Kabar Jakarta.com--Hari ini, Rabu (2/9) tepat enam bulan pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia. Kondisi ini terhitung sejak kasus pertama pasien positif Covid-19 diumumkan oleh pemerintah pada 2 Maret 2020. Hingga kemarin, Indonesia mencatat total 177.571 kasus konfirmasi positif Covid-19.
Kasus itu dapat bertambah lagi saat pemerintah memberikan data terbaru pada Rabu sore ini. Ratusan ribu kasus positif tersebut didapatkan dari hasil pemeriksaan terhadap total sebanyak 2.270.267 spesimen yang berasal dari 1.312.477 orang. Selain itu, jumlah kematian akibat Covid-19 selama enam bulan mencapai 7.505 orang.
Namun, pemerintah juga mencatat sebanyak 128.057 orang telah berhasil sembuh dari Covid-19 selama enam bulan ini. Lalu, seperti apa perjalanan data Covid-19 selama enam bulan pandemi?
Informasi tentang kasus Covid-19 pertama yang terkonfirmasi terjadi di Indonesia diumumkan oleh Presiden Joko Widodo yang didampingi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.
Pengumuman itu dilakukan di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 2 Maret 2020. Saat itu Jokowi mengungkapkan, ada dua orang WNI yang terkonfirmasi positif Covid-19.
Kasus ini terdeteksi setelah seorang warga Jepang dinyatakan terjangkit Covid-19 setelah meninggalkan Indonesia dan tiba di Malaysia. "Orang Jepang ke Indonesia bertemu siapa, ditelusuri dan ketemu.
Ternyata orang yang terkena virus corona berhubungan dengan dua orang, ibu 64 tahun dan putrinya 31 tahun," kata Jokowi.
Setelah itu, kasus- kasus baru Covid-19 pun terus dilaporkan dan mulai mengalami lonjakan.
Hingga 31 Maret, total kasus Covid-19 sudah tercatat sebanyak 1.528 kasus.
Catatan rekor penambahan kasus harian tertinggi Selama enam bulan pandemi Covid-19, pemerintah melaporkan jumlah perkembangan kasus harian secara terus-menerus setiap hari.
Laporan itu terdiri dari penambahan kasus pasien terkonfirmasi positif, pasien yang sembuh, pasien meninggal dunia, jumlah spesimen (uji sampel), jumlah orang diperiksa hingga jumlah suspek Covid-19 yang dicatat dalam kurun waktu 24 jam.
Selain itu, disampaikan pula data Covid-19 dari 34 provinsi di Indonesia.
Dari laporan yang disampaikan melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 maupun Satuan Tugas Penanganan Covid-19, terpantau sejumlah rekor penambahan kasus harian tertinggi. Penambahan kasus positif harian dalam jumlah tinggi terpantau sejak 1 Mei 2020. Saat itu ada 433 penambahan kasus baru Covid-19 dalam waktu 24 jam.
Selanjutnya, pada 9 Mei 2020, tercatat ada 533 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam. Lalu pada 13 Mei tercatat penambahan 689 pasien positif Covid-19 dalam sehari. Pada 21 Mei 2020, terjadi penambahan kasus harian mencapai 973 kasus. Setelah itu, penambahan kasus harian Covid-19 tertinggi tercatat mencapai ribuan dalam sehari.
Salah satunya terjadi pada 2 Juli 2020 yang mana tercatat penambahan 1.624 kasus baru dalam 24 jam.
Kemudian, sepekan setelahnya, penambahan kasus harian bahkan sudah tembus di angka 2.000-an kasus. Tepatnya pada 9 Juli 2020, ada 2.657 kasus baru Covid-19 dalam sehari. Memasuki bulan Agustus, jumlah penambahan kasus harian tertinggi kembali meningkat.
Bahkan, kondisi tersebut terjadi dalam kurun waktu sepekan. Pertama, pada 27 Agustus 2020 tercatat ada 2.719 kasus baru Covid-19 yang terjadi dalam 24 jam. Berikutnya, pada 28 Agustus 2020 tercatat ada 3.003 kasus Covid-19 yang terjadi selama 24 jam.
Terakhir pada 29 Agustus 2020, ada 3.308 kasus baru Covid-19 yang terjadi dalam satu hari. Angka penambahan kasus baru pada 29 Agustus lalu tercatat merupakan yang tertinggi selama enam bulan pandemi.
Catatan jumlah tes Covid-19 Selama enam bulan Pandemi Covid-19, Presiden Joko Widodo tercatat telah memberikan tiga kali instruksi untuk target pemeriksaan Covid-19.
Pemeriksaan yang dimaksud menggunakan spesimen atau sampel yang diambil dari individu kemudian diperiksa dengan metode real time polymarase chain reaction (RT-PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).
Pada Maret, jumlah tes Covid-19 masih berada di bawah angka 10.000 ribu per hari. Saat itu Presiden meminta agar pemeriksaan spesimen bisa terpenuhi sebanyak 10.000 per hari.
Awalnya, target ini sulit terpenuhi. Saat itu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengakui pemeriksaan spesimen hanya berkisar antara 6.000 - 7.000 spesimen per harinya.
Penyebabnya, karena permasalahan terbatasnya sumber daya manusia yang bekerja di laboratorium. Target uji spesimen sebanyak 10.000 per hari baru bisa tercapai pada 27 Mei 2020. Saat itu pemerintah melaksanakan pemeriksaan terhadap 14.313 spesimen Covid-19. Setelah target itu terlampaui, Presiden meminta agar menaikkan target pemeriksaan spesimen sebanyak 20.000 per hari.
Target itu berhasil tercapai pada 18 Juni 2020, dengan 20.650 spesimen berhasil diperiksa dalam sehari. Kemudian, pada Juli, Presiden Joko Widodo kembali meminta jajarannya agar bisa melakukan 30.000 tes per hari.
Target itu bisa terpenuhi pada 29 Juli 2020. Saat itu terdapat 30.261 spesimen dari 17.859 orang yang diperiksa dalam sehari.