KabarJakarta.com -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisila (BMKG) memiliki alat yang memonitoring gempa bumi dan juga tsunami di beberapa daerah di Indonesia. Hal tersebut dipastikan beroperasi dengan baik dan mampu mendukung mitigasi bencana.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memastikan jika ada alat monitoring gempa dan tsunami yang ada di Yogyakarta, Jawa Tengah, Bali, Papua, Maluku, Sulawesi, NTT, NTB, Jatim, Jabar, serta wilayah-wilayah di Sumatera berfungsi dengan baik.
"Alhamdulillah, meskipun batas waktu penggunaannnya rata-rata hanya 10 tahun, sensor-sensor tersebut masih beroperasi dengan baik hingga saat ini dan selalu dikalibrasi secara rutin," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta, Sabtu (5/12), seperti dikutip dari Antara.
Rita sapaan akrab Kepala BMKG mengatakan jika pengecekan alat seiring dengan kegiatan kalibrasi terhadap sensor-sensor seismograf, akselerometer, serta intensitymeter yang telah terpasang dan beroperasi sejak 2009.
Rangkaian perangkat itu berfungsi untuk merekam sinyal gempa bumi dalam sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System - InaTEWS).
Untuk pengamatan yang semakin luas dan akurat, lanjut dia, sebanyak 39 titik di berbagai lokasi di Indonesia segera memiliki alat seismograf.
Dalam kurun 2008 hingga 2018, peringatan dini tsunami disebarkan BMKG ke tengah masyarakat melalui BNPB dan BPBD dengan kecepatan 5 menit setelah guncangan gempa terekam seismograf.
Dengan asumsi tsunami tiba selama 20 menit sejak pertama kali gempa terdeteksi maka tersisa waktu untuk proses evakuasi masyarakat selama 15 menit.