Langsung ke konten
Kesehatan

Lindungi Anak dari Rokok dan Narkoba, Edukasi Harus Dimulai Sejak Dini

Redaksi
Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara memberikan edukasi mengenai bahaya rokok dan narkotika kepada pelajar di SDN 04 Tanjung Priok di Kantor Wali Kota setempat, Senin (19/10/2026). Foto: beritajakarta,
Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara memberikan edukasi mengenai bahaya rokok dan narkotika kepada pelajar di SDN 04 Tanjung Priok di Kantor Wali Kota setempat, Senin (19/10/2026). Foto: beritajakarta,

KabarJakarta.com —  Bagi anak-anak, ajakan mencoba rokok atau zat berbahaya lainnya bisa datang dari lingkungan terdekat, termasuk teman sebaya. Rasa ingin tahu, keinginan untuk diterima dalam pergaulan, hingga anggapan bahwa merokok membuat seseorang terlihat lebih dewasa dapat mendorong mereka mencoba sesuatu yang sebenarnya berisiko bagi kesehatan.

Karena itu, mengenalkan bahaya rokok dan narkotika sejak dini menjadi langkah penting untuk melindungi anak. Bukan sekadar memberi tahu bahwa zat-zat tersebut berbahaya, edukasi juga perlu membekali mereka dengan keberanian untuk menolak ajakan negatif dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat.

Upaya tersebut dilakukan Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Utara melalui kegiatan edukasi kesehatan bagi 30 peserta didik SDN 04 Tanjung Priok. Kegiatan yang berlangsung di Kantor Wali Kota Jakarta Utara pada Senin (19/10) itu diintegrasikan dengan program Pentas Literasi yang rutin diselenggarakan Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Sudin Pusip) Jakarta Utara.

Kepala Sudinkes Jakarta Utara, Murniasi, memberikan pemahaman mengenai bahaya zat adiktif. Menurutnya, pemahaman perlu ditanamkan sejak anak-anak masih berada di bangku sekolah dasar. 

Dengan bekal pengetahuan yang cukup, mereka diharapkan mampu mengenali risiko dan tidak mudah mengikuti pengaruh buruk dari lingkungan sekitar. "Anak-anak harus mampu mengenali risiko ketergantungan akibat rokok dan narkotika sedini mungkin," terang Murniasi.

Berawal dari ingin tahu

Masa kanak-kanak merupakan periode ketika rasa ingin tahu berkembang pesat. Anak-anak cenderung ingin mencoba hal baru, meniru perilaku orang yang mereka kagumi, serta mencari penerimaan dari lingkungan pertemanan. 

Kondisi itu membuat mereka rentan terhadap pengaruh yang belum tentu membawa manfaat. Ketika melihat teman merokok atau menyaksikan kebiasaan tersebut di lingkungan keluarga, sebagian anak mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. 

Pengaruh iklan, tayangan media, serta gambaran bahwa merokok merupakan simbol kedewasaan juga dapat membentuk persepsi yang keliru.

Dalam situasi tertentu, anak mungkin mencoba rokok hanya karena penasaran atau tidak ingin dianggap berbeda dari teman-temannya. Namun, percobaan tersebut tetap memiliki risiko, terutama jika berkembang menjadi kebiasaan berulang.

Rokok mengandung nikotin, zat yang dapat menimbulkan ketergantungan. Pada anak dan remaja, paparan nikotin dapat mengganggu perkembangan otak yang masih berlangsung, termasuk fungsi perhatian, pembelajaran, suasana hati, dan pengendalian impuls. 

Asap rokok juga mengandung berbagai zat berbahaya yang meningkatkan risiko gangguan pernapasan serta penyakit jantung dan kanker dalam jangka panjang.

Risiko penyalahgunaan narkotika pun tidak kalah serius. Dampaknya bergantung pada jenis zat, dosis, dan pola penggunaan, tetapi dapat mencakup gangguan fungsi otak, perubahan perilaku, masalah kesehatan mental, keracunan, hingga ketergantungan. Pada kasus tertentu, penyalahgunaan zat dapat mengancam keselamatan jiwa.

Anak-anak bukan berarti selalu menjadi korban, tetapi mereka memiliki kerentanan khusus karena kemampuan menilai risiko dan mengendalikan dorongan masih berkembang. Keterbatasan informasi, tekanan pergaulan, kurangnya pengawasan, serta minimnya ruang untuk berdiskusi dengan orang dewasa dapat memperbesar kerentanan tersebut.

Keluarga menjadi benteng pertama

Pengetahuan mengenai bahaya rokok dan narkotika perlu disertai pembentukan karakter. Anak tidak cukup hanya mengetahui bahwa suatu zat berbahaya. Mereka juga perlu berlatih menghadapi situasi ketika seseorang menawarkan rokok atau mengajak mencoba narkotika.

Di sinilah peran keluarga menjadi penting. Orang tua dapat membangun komunikasi terbuka, mendengarkan pertanyaan anak tanpa langsung menghakimi, serta menjelaskan risiko zat adiktif dengan bahasa yang sesuai usia. 

Keteladanan juga menentukan. Pesan tentang bahaya merokok akan lebih kuat apabila anak melihat orang dewasa di sekitarnya turut menjaga diri dari kebiasaan tersebut.

Pendidikan agama dapat melengkapi pembentukan karakter melalui penanaman nilai tanggung jawab, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap tubuh sebagai sesuatu yang harus dijaga. Nilai-nilai itu dapat membantu anak mempertimbangkan konsekuensi tindakannya, bukan sekadar mengikuti keinginan sesaat.

Meski demikian, pendekatan yang menakut-nakuti atau mempermalukan anak bukanlah jalan terbaik. Anak perlu merasa aman untuk bercerita ketika menghadapi tekanan pergaulan. 

Mereka juga perlu memahami bahwa meminta pertolongan kepada orang tua, guru, atau orang dewasa tepercaya merupakan tindakan berani, bukan tanda kelemahan.

Murniasi berharap edukasi yang diberikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan disebarluaskan kepada orang lain. Penguatan pendidikan keluarga dan agama juga diperlukan agar anak mampu menolak ajakan negatif dari lingkungan sekitar, termasuk teman sebaya.

Literasi kesehatan bekali anak ambil keputusan

Kolaborasi antara Sudinkes dan Sudin Pusip Jakarta Utara menjadi salah satu cara memperluas pengetahuan anak di luar materi pelajaran sekolah.

Kepala Sudin Pusip Jakarta Utara, Irawan, mengungkapkan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca buku pelajaran, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap berbagai persoalan kehidupan, termasuk kesehatan.

"Literasi tidak hanya terbatas pada buku pelajaran di sekolah, namun mencakup wawasan kehidupan yang luas. Termasuk kesadaran akan pentingnya kesehatan," ungkap Irawan.

Menurut dia, kegiatan terpadu tersebut memberi kesempatan kepada pelajar untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru melalui metode pembelajaran yang menyenangkan. Harapannya, kegiatan semacam ini dapat mendorong anak terus belajar serta mencari informasi yang bermanfaat.

Bagi Zafirah, siswi kelas V SDN 04 Tanjung Priok, materi yang disampaikan membuatnya lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan dan menjauhi zat berbahaya.

"Acaranya seru dan materinya mudah untuk dimengerti. Kami jadi tahu bahwa rokok dan Narkoba sangat berbahaya bagi kesehatan." ujarnya.

Zafirah menambahkan, "Maka, kita harus berani menolaknya dan menjaga kesehatan mulai sekarang."

Pemahaman seperti itulah yang perlu terus diperkuat. Edukasi mengenai rokok dan narkotika tidak cukup dilakukan sekali melalui penyuluhan. 

Sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat perlu menyampaikan pesan yang konsisten sekaligus menciptakan ruang yang aman bagi anak untuk bertanya dan bercerita.

Melindungi anak bukan hanya tentang menjauhkan mereka dari rokok dan narkotika, melainkan juga membangun kemampuan untuk mengenali risiko, menimbang pilihan, dan berani mengatakan tidak. Bekal tersebut penting agar rasa ingin tahu tetap menjadi jalan menuju pengetahuan, bukan pintu masuk menuju ketergantungan.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua