KabarJakarta.com -- Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan menilai seringnya terjadi kecelakaan bus TransJakarta beberapa pekan terakhir ini tidak terlepas karena direksinya diisi orang-orang bermasalah.
Sebab, sederet kecelakaan bus TransJakarta tersebut dipicu faktor kelalain atau human error.
“Di dalam tubuh manajemen TransJakrta ini banyak orang-orang bermasalah. Kalau mereka tidak bermasalah tidak mungkin terjadi kecelakaan beruntun seperti sekarang ini,” kata Azas Tigor Nainggolan, Jumat (3/12/2021).
Menurutnya, kecelakaan yang terjadi belakangan ini disebakan oleh salah urus manajemen TransJakarta dalam beberapa tahun terakhir.
“Dan, kecelakaan yang terjadi sekarang ini adalah puncak gunung es akibat salah urus di tubuh manajemen TransJakarta,” ujarnya.
Agar tidak lagi terulang kejadian seperti ini, ia menyarankan Direktur Utama TransJakarta, Moch Yana Aditya yang baru dilantik oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan awal November 2021 lalu untuk segera berbenah diri.
Ia menilai, jajaran direksi yang ada sekarang kurang optimal dalam bekerja. Ia mendesak Yana Aditya untuk mencopot direksi yang tidak bisa bekerja. Dengan begitu diharapkan kesalahan yang dilakukan manajemen sebelumnya tidak terulang kembali di masa kepemimpinannya.
“Tugas utama seorang Direktur Utama TransJakarta yang baru (Yana Aditya) ini untuk membersihkan manajemen dari orang-orang bermasalah yang merusak layanan TransJakarta,” tegas Azas Tigor.
31 orang luka-luka, 2 tewas
Dalam dalam kurun waktu 40 hari, bus TransJakarta kerap bermasalah. Sedikitnya lima kai TransJakarta mengalami kecelakaan di waktu yang sangat singkat tersebut.
Kecelakaan pertama terjadi pada 25 Oktober 2021di Hate Cawang-Ciliwung, Jakarta Timur, dan merupakan yang terparah dari sekian kecelakaan yang terjadi.
Dalam peristiwa ini 30 penumpang menderita luka-luka, mulai dari luka ringan hingga luka berat, bahkan ada yang harus menjalani operasi.
Tak hanya koban luka-luka, pada peristiwa kecelakaan antara bus TransJakarta dengan TransJakarta itu juga meminta korban dua orang tewas, satu di antaranya merupakan supir bis TransJakarta.
Dari hasil pengusutan Polda Metro Jaya, kecelakaan disebabkan penyakit epilepsi yang diderita salah satu sopir bus TransJakarta.
Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Sambodo Purnomo Yougo menjelaskan, kecepatan bus TransJakarta yang dikendarai supir berinisal J tak berkurang saat mendekati halte. Diduga, saat itu epilepsi J kambuh sehingga tidak bisa mengendalikan pedal gas dan rem.
“Hasil pemeriksaan dari pihak kedokteran kepolisian dan juga laboratorium forensik, sopir pengemui bus TransJakarta bernomor polisi B 7749 TK ini punya riwayat penyakit epilepsi,” terang Sambodo.
Empat hari kemudian, tepatnya29 Oktober 2021 pagi, bus TransJakarta kembali mengalami kecelakaan. Bus bernomor polisi B 7719 TGR menabrak beton separator sisi kanan jalan. Kecelakaan tunggal tersebut disebabkan oleh supir yang diduga mengantuk saat berkendara.
“Kejadiannya sekitar pukul 04.00 WIB. Pengakuan pengemudi itu dia ngantuk, jadi nabrak,” jelas angota Kepolisian bernama Aiptu Hartono.
Di tanggal 4 November 2021, bus TransJakarta kembali bermasalah. Kali ini perusahaan BUMD transportasi milik Pemprov DKI itu mengeluarkan kepulan asap putih dari bagian atas bus.
Kepala Public Relation PT TransJakarta saat itu, Iwa Samariansyah menjelaskan bahwa asap yang keluar dari atap berasal dari mesin AC bus.
“Karena sambungan vanbelt putus dan menimbulkan kepulan asap putih” kata Iwan.
Dalam peristiwa itu tidak ada korban jiwa karena penumpang berhasil dievakuasi menggunakan bus TransJakarta lainnya.
Tak lama berselang, Kamis (2/12) kemarin, bus TransJakarta mengalami kecelakaan tunggal di persimpangan Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur, yaitu menabrak pos polisi
Dalam peristiwa tersebut menyebabkan satu orang petugas sterilisasi busway harus dirawta di RS Kramatjati karena mengalami luka serius.
Terbaru, Jumat (3/12/2021) sekitar pukul 12.00 WIB, bus TransJakarta B 7277 TGC menabrak separator di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Diduga peristiwa itu disebahkan karena supirnya tidak konsentrasi saat berkendara.
“Diduga supirnya kurang berhati-hati dan tidak konsentrasi dalam mengemudi sehingga terjadi kecelakaan. Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa, juga tidak ada yang terluka,” kata Kasie Laka Lantas Polda Metro Jaya Kompol Eko Setio Budi.