KabarJakarta.com — Di balik kehidupan sebuah kampung, tersimpan cerita tentang tradisi, kebiasaan warga, hubungan antargenerasi, hingga perubahan sosial yang membentuk wajah Jakarta. Kisah-kisah tersebut kerap hadir dalam keseharian, tetapi tidak semuanya terdokumentasi dengan baik. Melalui film, pengalaman warga dapat diabadikan sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.
Semangat itulah yang ingin dihadirkan melalui Lomba Kampung Sinema Jakarta Culture Cinema 2026. Program yang digelar Dinas Kebudayaan DKI Jakarta bersama Yayasan Kampung Sinema Budaya ini menjadi salah satu upaya memperluas ruang ekspresi masyarakat untuk merawat dan mengembangkan kebudayaan melalui media kreatif.
Apresiasi terhadap karya para sineas tersebut mencapai puncaknya dalam malam penghargaan atau awarding night di Gedung Kesenian Jakarta, Senin (19/10) malam. Kegiatan itu tidak hanya menjadi ajang pemberian penghargaan, tetapi juga penegasan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya Jakarta.
Asisten Kesejahteraan Rakyat Setda DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, menjelaskan kekayaan budaya dan keberagaman masyarakat merupakan aset yang harus dijaga agar tidak hilang seiring perubahan zaman.
"Jakarta adalah kota yang punya sejarah panjang dengan kekayaan budaya dan keberagaman masyarakat yang luar biasa. Kekayaan itu tidak ternilai sehingga perlu dirawat, didokumentasikan, dikembangkan, dan yang terpenting jangan sampai hilang," ujar Ali.
Menurut Ali, Lomba Kampung Sinema tidak semata-mata berorientasi pada kompetisi pembuatan film pendek. Kegiatan ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menceritakan kehidupan sosial dan budaya di lingkungan mereka melalui sudut pandang sendiri.
Pendekatan tersebut penting karena kebudayaan tidak hanya hidup dalam bangunan bersejarah, pertunjukan seni, atau perayaan tradisional. Kebudayaan juga tumbuh melalui interaksi sehari-hari, kebiasaan warga, nilai gotong royong, serta cara masyarakat menghadapi perubahan di lingkungannya.
Melalui sinema, pengalaman tersebut dapat direkam menjadi cerita yang lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan, termasuk generasi muda. Film juga memungkinkan kisah sebuah kampung menjangkau penonton di luar lingkungan asalnya sehingga kekayaan budaya lokal tidak berhenti sebagai pengalaman komunitas semata.
"Saya berharap kegiatan ini bisa memperkuat kesadaran bahwa setiap kampung punya cerita komunitas, kreativitas, dan warga memiliki kesempatan berkontribusi untuk memajukan kebudayaan," ungkap Ali.
Membuka ruang bagi kreativitas warga
Penyelenggaraan Lomba Kampung Sinema sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mempertemukan kebudayaan dengan perkembangan teknologi dan industri kreatif. Film dipandang memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan, yakni sebagai sarana ekspresi, edukasi, dokumentasi, sekaligus promosi budaya.
Dalam konteks pembangunan kebudayaan, keterlibatan masyarakat menjadi penting karena warga merupakan bagian dari kehidupan budaya itu sendiri. Mereka bukan hanya penerima program pelestarian, melainkan juga pihak yang dapat menentukan cerita, merekam pengalaman, dan memperkenalkan identitas komunitasnya.
Lomba ini turut membuka peluang bagi generasi muda untuk mempelajari keterampilan perfilman, mengembangkan gagasan, serta membangun jejaring dengan pelaku industri kreatif. Dengan demikian, kegiatan kebudayaan dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus pintu masuk bagi lahirnya talenta baru.
Ali berharap penghargaan yang diberikan mampu mendorong para peserta untuk terus meningkatkan kualitas karya dan memperluas kontribusinya terhadap perkembangan seni budaya di Jakarta.
"Teruslah belajar, berinovasi, serta mengembangkan gagasan. Sebab keberhasilan kegiatan tidak hanya diterima oleh mereka yang menjadi juara, tetapi juga tumbuhnya kreativitas masyarakat dan semakin kuat kecintaan terhadap kebudayaan," tuturnya.
Dari cerita lokal menuju panggung dunia
Ketua Yayasan Kampung Sinema, Ade Maulana Sidik, menyampaikan bahwa Jakarta Culture Cinema dirancang sebagai ekosistem pendukung bagi sineas muda. Program ini diharapkan tidak hanya melahirkan film yang memperkuat identitas budaya Jakarta, tetapi juga menghasilkan karya yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
"Malam ini, kami memberi penghargaan tujuh kategori kepada sineas Indonesia maupun internasional," kata Ade.
Jakarta Culture Cinema 2026 menghadirkan tiga program utama, yakni Jakarta Culture Cinema Fund (JCCFund), Jakarta Culture Cinema Fest (JCCFest), dan Bioskop JCC. Ketiganya menjadi bagian dari upaya membangun ruang bagi produksi, apresiasi, dan pemutaran karya sinema.
Keberadaan ekosistem semacam ini penting agar kreativitas tidak berhenti pada proses pembuatan film atau seremoni penghargaan. Karya yang lahir juga membutuhkan kesempatan untuk dipertemukan dengan penonton, dikembangkan melalui jejaring profesional, dan dipromosikan ke pasar yang lebih luas.
Cerita tentang kampung di Jakarta berangkat dari persoalan sederhana, seperti tradisi yang mulai ditinggalkan, perubahan lingkungan, atau hubungan antarwarga. Ketika dikemas dengan kuat, cerita lokal dapat menyampaikan persoalan universal yang dipahami penonton dari berbagai latar belakang.
Pada akhirnya, keberhasilan Lomba Kampung Sinema tidak hanya ditentukan oleh siapa yang membawa pulang penghargaan. Ukuran lainnya, sejauh mana kegiatan mampu mendorong warga mendokumentasikan kebudayaannya, memberi ruang bagi sineas muda untuk berkembang, dan membuat cerita dari kampung-kampung Jakarta terus hidup.
Melalui sinema, kampung tidak sekadar menjadi latar sebuah film. Kampung menjadi ruang tempat identitas dibentuk, pengalaman diwariskan, dan kebudayaan diperkenalkan kepada dunia.