KabarJakarta.com – Tidak semua anak mampu menceritakan masalah yang mereka hadapi. Sebagian memilih diam karena takut disalahkan, malu, atau khawatir tidak dipercaya. Padahal, pengalaman dirundung, dikucilkan, hingga dipermalukan di depan teman sebaya dapat meninggalkan luka psikologis yang tidak selalu terlihat.
Kebutuhan akan ruang aman untuk berbicara inilah yang ingin dijawab Komunitas Teman Jiwa. Mengusung moto Teman untuk Semua, komunitas ini hadir untuk menjangkau berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, pelajar, hingga mahasiswa, sekaligus membangun kepedulian terhadap kesehatan mental dan mencegah perundungan.
Teman Jiwa resmi diluncurkan melalui kegiatan bertajuk Magnificent Journey di Gedung Caping Gunung, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (17/10). Kegiatan tersebut dirangkai dengan pengukuhan pengurus periode 2026–2030 serta gelar wicara interaktif yang menghadirkan praktisi psikologi, figur publik, dan perwakilan pemerintah.
Ketua Dewan Pembina Teman Jiwa, Aldi Dwi Prastianto, menjelaskan komunitas ini dibentuk untuk menyediakan tempat bagi masyarakat yang membutuhkan ruang bercerita, termasuk mereka yang mengalami keresahan batin maupun trauma akibat kekerasan di ruang publik.
"Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam menunjang produktivitas masyarakat, utamanya di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan transformasi Jakarta menuju kota global," paparnya.
Perundungan dan luka tak terlihat
Kehadiran Teman Jiwa menjadi relevan di tengah persoalan kekerasan terhadap anak yang masih ditemukan di lingkungan pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus perundungan di Jakarta kembali menjadi perhatian, termasuk kasus kekerasan di sebuah sekolah di kawasan Simprug, Jakarta Selatan, yang mendapat perhatian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada September 2024. KPAI saat itu mendorong koordinasi lintas instansi serta pendampingan psikososial bagi korban dan pemulihan kondisi psikis anak-anak yang terdampak.
Kasus perundungan yang melibatkan peserta didik SMAN 70 Jakarta juga ditangani pada Desember 2024. Dinas Pendidikan DKI Jakarta menyatakan korban akan memperoleh pendampingan psikologis, sementara sekolah didorong meningkatkan sosialisasi antiperundungan.
Rangkaian kasus tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan sanksi kepada pelaku, tetapi juga membutuhkan pemulihan korban dan pencegahan agar kejadian serupa tidak berulang.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Rany Mauliani, menilai keberadaan komunitas seperti Teman Jiwa penting untuk mendorong keberanian seseorang menyampaikan persoalan yang dihadapinya. Anak-anak dan remaja perlu merasa aman ketika ingin bercerita, tanpa takut diremehkan atau dihakimi.
"Setiap orang berhak didengarkan. Kita tidak akan mengetahui persoalan yang dihadapi seseorang jika ia tidak memiliki ruang untuk berbicara," kata Rany.
Menurutnya, perundungan perlu dicegah sejak dini karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan hubungan sosial, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis korban. Karena itu, lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat harus berperan aktif menciptakan hubungan yang saling menghormati.
Ketua Komunitas Teman Jiwa, Fachrul Rozi, mengungkapkan Magnificent Journey merupakan langkah awal untuk merangkul berbagai kalangan dan menumbuhkan kesadaran bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
"Pengukuhan ini menjadi bentuk komitmen kami dalam menjalankan amanah dan terus mendampingi masyarakat," ujarnya.
Peran pemerintah dan akses konsultasi psikologis
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga memiliki tanggung jawab memperkuat perlindungan dan kesejahteraan anak. Upaya tersebut dilakukan melalui pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan, koordinasi lintas instansi, serta pendampingan psikologis bagi anak yang menjadi korban.
Pemprov DKI juga membentuk satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan untuk periode 2024–2028.
Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Dody Taruna Dwiputra, mengapresiasi kehadiran Teman Jiwa yang dinilai sejalan dengan upaya pemerintah melindungi anak.
"Pembangunan generasi muda, tidak hanya berfokus pada aspek fisik, namun harus memperhatikan kesehatan jiwa dan raganya," katanya.
Pemprov DKI Jakarta juga menyediakan layanan konsultasi psikologis gratis melalui platform PUSPA yang dapat diakses melalui situs puspa.jakarta.go.id. Layanan yang beroperasi pada Senin hingga Jumat itu mencakup konsultasi anak dan keluarga, pranikah dan pernikahan, serta pencegahan dan penanganan masalah terkait narkotika.
Ketersediaan layanan tersebut menjadi salah satu jalur bagi masyarakat untuk memperoleh bantuan profesional. Sebab, ruang bercerita di komunitas dapat menjadi langkah awal, tetapi persoalan yang membutuhkan penanganan psikologis lebih lanjut tetap perlu dirujuk kepada tenaga profesional.
Bijak bermedia sosial, libatkan orang tua
Tantangan kesehatan mental anak juga semakin kompleks di tengah derasnya arus informasi digital. Perundungan tidak lagi terbatas pada lingkungan sekolah atau pertemanan secara langsung.
Ejekan, penghinaan, dan penyebaran konten yang mempermalukan seseorang dapat berlanjut melalui media sosial dan menjangkau lebih banyak orang. Karena itu, edukasi mengenai kesehatan mental perlu berjalan beriringan dengan literasi digital.
Anak-anak dan remaja perlu memahami cara menyaring informasi, menjaga privasi, serta menyadari bahwa komentar dan unggahan di internet dapat berdampak terhadap orang lain.
Rany menekankan tanggung jawab tersebut tidak bisa dibebankan kepada anak semata. Orang tua dan orang dewasa di sekitar mereka perlu hadir untuk membimbing, mengawasi, sekaligus membangun komunikasi yang terbuka.
"Peran aktif orang tua dan orang dewasa di sekitar anak menjadi penyaring utama atas informasi yang diterima si anak," ujarnya.
Senada dengan itu, Dody berharap Teman Jiwa dapat memperluas edukasi dan pendampingan kesehatan mental sekaligus mendorong generasi muda lebih bijak menyaring informasi di media sosial. Bagi Teman Jiwa, upaya mencegah perundungan tidak berhenti pada kampanye atau kegiatan seremonial.
Tantangan berikutnya adalah memastikan anak-anak, pelajar, dan mahasiswa benar-benar memiliki tempat untuk menyampaikan persoalan mereka tanpa rasa takut. Aldi berharap kolaborasi dengan Pemprov DKI Jakarta, kementerian terkait, dan kepolisian terus diperkuat agar upaya pendampingan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
"Keresahan yang tidak tersalurkan bisa berkontribusi terhadap munculnya persoalan sosial," jelasnya.
Pada akhirnya, menciptakan lingkungan yang aman bagi anak bukan hanya tentang menghentikan pelaku perundungan. Upaya itu juga berarti mendengarkan korban, mendampingi pemulihannya, serta memastikan mereka tidak harus menghadapi persoalannya sendirian.
Di situlah Teman Jiwa diharapkan mengambil peran: menjadi ruang bagi setiap orang untuk berani berbicara dan merasa didengarkan.