Langsung ke konten
News

Anies Mulai Sibuk Mempersiapkan Diri Menjadi Capres 2024

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KabarJakarta.com -- Masa jabatan Anies Rasyid Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta akan berakhir Oktober 2022 mendatang. Menyadari itu, Anies mulai menyibukkan diri melakukan pencitraan sebagai calon Presiden di Pilpres 2024.

Belakangan in, Anies mulai melakukan kerja-kerja politik. Ia sempat hadir di program komedi TV ‘Lapor Pak!’, walau pada akhirnya ia menjadi bahan rostingan komedian Kiky Saputri.

Kemuncuan Anies di ‘Lapor Pak!’ menjadi pergunjingan banyak kalangan. Sebagian kalangan menilai positif, Anies telah membuktikan bahwa dirinya tidak antikritik. Kemudian, Anies juga sempat sowan ke Malang untuk bertemu dengan Ketua PWNU Jawa Timur, Marzuki Mustamar.

Analisis politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno menganggap kunjungan-kunjungan itu wajar bila ditafsirkan sebagai langkah politik demi meningkatkan elektabiitas dan popularitas Anies jelang Pilpres 2024.

“Anies sedang memoles reputasinya agar terlihat lebih pro keberagaman. Kunjungang ke PWNU Jawa Timur, misalnya, merupakan hasil kalkulasi politik yang matang karena selama ini Anies dianggap hanya mewakili basis pemilihan di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu yang sarat politik identitas,” kata Adi Prayitno, Rabu (17/11/2021).

Menurutnya, basis NU selama ini punya mazhab yang agak berbeda dengan basis pemilih Anies di Jakarta. Kelompok Nahdliyin agak susah menerima Anies karena mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu terlampau dekat dengan kelompok-kelompok yang dianggap tidak pluralisme.

Selain itu, beberapa terakhir ini Anies Baswedan lebih sering bicara soal kebangsaan, contohnya pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2021 lalu. Ia mengulas filosofi Bhinneka Tunggal Ika ketika membuka Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia VII di Jakarta pekan lalu.

Adi beranggapan, hal itu selaras dengan kebutuhan Anies memperluas basis dukungan. Jika hanya mengandalkan basis pemilihnya di Jakarta 2017 lalu, sulit baginya mendapat dukungan di Pilpres 2024. Terlebih, saingannya saat ini adalah nama-nama besar, seperti Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang dinilai tak mempresentasikan kelompok eksklusif tertentu.

“Anies ingin menghilangkan kesan bahwa dirinya hanya mewakili kelompok Islam tertent saja. Dia juga ingin terlihat nasionalis seperti kandidat capres lainnya, makanya ia meresmikan gereja, bertemu dengan PWN Jawa Timur. Pasti dia sudah hitung untung ruginya,” imbuhnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua