Langsung ke konten
News

Betawi Punya Cerite! 7 Pasar Pertama yang Berdiri di Jakarta

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KOTA Jakarta memainkan peranan penting bagi Indonesia terutama dalam bidang perekonomian. Ada tujuh pasar yang turut memberikan pengaruh tersebut. Ibarat tubuh, Jakarta bisa disebut sebagai jantungnya ekonomi Indonesia, di mana hampir seluruh perusahaan baik dalam atau luar negeri memiliki pusat operasional di Jakarta.

Selain itu, tingkat konsumsi di Jakarta merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia yang dibuktikan denga nada lebih dari 150 pasar. Hal ini membuat posisinya sangat strategis dalam perekonomian Indonesia. Bahkan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menyebut Jakarta memiliki kontribusi sebanyak 17 persen pada perekonomian nasional.

Pentingnya Jakarta, tidak terjadi saat ini saja, namun sudah dimulai jauh sebelum kota ini bernama Jakarta, mengingat kawasan ini sejak era kerajaan di tatar Sunda sampai masa kedatangan para pendatang Eropa, merupakan bandar yang ramai oleh aktivitas perekonomian.

Akademisi Susan Blackburn dalam bukunya berjudul ‘Jakarta: A History’ yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul ‘Jakarta Sejarah 400 Tahun’, menulis bahwa awal mula Jakarta sebagai kota pelabuhan dapat ditelusuri hingga abad ke-12 atau lebih lama, di mana di kawasan ini berdiri kota bernama Sunda Kalapa yang merupakan pelabuhan Kerajaan Pdjajaran yang bercorak Hindu-Budha.

Setelah Melaka di Pantai Barat Malaya ditaklukan Portugis pada 1511, nilai Sunda Kalapa naik karena meningkatnya kedatangan pedagang Muslim yang memboikot Melaka.

Namun, pada 1527 pelabuhan ini jatuh ke tangan pasukan Kesultanan Banten di bawah komando Fatahillah dan mengganti nama pelabuhan ini menjadi Jayakarta dengan status bawahan Kesultanan Banten.

Meski tidak sebesar Sunda Kalapa, Kota Jayakarta memainkan peranan penting sebagai kota perbekalan, tempat di mana kapal-kapal berlabuh untuk mendapatkan air bersih, kayu untuk perbaikan, dan arak yang diproduksi orang China yang menetap di sana.

Kota ini dipimpin seorang yang bergelar Pangeran Jayakarta dengan otonomi yang besar yang akhirnya menjadi salah satu penyebab jatuhnya kota ini ke tangan Belanda.

Dengan reputasinya dan posisinya yang dekat dengan Selat Malaka dan Selat Sunda, Belanda melalui kongsi dagangnya VOC, mengincar kota ini untuk dijadikan markas besar untuk membangun dan memperbaiki kapal, pangkalan beristirahat dan mengisi perbekalan, tempat menyimpan komoditas, serta pusat administrasi dan militer.

Akhirnya setelah pertikaian dan persaingan rumit antara Jawa (Mataram), Banten, Inggris (EIC), Belanda (VOC) dan Pangeran Jayakarta, pada 30 Mei 1619 Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterzoon Coen membumihanguskan Jayakarta yang berada di sisi Barat sungai Ciliwung dan mendirikan Batavia untuk selanjutnya menjadi pusat kekuasaan VOC di nusantara.

Setelah kedatangan Jepang dan kemerdekaan Indonesia didapatkan, Batavia pun turut berganti nama menjadi Jakarta.

Meski berbagai penguasa silih berganti mengisi perjalanannya, perdagangan di kota Jakarta tidak pernah sepi, bahkan semakin meningkat dan berkembang, dari awalnya hanya terdapat pelabuhan sebagai lokasi bersandar kapal sekaligus transaksi jual beli, hingga berkembang lebih luas ke daerah pedalaman dengan berdirinya berbagai pasar sebagai lokasi perputaran ekonomi bahkan sampai ratusan yang tersebar di seluruh wilayahnya.

Jika dari sejarahnya, tempat perdagangan di Jakarta diduga telah ada sejak wilayah ini dikenal sebagai Kota Sunda Kalapa, meski lokasinya bersamaan dengan pelabuhan sebagai jantung kehidupan kota ini, ataupun dekat dengan pusat pemerintahan.

Ketika itu, sistem jual beli juga tidak seperti yang dikenal saat ini yakni menggunakan sistem campuran dengan menggunakan alat tukar berupa uang, namun mayoritas dengan menggunakan sistem bertukar barang atau barter.

“Kemungkinan itulah yang dilakukan awalnya secara umum, semisal orang dari China membawa hasil produksi kain sutra ditukar dengan hasil bumi seperti lada ataupun lainnya. Meskipun begitu ada juga penggunaan uang kepeng utamanya yang dari China, kemudian ada juga yang dari Eropa seperti Real Portugis, jadi beragam,” kata Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora Universitas Buddhi Dharma, Lilie Suratminto.

Penggunaan uang yang sama sebagai satu-satunya alat tukar yang sah sendiri berdasarkan catatan kolonial, dimulai sejak pasar dengan model seperti yang kita kenal saat ini dibangun oleh VOC di zaman pendudukannya.

Namun saat itu VOC tidak mengizinkan pembukaan pasar setiap hari namun hanya bisa satu hari dibuka satu pasar. Selain persoalan keamanan akibat kerumunan pasar, menurut Lilie, hal ini berkaitan dengan sistem penarikan pajak oleh VOC yang diadaptasi dari kerajaan-kerajaan Jawa yang menggunakan “hari pasaran” sebagai harinya untuk menarik pajak.

“Ini berkaitan dengan pajak, kan di Jawa itu kerajaan menarik pajak dari masyarakat adalah ketika hari pasar dan itu di seluruh daerah, ini diadaptasi, walau seiring perkembangannya akhirnya dibuka setiap hari, awalnya pasar itu dalam seminggu hanya sekali misal Pasar Senen ya Senin, dan seterusnya,” kata salah satu tokoh di Komunitas Toponimi Indonesia (Kotisia) ini.

Tapi, kata Lilie, umumnya hanya ada lima hari yang dijadikan waktu dibukanya pasar yakni Pasar Senin, Pasar Rabu, Pasar Kamis, Pasar Jumat dan Pasar Minggu, karena kepercayaan masyarakat Selasa dan Sabtu tidak diperkenankan melakukan aktivitas perdagangan.

“Namun ya hari Selasa dan Sabtu tetap ada karena pasar kan sumber pajak utama. Dan perdagangan hanya diizinkan dilakukan di pasar,” ucapnya.

Adapun pasar pertama yang didirikan zaman VOC dengan penggunaan sistem jual beli dengan uang, adalah Pasar Senen yang oleh orang Belanda disebut Vinckpasser, dibangun 1735 oleh Justinus Vinck sebagai perancang sekaligus pemilik tanah perkebunan Weltervreden di mana sisi Tenggaranya atau di sisi Selatan Jalan Gunung Sahari menjadi lokasi pasar itu hingga saat ini walau telah berubah bentuk.

Nama Pasar Senen sendiri diduga kuat karena pasar ini hanya dibuka pada setiap Senin, namun pendapat lainnya juga menyebutkan bahwa hal itu karena lokasinya berdampingan dengan lahan milik Meester Cornelis van Senen yang menguasai tanah antara Jatinegara saat ini sampai ke daerah Senen.

Berdasarkan keterangan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, dalam perkembangannya pasar bisa buka pada hari Jumat (1751) dan akhirnya bisa buka setiap hari (1766). Saat tahun 1766, uang sewa ditarik 4.000 ringgit tiap toko dan naik jadi 10.000 ringgit pada 1800.

Seiring berjalannya waktu, Kawasan Pasar Senen terus berkembang dengan di sisi Utara didirikan terminal bus dan di sisi Timur didirikan Stasiun, bangunan pasar sendiri kini memiliki enam blok dengan bangunan permanen terkecuali blok 1-2 yang masih dalam tahap pembangunan baru. Komoditas yang dijual di sini juga semakin beragam dari awalnya memperdagangkan sayuran, menjadi kebutuhan sehari-hari, bahkan saat ini juga dijual pakaian, tas, hingga onderdil kendaraan.

Pasar awal yang dibangun selanjutnya oleh VOC, adalah Pasar Sabtu yang kini bernama Pasar Tanah Abang. Pasar ini dibangun 1735, hampir berbarengan dengan Pasar Senen dengan diarsiteki oleh Yustinus Vinck yang juga pemilik lahan lokasi pasar tersebut berada.

