat di rumah dan mengurangi kontak dengan orang lain, khususnya kelompok rentan. Antibiotik tidak dapat mengobati Influenza A karena penyakit ini disebabkan oleh virus. Penggunaannya hanya diperlukan apabila dokter menemukan indikasi infeksi bakteri.

Pada akhirnya, membedakan Influenza A dari flu biasa bukan semata-mata soal mengenali jenis virus, melainkan juga memahami kapan suatu penyakit membutuhkan perhatian lebih serius. Gejala yang muncul mendadak dan terasa berat, terutama pada kelompok berisiko, tidak seharusnya diabaikan.

Dengan mengenali tanda bahaya, menjalani pemeriksaan saat diperlukan, dan melakukan pencegahan secara konsisten, risiko komplikasi dapat ditekan. Flu mungkin sering dianggap penyakit musiman, tetapi kewaspadaan terhadap Influenza A tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua