KabarJakarta.com - Selama dua bulan berkuasa di DKI Jakarta, Heru Budi Hartono disebut banyak dipengaruhi bisikan Istana Kepresidenan. Kecurigaan itu dikaitkan dengan berbagai kebijakan yang dibuat Heru Budi.
Anggota Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta Syarif menilai banyak kebijakan Heru Budi yang diambil usai mendapat bisikan dari Istana Negara.
“Masukan dari Istana ada. Politis tidak bisa dibantah, sangat kuat,” kata Syarif, Jumat (16/12/2022).
Walau demikian, Syarif menyebut hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Sebab, Heru Budi merupakan Penjabat (Pj) Gubernur DKI yang ditunjuk langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Eks Wali Kota Jakarta Utara ini pun diberi target untuk mengatasi sejumlah masalah yang selama ini belum bisa diselesaikan Anies.
“Tidak bisa dilepaskan politis, tapi enggak tahu apakah politik untuk negara atau kelompok. Kalau untuk sekelompok negara, cenderung politik aji mumpung, tapi saya belum lihat Pak Heru ke arah itu. Jadi harus fair,” ujarnya.
Terkait perombakan jabatan seperti digesernya Marullah Matali dari jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) DKI menjadi Deputi Gubernur DKI, dia menilai hal itu sebagai suatu yang wajar. Sebab, kata Syarif, setiap pemimpin pasti punya arah kebijakan yang berbeda-beda sehingga penyesuaian wajar terjadi.
Dia menyatakan tidak setuju bila ada pihak yang menuduh Heru Budi ingin menghapus jejak Anies di Jakarta.
“Kebijakan yang dibuat Heru Budi masih wajar. Jadi, kalau ada yang menuduh ingin menghapus jejak Anies, terlalu cepat,” pungkasnya.