KabarJakarta.com — Masa remaja, tentu bukan sekadar fase peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada periode ini, seseorang mulai mengenali perubahan di dirinya, membangun hubungan sosial, serta belajar mengambil keputusan yang akan memengaruhi masa depannya.
Karena itu, pemahaman tentang kesehatan reproduksi menjadi bekal penting yang tidak seharusnya dibicarakan secara sembunyi-sembunyi atau dianggap tabu.
Di tengah derasnya arus informasi digital, remaja bisa dengan mudah menemukan berbagai penjelasan mengenai tubuh dan seksualitas. Namun, kemudahan akses, tidak selalu diikuti dengan hadirnya informasi yang benar.
Tanpa pendampingan yang memadai, mereka berisiko mendapat informasi keliru atau memahami perubahan dirinya melalui sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Kondisi itulah yang membuat edukasi kesehatan reproduksi semakin relevan. Bukan untuk mendorong perilaku berisiko, melainkan membantu remaja memahami tubuhnya, mengenali batasan diri, serta mengambil keputusan secara bijaksana.
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAP) DKI Jakarta, Leny Yunengsih, menegaskan bahwa edukasi kesehatan reproduksi tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang memalukan untuk dibicarakan.
"Di tengah perkembangan teknologi, arus informasi digital terkait tubuh dan seksualitas hadir cukup deras. Sayangnya, tidak semua informasi itu akurat dan sesuai kebutuhan dan perkembangan mereka. Edukasi kesehatan reproduksi jangan dianggap tabu," kata Leny dalam seminar daring yang dipantau di Jakarta, Rabu (28/10).
Jangan biarkan remaja mencari jawaban sendiri
Perubahan yang dialami remaja tidak selalu berujung dengan pertumbuhan fisik. Mereka juga mengalami perkembangan psikologis, emosional, serta sosial yang memengaruhi kemampuan berpikir, pembentukan karakter, serta kemampuan memutuskan pilihan terbaik.
Secara fisik, remaja akan mengalami perubahan tubuh seiring masa pubertasnya. Perubahan itu tentu memunculkan rasa ingin tahu, kebingungan, bahkan ketidaknyamanan ketika mereka belum memahami apa yang sedang terjadi. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi membantu mereka mengenali perubahan tersebut sebagai bagian dari perkembangan diri.
Dari sisi psikologis dan emosional, remaja mulai aktif membangun identitas, mencari pengakuan, termasuk belajar mengelola perasaan. Mereka mungkin lebih sensitif terhadap penilaian orang lain, mengalami perubahan suasana hati, atau menghadapi tekanan untuk mengikuti lingkungan pergaulan.
Sementara itu, perkembangan sosial membuat hubungan dengan teman sebaya semakin berarti. Keinginan agar bisa diterima terkadang memengaruhi keberanian seseorang untuk menolak ajakan yang tidak sesuai dengan nilai dan batasan pribadinya.
Dalam situasi seperti itu, pengetahuan saja tidak cukup. Remaja butuh kehadiran orang dewasa yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi, menjelaskan dengan bahasa yang gampang dipahami, serta membantu dalam menimbang konsekuensi dari setiap keputusan yang dipilih.
Orang tua memiliki peran krusial dalam proses ini. Percakapan terkait kesehatan reproduksi harus dilakukan secara terbuka dan bertahap, sesuai tingkatan usia serta pemahaman anak. Dengan demikian, rumah dapat menjadi tempat yang aman untuk bertanya, bukan ruang yang membuat remaja takut mengungkapkan persoalan.
Kenali tubuhmu, jaga masa depanmu
Pentingnya pemahaman tersebut menjadi salah satu perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas PPAP. Salah satu upayanya dengan menggelar seminar kesehatan reproduksi bertema "Kenali Tubuhmu, Jaga Masa Depanmu: Ngobrol Seru tentang Kesehatan" pada Selasa (27/10), yang disiarkan melalui kanal YouTube Dinas PPAPP DKI Jakarta.
Seminar menghadirkan sejumlah pakar, di antaranya Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia cabang Jakarta Raya (POGI Jaya) dan Ikatan Psikolog Klinis Indonesia.
Pelibatan tenaga ahli menjadi penting sehingga remaja dan masyarakat memperoleh pemahaman yang sesuai dengan aspek kesehatan fisik maupun psikologis. Melalui kegiatan edukasi seperti ini, Dinas PPAP berupaya membuka ruang pembelajaran sekaligus mendorong masyarakat melihat kesehatan reproduksi sebagai bagian dari pendidikan dan perlindungan remaja.
Tema "Kenali Tubuhmu, Jaga Masa Depanmu" memiliki pesan yang jauh lebih luas, ketimbang sekadar memahami organ reproduksi. Mengenali tubuh berarti memahami perubahan yang dialami, mengetahui hak atas keamanan diri, serta menyadari bahwa setiap orang berhak menetapkan batasan dalam hubungan dengan orang lain.
Pemahaman ini membantu remaja mengenali situasi yang berpotensi membahayakan, memahami pentingnya persetujuan dalam interaksi pribadi, dan mengetahui kapan harus mencari bantuan. Mereka juga dapat belajar membedakan informasi kesehatan yang dapat dipercaya dari konten digital yang menyesatkan.
Berbekal pembelajaran itu, remaja tidak mudah mengambil keputusan hanya karena tekanan teman sebaya, rasa penasaran, atau keinginan mendapatkan pengakuan dari lingkungan.
Rencanakan masa depan dimulai dari hari ini
Menurut Leny, edukasi kesehatan reproduksi juga berkaitan dengan kemampuan remaja mempersiapkan masa depan secara bertanggung jawab.
"Dinas PPAPP berusaha memberi pemahaman bahwa merencanakan masa depan, berarti mampu mengenai resiko, menetapkan batasan diri, membangun relasi yang sehat serta membuat keputusan yang bertanggung jawab," katanya.
Dengan demikian, perencanaan masa depan tidak hanya tentang memilih pendidikan, pekerjaan, atau cita-cita. Ada kemampuan dasar yang perlu dibangun sejak dini, yakni mengenali risiko, memahami konsekuensi, dan berani menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan yang matang.
Mengenali risiko juga membantu remaja dalam mengantisipasi dampak akibat tindakan tertentu, termasuk risiko kesehatan, keselamatan, hingga kondisi psikologis. Menetapkan batasan diri membuat mereka lebih mampu mengatakan tidak terhadap tekanan yang merugikan.
Adapun relasi yang sehat dibangun melalui rasa saling menghormati, komunikasi terbuka, dan penghargaan terhadap batasan masing-masing. Hubungan semacam itu membuat remaja tidak harus mengorbankan keamanan dan kenyamanan dirinya demi sebuah pengakuan.
Kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab melengkapi seluruh proses tersebut. Remaja perlu belajar mempertimbangkan pilihan, memahami akibatnya, serta mencari bantuan saat menghadapi persoalan yang tidak bisa diselesaikan sendiri.
Kemampuan-kemampuan itu tidak terbentuk dalam semalam. Dibutuhkan pendampingan keluarga, pendidikan yang memadai, lingkungan pergaulan yang positif, serta akses terhadap layanan kesehatan yang tepat.
Lingkungan aman tumbuh menjadi pribadi berdaya
Upaya edukasi tentunya tidak akan optimal, jika remaja masih takut bertanya atau khawatir mendapat stigma saat menceritakan persoalannya. Itu sebabnya, membangun pemahaman terkait kesehatan reproduksi tidak bisa dibebankan hanya kepada remaja semata.
Orang tua, sekolah, tenaga kesehatan, termasuk pemerintah harus hadir dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka mendapat informasi akurat hingga bantuan yang sesuai. Remaja harus mengetahui bahwa meminta pertolongan bukanlah sebuah kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Leny mengajak masyarakat menghadirkan lingkungan yang aman bagi remaja untuk bertanya, memperoleh informasi yang benar, mengambil keputusan yang bertanggung jawab, dan tidak ragu mencari pertolongan.
"Remaja yang sehat, bukanlah remaja yang terhindar dari penyakit. Tetapi remaja yang mampu mengenali dirinya, mampu melindungi diri, memiliki relasi yang sehat dan berdaya untuk merencanakan masa depannya," papar Leny.
Keberhasilan edukasi kesehatan reproduksi sejatinya tidak cukup diukur dari banyaknya seminar atau informasi yang disampaikan. Hal yang lebih penting, apakah remaja telah menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Saat remaja mampu memahami tubuhnya, menjaga batasan, menghargai orang lain, dan mengambil keputusan yang tepat, mereka telah memiliki bekal yang baik dalam menghadapi tantangan masa depan. Membicarakan kesehatan reproduksi secara terbuka dan bertanggung jawab, merupakan bagian dari upaya membangun generasi muda yang sehat, mandiri, dan berdaya.