Langsung ke konten
News

2.400 Pesilat Muda Bertarung, Kejurnas jadi Panggung Pencarian Atlet Potensial

Redaksi
2.400 peserta mengikuti Kejuaraan Jakarta Nasional Pencak Silat 2026 di GOR Ciracas, Jakarta Timur. Kegiatan berlangsung selama tiga hari sejak Jumat (6/12) hingga Minggu (8/11). Foto: beritajakarta
2.400 peserta mengikuti Kejuaraan Jakarta Nasional Pencak Silat 2026 di GOR Ciracas, Jakarta Timur. Kegiatan berlangsung selama tiga hari sejak Jumat (6/12) hingga Minggu (8/11). Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com —  Sebanyak 2.400 pesilat dari 15 provinsi mengikuti Kejuaraan Jakarta Nasional Pencak Silat 2026 di Gelanggang Olahraga (GOR) Ciracas, Jakarta Timur. Berlangsung selama tiga hari, 6–8 November 2026, kejuaraan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi untuk mencari bibit atlet berprestasi, tetapi juga ruang untuk menjaga pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia.

Ribuan peserta yang ambil bagian merupakan pelajar tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), dan sederajat. Mereka datang dari berbagai daerah untuk menguji kemampuan sekaligus mendapatkan pengalaman bertanding dalam kompetisi berskala nasional.

Pembina Jakarta Nasional Pencak Silat 2026, H. Iskandar, menjelaskan kejuaraan tersebut dirancang untuk mengembangkan kemampuan pesilat muda sekaligus memperkuat keberadaan pencak silat sebagai olahraga dan bagian dari identitas bangsa.

"Kejuaraan ini diikuti sebanyak 2.400 peserta dari 15 provinsi. Mereka adalah pelajar SD, SMP, SMA, dan sederajat," kata Iskandar.

Menurut dia, penyelenggaraan kejuaraan ini memiliki tujuan lebih luas daripada sekadar menentukan pemenang. Kompetisi tersebut ingin menghadirkan 4 (empat) aspek utama pencak silat dalam satu kegiatan, yakni bela diri, olahraga, mental spiritual, serta seni budaya.

Keempat aspek itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pencak silat. Sebagai bela diri, pencak silat membekali pesilat dengan kemampuan melindungi diri. Dalam aspek olahraga, latihan dan pertandingan menjadi sarana mengembangkan kekuatan fisik, teknik, kedisiplinan, serta kemampuan bersaing.

Sementara itu, aspek mental spiritual berkaitan dengan pembentukan karakter, pengendalian diri, penghormatan kepada orang lain, dan sikap sportif. Adapun unsur seni budaya terlihat dari gerakan, jurus, serta tradisi yang diwariskan melalui berbagai perguruan pencak silat.

Karena itu, Iskandar menilai pengembangan pencak silat tidak boleh hanya berorientasi pada prestasi pertandingan. Nilai tradisi harus tetap dipertahankan agar pencak silat tidak kehilangan karakter aslinya di tengah perkembangan olahraga modern.

Menurutnya, tradisi merupakan salah satu pembeda pencak silat Indonesia dengan cabang bela diri lainnya. Jika hanya mengejar prestasi dan kemenangan, unsur budaya yang membentuk identitas pencak silat berisiko semakin terpinggirkan.

"Tradisinya nggak boleh ditinggalkan. Karena pencak silat budaya asli Indonesia yang harus dikembangkan, baik di dalam negeri maupun didorong ke luar negeri. Sehingga menjadi karakter dan identitas pencak silat Indonesia di tingkat global," ujarnya.

Kompetisi dalam 3 kategori

Untuk mengakomodasi kemampuan dan tujuan peserta yang beragam, panitia membagi pertandingan ke dalam tiga kategori, yaitu jalur prestasi, pemasalan, dan tradisi.

Adapun nomor yang dipertandingkan meliputi seni tradisi, tanding, tunggal, ganda, dan regu. Pembagian tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk menunjukkan kemampuan sesuai bidang yang ditekuni, baik dalam pertandingan fisik maupun penampilan seni pencak silat.

Ketua Panitia Jakarta Nasional Pencak Silat 2026, Anita, menjelaskan kejuaraan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya. Penyelenggaraannya dimaksudkan untuk menyediakan ruang bagi para pencinta pencak silat dalam mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan.

Dengan adanya kompetisi yang melibatkan peserta dari berbagai daerah dan jenjang pendidikan, para pesilat muda diharapkan memperoleh pengalaman bertanding sekaligus kesempatan mengukur kemampuan mereka.

Panitia juga menerapkan sistem penilaian digital untuk menjaga transparansi pertandingan. Melalui sistem tersebut, peserta dapat melihat hasil penilaian secara langsung sehingga proses kompetisi diharapkan berlangsung lebih terbuka.

"Untuk menjaga transparansi pertandingan, kami juga menerapkan sistem penilaian versi digital. Sehingga peserta bisa melihat hasil penilaian secara langsung," kata Anita.

Peserta yang berhasil meraih juara akan mendapatkan sertifikat, medali, piala, serta uang pembinaan. Penghargaan tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para pesilat untuk terus meningkatkan kemampuan dan prestasi.

Jaring atlet potensial dari daerah

Kejuaraan ini diikuti atlet dari 15 provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Papua, Banten, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, Jambi, Nusa Tenggara Barat, Bali, Lampung, Sumatera Selatan, dan Riau.

Sekretaris Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Provinsi DKI Jakarta, Wahyu Supriatna, mengapresiasi penyelenggaraan kejuaraan yang mampu menarik ribuan peserta tersebut. Kompetisi seperti ini menjadi salah satu sarana untuk menemukan pesilat muda yang memiliki potensi dan kemampuan untuk dikembangkan menjadi atlet berprestasi.

IPSI DKI Jakarta juga melakukan pemantauan terhadap peserta selama pertandingan berlangsung. Pengamatan tidak hanya dilakukan terhadap pesilat yang berhasil meraih juara, tetapi juga mereka yang menunjukkan bakat dan peluang untuk berkembang.

Wahyu menilai, kejuaraan terbuka dapat menjadi salah satu jalur pembinaan atlet sebelum mereka mendapatkan kesempatan mengikuti pemusatan latihan daerah maupun tingkat nasional.

Melalui penyelenggaraan Jakarta Nasional Pencak Silat 2026, diharapkan semakin banyak pesilat muda memperoleh kesempatan mengikuti kompetisi secara berjenjang. Mereka juga diharapkan mampu membawa nama perguruan dan daerah masing-masing hingga mewakili Indonesia di tingkat internasional.

Panitia berharap kejuaraan ini dapat terus diselenggarakan dengan kualitas dan jumlah peserta yang semakin meningkat pada tahun-tahun mendatang. Dengan demikian, pencak silat tidak hanya berkembang sebagai cabang olahraga prestasi, tetapi juga tetap hidup sebagai warisan budaya yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua