KabarJakarta.com — Bangun dari tempat tidur, menaiki tangga, atau berjalan ke kamar mandi merupakan aktivitas sederhana yang dilakukan setiap hari. Namun, bagi orang berusia di atas 50 tahun dengan tulang yang mulai rapuh, terjatuh saat melakukan kegiatan tersebut dapat berujung pada patah tulang yang serius.
Kondisi demikian bisa terjadi akibat osteoporosis, penyakit yang membuat kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga tulang lebih mudah patah. Masalahnya, osteoporosis sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Seseorang bisa merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa, tanpa menyadari bahwa kekuatan tulangnya terus berkurang hingga patah tulang terjadi.
Dampaknya tidak selalu berhenti pada cedera. Patah tulang panggul, misalnya, dapat membuat lansia kehilangan kemandirian, mengalami kecacatan jangka panjang, bahkan menghadapi peningkatan risiko kematian. Karena itu, osteoporosis perlu diwaspadai sejak awalm jauh sebelum gejala atau komplikasi muncul.
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, dr. Wijaya Johanes Chendra, menjelaskan osteoporosis perlu jadi perhatian mengingat patah tulang akibat kondisi tersebut dipastikan akan menurunkan kualitas hidup, khususnya pada kelompok lanjut usia.
"Secara anatomi dan klinis, insiden patah tulang akibat osteoporosis, paling sering terjadi pada 3 lokasi utama, yakni panggul atau paha atas, tulang belakang dan pergelangan tangan," kata Wijaya dalam keterangannya di Tangerang, Minggu (19/10).
Dari ketiga lokasi tersebut, insiden patah tulang panggul merupakan salah satu komplikasi yang terberat untuk ditangani. Cedera ini dapat membuat seseorang kehilangan kemandirian, mengalami kecacatan jangka panjang, hingga menghadapi peningkatan risiko kematian.
"Aktivitas sederhana yang sebelumnya sangat mungkin dilakukan seorang diri, berpotensi membutuhkan bantuan dari orang lain," katanya.
Sementara itu, terjadinya patah tulang belakang sering kali tidak terdiagnosis. Padahal, kondisi yang dialami pasien bisa menimbulkan nyeri kronis, perubahan postur tubuh (kifosis), hingga penurunan tinggi badan.
"Khusus patah tulang pergelangan tangan sangat mungkin terjadi saat seseorang terjatuh lalu berupaya menahan tubuhnya dengan tangan," ujar dr. Wijaya.
Penanganan patah tulang akibat osteoporosis bergantung pada lokasi dan tingkat keparahan cedera. Patah tulang panggul umumnya memerlukan tindakan operasi untuk memperbaiki atau mengganti bagian-bagian tulang yang telah rusak. Tindakan memang dianjurkan dilakukan sedini mungkin, setelah kondisi pasien dinilai memungkinkan.
Pada peristiwa patah tulang pergelangan tangan, operasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi tulang yang bergeser atau kondisinya sudah tidak stabil. Adapun patah tulang belakang umumnya berhasil ditangani tanpa operasi terlebih dahulu, meskipun tindakan tertentu sangat mungkin diperlukan, utamanya saat nyeri berat menetap atau munculnya gangguan saraf.
"Besarnya dampak osteoporosis mengakibatkan upaya pencegahan perlu dilakukan sebelum patah tulang terjadi," jelasnya.
Secara global, diperkirakan ada lebih dari 500 juta orang yang hidup dengan osteoporosis. Risiko patah tulang akibat kerapuhan tulang terus meningkat seiring pertambahan usia. Sebanyak satu dari 3 (tiga) perempuan dan satu dari 5 (lima) laki-laki berusia di atas 50 tahun diperkirakan mengalami fraktur fragilitas sepanjang hidupnya.
Di Indonesia, persoalan ini menjadi perhatian seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia. Angka osteoporosis bahkan diproyeksikan terus meningkat hingga 135 persen pada tahun 2050.
Proyeksi tersebut memperlihatkan pentingnya upaya menjaga kesehatan tulang sejak dini, bukan hanya ketika seseorang mulai mengalami gangguan gerak atau patah tulang.
Salah satu langkah penting yang bisa dilakukan adalah melakukan aktivitas fisik secara teratur. Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Bernadette Laura, membeberkan pentingnya aktivitas fisik yang akan memberikan beban pada tulang sehingga merangsang proses pembentukan dan pembaruan tulang yang akan membantu mempertahankan kekuatan serta kepadatannya.
Jenis olahraga yang dianjurkan untuk dilakukan di antaranya weight-bearing exercise, seperti berjalan kaki dan naik tangga, termasuk latihan beban. Aktivitas tersebut akan membantu untuk memperkuat otot dan menjaga keseimbangan tubuh sehingga risiko jatuh dapat dikurangi.
"Selain itu, penting mengombinasikan olahraga fleksibilitas untuk mencegah risiko jatuh," terang Bernadette.
Meski demikian, olahraga tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang. Bagi penderita osteoporosis, jenis dan intensitas latihan harus dipilih secara aman dan terstruktur mengingat risiko patah tulangnya lebih tinggi.
"Konsultasi dengan tenaga medis akan membantu menentukan aktivitas yang sesuai," katanya.
Selain menjaga kebugaran, masyarakat perlu mengenali faktor risiko osteoporosis dan menjalani pemeriksaan medis sesuai indikasi. Wijaya mengingatkan pentingnya upaya tersebut menjelang Hari Osteoporosis Sedunia yang diperingati setiap 20 Oktober.
Pencegahan osteoporosis tidak hanya bertujuan menjaga tulang tetap kuat, tetapi juga mempertahankan kemampuan seseorang untuk bergerak dan menjalani kehidupan secara mandiri. Sebab, ketika tulang mulai rapuh, dampaknya bukan sekadar cedera, melainkan juga perubahan besar dalam kualitas hidup.