Langsung ke konten
Kesehatan

HerLens Kembangkan Skrining Kanker Serviks Berbasis AI, Menjangkau Perempuan di Pelosok

Redaksi
CEO HerLens Jihan Alfiyyah berbicara dalam konferensi pers "Unlock Her Future 2026" di Suzhou, provinsi Jiangsu, Kamis (22/10). Foto: ANTARA
CEO HerLens Jihan Alfiyyah berbicara dalam konferensi pers "Unlock Her Future 2026" di Suzhou, provinsi Jiangsu, Kamis (22/10). Foto: ANTARA

KabarJakarta.com — Bagi perempuan yang tinggal jauh dari rumah sakit besar, pemeriksaan kanker serviks tidak selalu mudah dilakukan. Keterbatasan alat medis, minimnya dokter spesialis, hingga biaya pemeriksaan menjadi hambatan yang membuat deteksi dini belum menjangkau semua kalangan.

Persoalan inilah yang ingin dijawab HerLens, perusahaan rintisan yang dikembangkan oleh tim mahasiswa lintas disiplin Universitas Indonesia (UI) sejak 2024. Melalui perangkat pemeriksaan portabel dan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), mereka berupaya membawa skrining kanker serviks lebih dekat ke fasilitas kesehatan tingkat pertama.

"Kami sedang kembangkan perangkat portabel untuk memeriksa kanker serviks yang bisa digunakan oleh dokter umum dan bidan. Sehingga pemeriksaan itu menjadi lebih terjangkau, lebih mudah diakses, dan tersedia untuk semua orang," kata Jihan Alfiyyah, salah satu pendiri sekaligus CEO HerLens di Suzhou, Provinsi Jiangsu, China, Kamis (22/10).

Lulusan Teknik Biomedik Fakultas Teknik UI itu melihat persoalan deteksi kanker serviks bukan semata-mata berkaitan dengan kemampuan teknologi medis, melainkan juga distribusi layanan kesehatan yang belum merata.

Indonesia memiliki wilayah yang luas dengan kondisi fasilitas kesehatan yang berbeda-beda. Di sejumlah daerah, masyarakat lebih mudah menjangkau klinik kecil atau puskesmas daripada rumah sakit yang memiliki peralatan pemeriksaan canggih dan dokter spesialis.

"Fasilitas kesehatan yang dekat dengan tempat tinggal warga umumnya klinik-klinik kecil yang tidak memiliki teknologi canggih, peralatan laboratorium, ataupun dokter spesialis. Di sana biasanya hanya ada bidan dan dokter umum," ujar Jihan.

Kondisi tersebut membuat pengembangan alat pemeriksaan yang ringkas dan dapat digunakan tenaga kesehatan umum menjadi penting. Dengan memperluas kemampuan pemeriksaan awal ke fasilitas kesehatan terdekat, perempuan tidak harus selalu pergi ke rumah sakit besar untuk mengakses layanan skrining.

Menghubungkan kamera ponsel dengan AI

HerLens tengah mengembangkan inovasi berbasis AI yang dapat bekerja secara daring dan terintegrasi dengan kamera ponsel pintar. Teknologi itu dirancang untuk membantu proses skrining kanker serviks agar dapat dilakukan lebih mudah oleh tenaga kesehatan di lapangan.

Dalam konsep tersebut, kamera menjadi perangkat untuk mengambil gambar yang diperlukan dalam pemeriksaan, sedangkan sistem AI dikembangkan untuk membantu menganalisis hasil visual tersebut. Integrasi dengan ponsel berpotensi mengurangi ketergantungan pada perangkat pemeriksaan khusus yang mahal dan sulit diperoleh di daerah tertentu.

Sistem daring juga membuka peluang pemrosesan dan dukungan analisis melalui jaringan internet. Jika dikembangkan dan divalidasi dengan baik, pendekatan ini dapat membantu tenaga kesehatan memperoleh informasi awal tanpa harus bergantung sepenuhnya pada keberadaan dokter spesialis di lokasi.

Namun, teknologi tersebut masih dalam tahap pengembangan. Akurasi AI, kemampuan bekerja dalam kondisi lapangan yang beragam, serta kesesuaiannya dengan standar medis perlu dibuktikan melalui pengujian klinis. Hasil skrining juga tidak otomatis menjadi diagnosis kanker. Pasien yang menunjukkan indikasi mencurigakan tetap memerlukan pemeriksaan lanjutan sesuai prosedur medis.

Keunggulan perangkat portabel dan AI pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Biaya operasional, kemudahan penggunaan, ketersediaan internet, pelatihan tenaga kesehatan, dan akses terhadap pemeriksaan lanjutan turut menentukan apakah inovasi tersebut benar-benar dapat memperluas layanan.

Tingginya kasus kanker serviks jadi tantangan

Upaya memperluas deteksi dini menjadi relevan karena beban kanker serviks di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang disampaikan dalam materi mengenai HerLens, Indonesia menempati peringkat ketiga tertinggi di dunia untuk kasus kanker serviks.

Setiap tahun, sekitar 36.000 perempuan Indonesia didiagnosis mengidap penyakit tersebut. Sekitar 21.000 di antaranya meninggal dunia. Berdasarkan angka tersebut, hampir tiga dari lima perempuan yang didiagnosis meninggal akibat penyakit ini.

Angka itu menunjukkan besarnya tantangan dalam pencegahan dan penanganan kanker serviks. Ketika penyakit terlambat diketahui, pilihan penanganan dapat menjadi lebih rumit dan peluang memperoleh manfaat maksimal dari pengobatan bisa berkurang.

Padahal, deteksi dini memungkinkan perubahan prakanker maupun tanda penyakit yang mencurigakan ditemukan lebih awal sehingga dapat ditindaklanjuti. Skrining karena itu perlu didukung bukan hanya oleh ketersediaan alat, tetapi juga edukasi, layanan yang terjangkau, dan sistem rujukan yang memadai.

Bagi Jihan, persoalan ini memiliki kedekatan pribadi. Ia kehilangan ibunya pada 2002 akibat kanker ovarium yang terlambat terdeteksi. Ibunya meninggal sekitar enam bulan setelah dinyatakan positif mengidap kanker tersebut.

Pengalaman itu mendorong Jihan untuk ikut mengembangkan solusi di bidang kesehatan perempuan. Meski kanker ovarium berbeda dari kanker serviks, pengalaman kehilangan anggota keluarga akibat keterlambatan deteksi memperlihatkan pentingnya akses terhadap pemeriksaan dan penanganan yang tepat waktu.

Teknologi perlu berjalan bersama edukasi

Tantangan berikutnya adalah membangun kesadaran perempuan untuk memeriksakan diri. Menurut Jihan, sebagian perempuan yang menjadi sasaran kampanye pemeriksaan di daerah belum bersedia datang jika tidak memperoleh kompensasi tertentu.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, HerLens menjalankan pelatihan dan edukasi dengan membagikan buku kepada pasien serta bekerja sama dengan dokter dan bidan.

Pendekatan itu menunjukkan bahwa menghadirkan alat pemeriksaan saja belum cukup. Rasa takut, kurangnya informasi, dan anggapan bahwa pemeriksaan tidak diperlukan dapat membuat perempuan menunda skrining. Karena itu, edukasi dan pendampingan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dari upaya deteksi dini.

Jihan menjadi salah satu dari tiga finalis asal Indonesia dalam kompetisi kewirausahaan sosial internasional The Unlock Her Future 2026. Perempuan berusia 25 tahun itu mengaku memperoleh pengalaman berharga dari keikutsertaannya dalam ajang tersebut.

"Aku merupakan peserta termuda di sini. Sebenarnya, walau tidak menang hadiahnya, aku sudah menang dengan pengalaman yang bisa ikut terlibat dalam kelompok ini,” papar Jihan.

Bagi HerLens, tantangan sesungguhnya bukan sekadar menghasilkan perangkat pemeriksaan baru. Ukuran keberhasilan inovasi ini adalah kemampuannya membantu tenaga kesehatan melakukan skrining yang andal, menekan hambatan biaya, dan menjangkau perempuan yang selama ini kesulitan memperoleh layanan.

Jika pengembangan teknologi, validasi medis, edukasi, dan sistem rujukan dapat berjalan beriringan, inovasi berbasis AI berpotensi menjadi salah satu jalan untuk memperluas akses deteksi dini kanker serviks di Indonesia.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua