Langsung ke konten
News

Budaya Betawi Bisa Hilang Kalau Pemprov DKI Tidak Mewaspadai Masuknya Budaya Asing

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KabarJakarta.com - Era keterbukaan yang terjadi di dunia saat ini menimbulkan kekhawatiran akan masuknya budaya asing yang bisa mempengaruhi mentalitas generasi muda. Suku Aborigin di Australia merupakan contoh nyata hilangnya kebudayaan asli yang dipengaruhi karena tidak terbendungnya budaya asing.

Jakarta, yang merupakan asal muasal budaya Betawi diharapkan tidak bernasib seperti yang dialami suku Aborigin di Australia yang nyaris punah kebudayaan aslinya.

“Warga Jakarta dan Pemprov DKI memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga kelestarian budaya Betawi. Jangan biarkan budaya asing mendominasi mentalitas generasi muda kita,” ujar anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Sjahrial di sela-sela Sosialisasi Perda (Sosperda) No. 4 tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi kepada Kabarjakarta.com di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur, Selasa (21/6/2022).

Mantan Kepala Dinas Pariwisata (Kadis) DKI Jakarta itu menambahkan, sedikitnya ada 23 kebudayaan yang berada di DKI Jakarta. Namun, kebudayaan Betawi yang merupakan ciri khas Jakarta harus menjadi prioritas untuk dilestarikan. Pemprov DKI, ungkap dia, sudah menganggarkan sebesar Rp5 miliar dalam APBD DKI setiap tahunnya.

“Saat saya menjadi Kadis Pariwisata, Setu Babakan merupakan wadah yang kita gagas menjadi sarana pelestarian kebudayan Betawi. Di sana kita bangun, teater, museum, serta membangun rumah-rumah yang menonjolkan sisi kebudayaan Betawi lewat bangunan rumah yang mengedepankan ornamen Betawi,” papar politisi PDIP ini.

Dia menambahkan, selain pada struktur bangunan, pelestarian budaya Betawi dalam hal kuliner perlu menjadi perhatian.

“Dodol Betawi, Bir Pletok, dan makanan khas Betawi lainya harus dijaga. Jika memungkinkan, Pemprov DKI harus memfasilitasi pengembangan UMKM pengrajin makanan khas Betawi,” pungkasnya.

Di kesempatan yang sama, narasumber Sosperda lainnya, Hendryana mengatakan, masyarakat Betawi sudah ada sejak tahun 1918, dan diakui keberadaannya sejak masuk sensus penduduk pada tahun 1930.

Kata dia, masyarakat Betawi merupakan keturunan yang berasal dari beberapa unsur, seperti Betawi keturunan Sunda, Jawa, Bali, Tionghoa, Arab, dan suku-suku lainnya.

“Meski bisa dikatakan tidak ada orang Betawi murni sekarang ini, tapi seluruh warga Jakarta berkewajiban ikut melestarikan budaya Betawi,” imbuhnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua