Langsung ke konten
News

Demi Jadi Nyapres di 2024, Anies Jaga Jarak dengan Kelompok PA 212

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KabarJakarta.com -- Untuk keduakalinya secara berturut-turut, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak menghadiri acara reuni 212. Banyak pihak yang menilai, Anies sengaja menjaga jarak dengan kelompok Persaudaraan Alumni (PA) 212 demi kepentingan pencalonannya di Pilpres 2024.

Kamis (2/12), sekitar pukul 10.00 WIB, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tersebut memilih menghadiri acara penandatanganan perjanjian kredit pembiayaan bagi pelaku usaha mikro di Balai Agung Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, saat sebagian massa reuni 212 sudah berkumpul di sekitar Patung Kuda.

Setahun sebelumnya, Anies juga tidak hadir di 'event' tahunan tersebut yang digelar secara virtual. Padahal, tahun-tahun sebelumnya Anies selalu hadir di tengah-tengah kelompok massa yang telah mendukungnya pada Pilkada DKI Jakarta pada 2017 silam.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai Anies kini mulai menjaga jarak dengan kelompok Persaudaraan PA 212.

“Anies terlihat mulai menjaga jarak demi kepentingan Pilpres 2024. Jangankan hadir, bahkan tahun ini izin acaranya saja tidak dikasih,” kata Ujang, Jumat (3/12/2021).

Meski begitu, ia menilai langkah Anies merupakan langkah politik yang wajar. Sebab, kelompok PA 212 selama ini kerap diidentikkan dengan kelompok Islam garis keras dan bisa merugikan citra Anies Baswedan.

“Kalau dia masih dekat dengan kelompok itu maka akan dituduh radikal oleh lawan politiknya,” jelas Ujang.

“Apalagi, jumlah massa pendukung dan simpatisan PA 212 tidak signifikan untuk kancah politik nasional. Pada 2016 silam, Anies boleh jadi diuntungkan dengan gerakan kelompok itu yang menuntut pesaingnya di Pilkada DKI 2017, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sehingga berhasip dipenjara atas kasus penistaan agama,” lanjutnya.

Namun, kata Ujang lagi, lanskap politik nasional sangat berbeda dengan DKI Jakarta. Oleh karena itu, Anies terpaksa menjaga jarak dengan kelompok yang sudah berjasa membawanya ke kursi empuk Gubernur DKI.

“Kalau ingin jadi capres, ya Anies harus mendapat dukungan dari semua kalangan. Kelompok 212 enggak signifikan,” tuturnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua