KabarJakarta.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut, jumlah kematian anak usia di bawah lima tahun (balita) akibat Covid-19 varian Omicron berkisar 3 persen dari total 1.090 pasien yang meninggal di Indonesia.
“Sebanyak 3 persen yang meninggal akibat Omicron adalah balita usia 0-5 tahun,” kata Juru Bicara Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi.
Nadia menyebutkan, 3 persen tersebut atau setara 33 jiwa pasien itu merupakan hasil rekapitulasi kasus yang dihimpun Kemenkes pada Minggu (20/2/2022).
Katanya, untuk melindungi kelompok balita dari risiko sakit akibat Covid-19, dapat dilakukan dengan vaksinasi bagi kelompok dewasa di sekitarnya, serta memperketat protokol kesehatan (prokes).
Terungkap, dari total 1.090 pasien Covid-19 varian Omicron yang meninggal, sebanyak 68 persen di antaranya belum memperoleh vaksinasi Covid-19, baik dosis pertama maupun lengkap.
Data Kemenkes juga menunjukkan hampir 80 persen pasien Omicron yang meninggal berusia 45 tahun ke atas. “76 persen usianya lebih dari 45 tahun, 49 persen masuk golongan lanjut usia, dan 48 persen memiliki komorbid,” paparnya.
Cegah penularan Omicron kepada anak
Sementara itu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan ruang penularan ke balita demi mencegah bertambahnya kasus kematian akibat Covid-19 di kalangan balita.
Kata Wiku, orang tua dan keluarga merupakan pihak utama yang harus bertanggung jawab atas keselamatan balita di lingkungan tempat tinggalnya.
“Bagi yang mobilitasnya tinggi di luar rumah, hindari interaksi dengan balita. Hindari membawa balita ke lokasi dengan risiko penularan yang tinggi seperti tempat keramaian,” ucap Wiku.
Wiku menjelaskan, infeksi Covid-19 varian Omicron cenderung bergejala ringan hingga tanpa gejala, sehingga terdapat ancaman OTG (Orang Tanpa Gejala) yang dapat menulari sekitarnya, yang bukan tidak mungkin adalah balita.
Dia menegaskan, anak-anak termasuk balita merupakan kelompok rentan terpapar virus Covid-19, apalagi belum tersedia vaksin yang dapat digunakan pada kelompok usia tersebut.
“Terlebih balita juga membutuhkan perawatan yang berbeda dari orang dewasa, misalnya balita membutuhkan fasiulitas NICU dan PICU yang ketersediaannya dapat berbeda-beda di tiap wilayah,” tuturnya.
Oleh karena itu, Wiku meminta kepada orang tua dan keluarga balita untuk disiplin menjalankan prokes, serta bersedia divaksinasi demi melindungi balita yang belum dapat divaksinasi.
“Kasus kematian karena Covid-19 yang terjadi pada balita merupakan salah satu contoh betapa keselamatan kelompok rentan sungguh bergantung pada tanggung jawab bersama dari orang-orang di sekitarnya,” pungas Wiku.
Jumlah Kasus Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia
Kasus harian Covid-19 di Indonesia masih fluktuatif dalam sepekan terakhir. Begitu pula dengan angka kematian akibat Covid-19.
Hingga Minggu (20/2), pemerintah melaporkan ada 48.484 kasus baru dalam sehari, sehingga total kasus Covid-19 di Indonesia kini ada 5.197.505. Sementara, saat ini kasus kematian secara kumulatif ada 146.365 kasus.
Sejak 10 hari terakhir, angka kematian terus berada di atas angka 100 hingga naik menjadi lebih 200 kematian sehari pada 17-18 Februari 2022.
Berikut data kematian akibat Covid-19:
- 11 Februari: 100 kasus
- 12 Februari: 107 kasus
- 13 Februari: 111 kasus
- 14 Februari: 145 kasus
- 15 Februari: 134 kasus
- 16 Februari: 167 kasus
- 17 Februari: 208 kasus
- 18 Februari: 216 kasus
- 19 Februari: 158 kasus
- 20 Februari: 163 kasus
Pemerintah juga melaporkan penambahan kasus sembuh sebanyak 32.873 dalam sehari, sehingga total kasus sembuh hingga kini mencapai 4.514.782. (SI)