Pasar ini diberi izin oleh Gubernur Jenderal Abraham Patramini sebagai lokasi perdagangan tekstil serta barang kelontong dan hanya boleh buka setiap hari Sabtu. Seiring waktu, pasar ini berkembang dan mampu menyaingi Pasar Senen yang sudah lebih dulu maju dan hari buka pun berubah menjadi setiap hari.

Kini, Pasar Tanah Abang sudah semakin berkembang dan memiliki tiga sektor yakni Tanah Abang Metro, Tanah Abang AURI dan Tanah Abang Lama yang terdiri atas beberapa blok di antaranya Blok A, B serta F, dan dikenal sebagai pusat tekstil terbesar di Asia Tenggara.

Selain dua pasar itu, menurut informasi dari berbagai sumber, Justinus Vinck juga mendirikan sebuah pasar di sebelah Timur Batavia di wilayah yang dikenal dengan nama Koja dan beraktivitas hanya pada hari Selasa.

Namun, menurut Ensiklopedia Jakarta, karena kepercayaan masyarakat hari Selasa dianggap kurang baik untuk berdagang, demi mengatasi mitos tentang hari yang tidak baik, nama pasar Selasa diganti menggunakan nama lokasi pasar tersebut menjadi Pasar Koja yang dikenal sebagai pasar yang menjual emas dengan kualitas bagus selain barang lainnya.

Namun, jejak lokasi dan tahun pembuatan pasar yang awalnya buka pada hari Selasa itu tidak diketahui lagi, bahkan oleh para pedagang yang saat ini berjualan di pasar yang bernama Pasar Koja Baru.

Para pedagang di Pasar Koja Baru, umumnya memiliki cerita bahwa pasar itu merupakan pindahan dari daerah Tanjung Priok (Sampur/Zanvoort) dan tidak mengetahui bahwa di Koja ada pasar yang merupakan Pasar Selasa.

“Menurut para tetua, pasar ini dulunya di Sampur daerah Tanjung Priok yang sekarang menjadi pelabuhan, pindahnya ke sini. Pasar Koja Baru namanya tetap sama. Sebelum Pasar Koja Baru, Pasar Koja namanya. Dari pertama memang Pasar Koja, lalu Pasar Koja Baru. Enggak pernah diganti, (pakai nama hari) enggak ada. Mau ke mana-mana, Pasar Koja Baru ya di sini alamatnya,” kata Ngatini, pedagang baso yang sudah berjualan di lokasi sejak 1998.

Suparni, pedagang soto dan gado-gado di lokasi juga mengungkapkan hal yang sama bahwa lokasi pasar tradisional di Koja Baru awalnya berada di Gang XI Sampur, namun dia tidak mengetahui ada Pasar Koja yang dulu disebut Pasar Selasa.

“Kalau Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Minggu pernah dengar kalau Pasar Selasa emang ada?,” tanya dia.

Pasar selanjutnya yang dibuka di bawah hukum VOC, adalah Pasar Kamis yang lebih dikenal dengan Meester Passer yang kini dikenal sebagai Pasar Jatinegara. Berdasarkan catatan kolonial, pasar ini berdiri di atas lahan milik Meester Cornelis van Senen yang dikembangkan dari pasar di depan Benteng Meester Cornelis sekitar tahun 1770-an.

SZ Hadisujipto dalam buku Sekitar Dua Ratus Tahun Sejarah Jakarta 1750-1945, menulis bahwa lahan yang awalnya menjadi titik mundur Pangeran Jayakarta dan pengikutnya itu setelah jatuhnya Jayakarta, dibeli oleh Meester Corneles van Senen yang merupakan guru agama Kristen kaya raya dari pulau Lontor, Banda. Akhirnya nama tuan tanah tersebut tersemat pada daerah Senen dan Mester di Jatinegara.

Pasar Mester sendiri menjadi pusat perdagangan wilayah Mester yang menjadi kota satelit Batavia waktu itu dengan produk yang datang dari wilayah sekitarnya seperti Bekasi dan Bogor. Kini, pasar yang awalnya hanya di depan gerbang benteng, berkembang sedemikian rupa hingga wilayahnya sebesar satu blok di sisi Selatan Jalan Matraman yang menjual berbagai kebutuhan dari pangan, pakaian, perhiasan, hingga perkakas.

Adapun pasar lainnya yang didirikan se-zaman VOC menurut catatan yang dihimpun, merupakan pasar sekunder yang berada pada tiga jalur perniagaan di Selatan Batavia, yakni Pasar Rebo di jalur timur (Oosternweg), Pasar Jumat di jalur barat (Westernweg), dan Pasar Minggu di jalur tengah (Middenweg) untuk mendukung keberadaan tiga pasar utama yang paling dekat dengan Batavia yakni Pasar Jatinegara, Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang.

Pasar Rabu berdasarkan catatan dalam buku Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Indie yang terbit tahun 1869, didirikan pada 1762 oleh pemilik tanah pertanian partikelir Tandjong Oost yang merupakan pasar swasta. Pasar ini dibuka setiap hari Rabu yang kelak disebut Pasar Rebo.

Namun demikian tidak diketahui dengan jelas siapa pemilik lahan Tandjoeng Oost karena kepemilikannya cenderung bersifat jangka pendek akibat pemilik meninggal atau kembali ke Eropa, namun lahan ini dikabarkan diakuisisi oleh Gubernur Jenderal Jeremias van Riemsdijk (1775-1777).

Seiring perkembangan zaman, Pasar Rabu yang diduga lokasinya berada di daerah bernama Pasar Rebo berada, akhirnya buka setiap hari dengan menjual berbagai macam kebutuhan pangan termasuk sayur dan buah.

Namun secara resmi pasar di sana dipindahkan ke Jalar Raya Bogor menjadi Pasar Induk Kramatjati setelah Indonesia merdeka. Perpindahan pasar ini sendiri ke lokasi Pasar Induk Kramatjati, dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin yang menilai lokasi sebelumnya kurang cocok sebagai aktivitas jual beli.

Saat ini, pasar tersebut semakin berkembang dan menjadi salah satu pasar terbesar di Jakarta dengan barang jual beli utamanya adalah bahan pangan berupa sayur mayur dan buah-buahan.

Pasar Minggu (Tandjoeng West Passer) didirikan seiring dengan perkembangan lahan tersebut menjadi peternakan dan pertanian oleh tuan tanah partikelir. Tidak diketahui pasti kapan pasar ini didirikan dan siapa pendirinya, namun diduga sekitar tahun 1770-an ketika lahan itu mulai berkembang dan hanya dibuka pada hari Minggu yang siring waktu dibuka setiap hari.

Sebelum tahun 1920, lokasi Pasar Minggu (Tanjung Oost Passer) berada di Kampung Lio, pinggir Kali Ciliwung dengan komoditas beras, kebutuhan sehari-hari, sampai pakaian. Lokasi Pasar Minggu pada 1920 dipindahkan ke dekat jalan, yaitu dekat rel kereta api dan berseberangan dengan terminal bus.

Kemudian pada 1930, pemerintah Belanda membangun pasar dengan lantai ubin bertiang besi dan beratap seng. Lokasinya, di terminal bus dan tempat PD Pasar Jaya sekarang ini dengan berbagai komoditas yang dijual.

Pasar pendukung lainnya adalah Pasar Jumat yang awalnya berdiri di lahan partikelir Simplicitas (Pondok Labu) sekitar tahun 1700-an akhir di mana menurut surat kabar Belanda Leydse Courant pada 19 Agustus 1782 menyebutkan bahwa lahan ini bersama lahan lainnya di Weltervreden dan di Tjimanggis dimiliki janda dari Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra, Adriana Johanna Bake.

Namun, lima tahun kemudian Adriana meninggal dunia menyusul putranya Petrus Albertus van der Parra jr yang meninggal lebih dulu, sehingga kepemilikan beralih ke pihak lainnya. Seiring waktu, pasar yang menjual cengkeh, kulit manis hingga kopi ini kinerjanya cenderung menurun.

Akhirnya posisi pasar yang letaknya di jalur awal atara Bogor-Tanah Abang melalui Cinere, bergeser ke wilayah Lebak Bulus seiring dengan pekembangan jalur ekonomi di sisi lahan Simplicitas melalui Pondok Cabe dan Cirendeu, menjadikan pasar ini berada di titik pertemuan dua jalan arteri dari selatan.

Seiring perkembangan waktu, pasar itu menjadi ramai oleh aktivitas perdagangan dengan berbagai komoditas seperti sayuran, buah-buahan, bahan pangan, bahkan buku hingga minyak wangi ditambah dengan keberadaan terminal bus di sana.

Namun pada tahun 2010 pasar di Jalan Lebak Bulus Raya tersebut diratakan karena akan dibangun proyek MRT mulai 2012. Pasar yang dulunya ramai sejak subuh hingga ke bibir jalan oleh pedagang sayur, pemandangan dan suara tawar-menawar dari bangunan-bangunan pasar yang berdiri kini hanya tinggal kenangan dari pedagang kaki lima yang masih berjualan di sana, berganti laju kendaraan dan suara klakson bersahutan.

“Kalau inget masa lalu ya kita ingat enaknya dagang. Sekarang ya mau bagaimana lagi,” kata Riandi penjual gorengan di lokasi yang dulunya dikenal Pasar Jumat.

Pasar memainkan peranan penting dalam perekonomian Jakarta sejak era VOC, kolonial, hingga saat ini bahkan bisa disebut urat nadi perekonomian yang mengiringi sepanjang sejarah kota terbesar ini.

Di era VOC sendiri, pasar-pasar mulai lebih banyak dibangun mengikuti model pasar dengan nama hari tersebut, dan seiring waktu karena kebutuhan yang meningkat dan membanjirnya komoditas perdagangan, pasar dengan nama hari yang telah berdiri lebih dulu akhirnya buka setiap hari.

“Karena kebutuhan masyarakat meningkat dan membanjirnya komoditas dari berbagai tempat terutama akhir masa VOC ketika komoditas milik pribadi pejabat VOC ditebengkan ke kapal VOC ya akhirnya pasar setiap hari, karena butuh segera tersalurkan kan,” kata Lilie.

Perilaku para pejabat VOC yang mencari keuntungan pribadi itu, akhirnya menjadi salah satu penyebab kebangkrutan perusahaan multinasional itu yang kemudian aset dan pengelolaannya diambil oleh Kerajaan Belanda setelah dibubarkan pada 31 Desember 1799.

Meski dikelola oleh kerajaan, namun kebijakan hari pasar tidak pernah diberlakukan lagi, bahkan saat memerintah langsung koloni di Hindia, pihak kerajaan memberi izin pada lebih banyak pasar yang lebih modern untuk berdiri seperti Passer Baroe dan Passer Glodok di mana pasar-pasar pada era ini menjadi inspirasi lahirnya supermarket dan juga mal di Jakarta.

Meski mal dan supermarket menjamur, pasar tidak pernah sepi dan tetap menjadi urat nadi perekonomian di Jakarta bahkan lebih besar lagi.

Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas) Ngadiran menceritakan pasar-pasar di Jakarta memiliki peran penting dalam perekonomian daerah bahkan nasional.

Di mana menurut perkiraannya dari 153 pasar yang dikelola Perumda Pasar Jaya, ditambah sekitar 40 lokasi binaan untuk UMKM di bawah Dinas PPKUKM DKI, terdapat perputaran uang minimal sekitar Rp1,63 triliun per hari.

Hal ini dari rata-rata pedagang di pasar tradisional, lokasi binaan, sampai pedagang kaki lima di luar pasar berjumlah sekitar 816.000, dengan omset rata-rata Rp2 juta.

Dari nilai perputaran uang sebanyak itu, sekitar 30 persennya disumbangkan oleh 13 unit pasar besar, termasuk pasar legendaris seperti Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Jatinegara, Pasar Minggu, Pasar Senen, dan Pasar Tanah Abang.

“Karena juga orang Bogor belanja ke sini, orang Depok belanja ke sini, orang Bekasi bahkan kota yang jauh juga tidak jarang belanja ke Jakarta. Sehingga bisa disebut pasar di Jakarta merupakan Urat Nadinya Perekonomian di Jabodetabek,” tutur dia.

Semakin berkembangnya zaman, pusat-pusat perbelanjaan semakin banyak di Jakarta, nasib pasar yang menyandang nama hari pun ada yang yang akhirnya harus hilang oleh pembangunan kota yang terus bergerak, ada juga yang berganti rupa, namun ada juga pasar yang eksis sejak berdiri bahkan semakin besar dan maju.

Namun yang jelas, pasar dengan nama hari ini sebagai tempat pusat perekonomian dan bersosialisasi masyarakat dari masa ke masa, akan terus tercatat dalam sejarah yang turut membantu perkembangan Jakarta hingga menjadi kota Metropolitan seperti sekarang.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua