KabarJakarta.com — Warga Jakarta perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap polusi udara pada Senin (19/10). Meski asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjauh dari wilayah Jabodetabek, konsentrasi partikulat halus PM2.5 masih menjadi perhatian. Polutan berukuran sangat kecil itu dapat masuk ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Data platform pemantau kualitas udara IQAir yang diperbarui pada pukul 02.00 waktu setempat menunjukkan indeks kualitas udara Jakarta mencapai 149 AQI US. Angka ini masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit jantung dan gangguan pernapasan.
Konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 55 mikrogram per meter kubik, atau sekitar 11 kali nilai panduan tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Angka tersebut merupakan hasil pemantauan pada waktu tertentu, sehingga dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, arah angin, dan sumber emisi. Namun, data itu menunjukkan bahwa paparan polusi tetap perlu diperhitungkan dalam aktivitas sehari-hari warga ibu kota.
Pemantauan pemerintah juga memperlihatkan perbedaan kualitas udara antarlokasi. Berdasarkan platform Udara Jakarta, stasiun BMKG di Kemayoran mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 28,5 mikrogram per meter kubik dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) 80 pada pukul 03.00 WIB, Senin. Angka tersebut masuk kategori sedang.
Sementara itu, pengukuran BMKG yang diumumkan pada 17 Oktober menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Kemayoran sempat berkisar 46,7–109,7 mikrogram per meter kubik. Data ISPU di sejumlah titik juga memperlihatkan kondisi yang beragam.
Kebun Jeruk mencatat ISPU 120, Menteng 116, dan Kelapa Gading 103, yang seluruhnya masuk kategori tidak sehat. Sebaliknya, Tanah Abang mencatat 60 dan Marunda 49.
Perbedaan itu menegaskan bahwa kondisi udara Jakarta tidak seragam. Angka dari satu stasiun tidak selalu menggambarkan paparan yang dialami warga di seluruh wilayah. Karena itu, pemantauan kualitas udara di sekitar tempat tinggal maupun lokasi aktivitas menjadi penting sebelum masyarakat berolahraga atau melakukan kegiatan di luar ruangan.
Di tengah kondisi tersebut, BMKG menyatakan asap karhutla yang sempat terpantau melintasi Jawa bagian barat mulai menjauh sejak Sabtu (17/10). Berdasarkan citra satelit, asap sempat memasuki wilayah Jabodetabek pada Jumat (16/10), tetapi tidak berlangsung lama dan tidak berdampak langsung terhadap kualitas udara di permukaan.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengingatkan masyarakat agar tetap mengikuti perkembangan kualitas udara. “Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan terus memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (17/10).
BMKG juga mendeteksi sisa sebaran asap di pesisir barat Banten pada ketinggian sekitar 3–5,4 kilometer. Ini menunjukkan, keberadaan asap di lapisan atmosfer tersebut tidak serta-merta menjelaskan tingginya polusi yang terukur di permukaan. Emisi lokal dan kondisi atmosfer tetap perlu diperhitungkan dalam membaca kualitas udara Jakarta.
Untuk mengurangi paparan, masyarakat disarankan membatasi olahraga berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker respirator seperti N95 atau KN95 dapat dipertimbangkan saat harus beraktivitas di luar. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung atau gangguan pernapasan perlu lebih berhati-hati.
Di dalam rumah, warga dapat menutup jendela saat polusi luar meningkat dan menggunakan pemurni udara jika tersedia. Langkah tersebut bukan penyelesaian sumber pencemaran, tetapi dapat membantu mengurangi paparan.
Kondisi udara Jakarta pada Senin ini menunjukkan pentingnya membedakan pergerakan asap karhutla dari polusi yang benar-benar terukur di permukaan. Selama konsentrasi PM2.5 masih tinggi di sejumlah titik, kewaspadaan warga tetap diperlukan, disertai pemantauan rutin dan upaya pengendalian emisi secara berkelanjutan.