Langsung ke konten
Kesehatan

Foto Menkes Pakai Tabung Oksigen Viral, Kabut Asap Kalteng jadi Alarm Kesehatan

Redaksi
Foto Menkes Budi Gunadi Sadikin menggunakan oksigen saat mengunjungi Rumah Oksigen MDMC di Kalteng menjadi sorotan. Sindiran warga menyoroti dampak kabut asap karhutla. Foto: Dok istimewa X/goldenjk7_
Foto Menkes Budi Gunadi Sadikin menggunakan oksigen saat mengunjungi Rumah Oksigen MDMC di Kalteng menjadi sorotan. Sindiran warga menyoroti dampak kabut asap karhutla. Foto: Dok istimewa X/goldenjk7_

KabarJakarta.com — Foto Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang terlihat menggunakan selang oksigen saat berkunjung ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (23/10), memicu perbincangan di media sosial. Di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), foto tersebut memunculkan narasi bahwa Menteri Kesehatan mengalami sesak napas.

Namun, Kementerian Kesehatan membantah narasi tersebut. Foto itu memang diambil saat Budi melakukan kunjungan kerja, tetapi penggunaan fasilitas oksigen bukan karena dirinya mengalami gangguan pernapasan. Aksi tersebut, menurut Kemenkes, merupakan bagian dari edukasi kepada masyarakat mengenai fasilitas penanganan dampak kabut asap.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menegaskan, informasi yang beredar di media sosial telah memelintir konteks kejadian.

“Menkes sama sekali tidak sesak napas pada saat itu. Terbantu karena menggunakan masker KN95 selama kunjungan berlangsung,” kata Aji, Sabtu (24/10).

Aji menjelaskan, Budi menggunakan fasilitas tersebut untuk menunjukkan keberadaan layanan rumah oksigen sekaligus memastikan masyarakat dapat memanfaatkannya. Kemenkes juga menilai narasi yang beredar mengarah pada DFK, yakni disinformasi, fitnah, dan kebencian.

Meski demikian, identitas akun atau unggahan pertama yang memunculkan narasi tersebut belum terkonfirmasi dalam pemberitaan yang tersedia. Karena itu, asal mula penyebaran informasi tersebut belum dapat dipastikan.

Bukan soal Menkes tapi keselamatan warga

Di balik polemik foto tersebut, persoalan yang lebih mendesak adalah kondisi kesehatan masyarakat yang terpapar asap karhutla. Kunjungan Budi ke Palangka Raya memang ditujukan untuk memeriksa kesiapan layanan kesehatan, termasuk ketersediaan fasilitas oksigen bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan.

Dalam kunjungan itu, Budi mendatangi sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain Puskesmas Menteng, Rumah Oksigen di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bundaran Besar, RSUD dr. Doris Sylvanus, dan Puskesmas Panarung. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan layanan serta mengidentifikasi kebutuhan yang harus segera dipenuhi.

Kemenkes juga mendorong masyarakat mengenali keberadaan Rumah Oksigen milik Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Bus Oksigen milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.

Kedua fasilitas itu penting karena warga terdampak asap tidak selalu memiliki akses cepat terhadap bantuan pernapasan. Rumah oksigen menjadi tempat untuk memperoleh layanan sesuai kebutuhan medis, sedangkan layanan bergerak seperti Bus Oksigen berpotensi mendekatkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah sebelumnya menginformasikan bahwa Rumah Oksigen Gratis disediakan untuk membantu masyarakat yang terdampak kabut asap, termasuk petugas pemadam karhutla. Data pemerintah daerah per 26 September mencatat 75 orang menerima layanan di Rumah Oksigen RTH, sembilan orang di Rumah Oksigen Bundaran Telawang, dan 12 orang melalui layanan kesehatan bergerak.

Angka tersebut menunjukkan bahwa fasilitas oksigen bukan sekadar sarana yang dipamerkan saat kunjungan pejabat. Keberadaannya merupakan bagian dari upaya menghadapi dampak kesehatan akibat karhutla.

Risiko kesehatan meningkat akibat udara buruk

Ancaman kabut asap di Kalimantan Tengah tidak dapat diukur hanya dari jarak pandang atau ketebalan asap yang terlihat. Partikel halus, terutama PM2.5, dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan mencapai paru-paru. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat memperburuk asma, memicu batuk dan sesak napas, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan kardiovaskular.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru termasuk kelompok yang lebih rentan.

Gambaran serius kondisi udara di wilayah ini terlihat dari laporan pemerintah daerah pada awal Oktober. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) untuk parameter PM2.5, konsentrasi partikel di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah dilaporkan melampaui angka 300, bahkan pada waktu tertentu menembus 1.000. Angka tersebut menunjukkan kondisi yang sangat mengkhawatirkan apabila merujuk pada pembacaan ISPU.

Sementara itu, prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk Palangka Raya pada Minggu (25/10) masih mencantumkan kondisi udara kabur di sejumlah kecamatan. Informasi itu menunjukkan bahwa gangguan atmosfer masih menjadi perhatian, meskipun prakiraan cuaca tidak dapat menggantikan pengukuran kualitas udara secara langsung.

Angka ISPU dapat berubah menurut waktu, lokasi, kondisi angin, dan perkembangan kebakaran. Karena itu, tingkat pencemaran terkini perlu diperiksa melalui data pemantauan resmi yang diperbarui, bukan hanya berdasarkan foto atau unggahan media sosial.

Waspada informasi yang memelintir fakta

Di tengah situasi tersebut, penyebaran informasi yang tidak utuh berisiko mengalihkan perhatian publik dari persoalan utama. Foto yang memperlihatkan seseorang menggunakan oksigen tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa orang tersebut mengalami sesak napas. Konteks pengambilan foto, keterangan pihak terkait, dan bukti pendukung perlu diperiksa sebelum kesimpulan ditarik.

Masyarakat dapat memeriksa informasi melalui kanal resmi Kemenkes, pemerintah daerah, BMKG, dan sumber berita yang memiliki proses verifikasi. Jika menemukan unggahan yang meragukan, publik sebaiknya tidak langsung membagikannya, terutama ketika informasi tersebut berpotensi menimbulkan kepanikan atau membangun tuduhan tanpa bukti.

Kemenkes mengingatkan masyarakat agar tidak terprovokasi oleh narasi yang memelintir fakta. “Mari kita fokus pada upaya bersama melindungi kesehatan warga terdampak karhutla. Mari pastikan, mereka mendapatkan layanan kesehatan yang dibutuhkan,” kata Aji.

Peringatan itu relevan, tetapi kehati-hatian terhadap disinformasi tidak boleh membuat persoalan kabut asap kehilangan perhatian. Pemerintah tetap perlu menyampaikan data kualitas udara secara terbuka, memastikan fasilitas kesehatan berfungsi, dan menjelaskan akses layanan oksigen kepada masyarakat.

Bagi warga Palangka Raya dan wilayah terdampak lainnya, langkah perlindungan juga perlu dilakukan segera: membatasi aktivitas luar ruangan ketika polusi tinggi, menggunakan masker KN95 saat harus keluar, serta mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas atau keluhan yang memburuk.

Foto Budi Gunadi Sadikin dengan selang oksigen seharusnya menjadi pintu masuk untuk membicarakan kesiapan layanan kesehatan, bukan sekadar bahan spekulasi tentang kondisi pribadi seorang pejabat. Di tengah ancaman karhutla, ukuran keberhasilan penanganan bukanlah seberapa ramai sebuah foto diperbincangkan, melainkan seberapa cepat warga memperoleh udara yang lebih bersih, informasi yang dapat dipercaya, dan layanan kesehatan yang mereka butuhkan.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua